PIALA DUNIA 2018

Piala Dunia 2018 banjir gol pada babak kedua dan akhir laga

Penyerang Prancis Kylian Mbappe beraksi saat melawan Kroasia dalam final Piala Dunia 2018 di Moskow, Rusia, Minggu (15/7/2018). Selain mengantar Prancis juara, Mbappe meraih trofi Pemain Muda Terbaik.
Penyerang Prancis Kylian Mbappe beraksi saat melawan Kroasia dalam final Piala Dunia 2018 di Moskow, Rusia, Minggu (15/7/2018). Selain mengantar Prancis juara, Mbappe meraih trofi Pemain Muda Terbaik. | Felipe Trueba /EPA-EFE

Piala Dunia 2018 yang baru usai pada Minggu (15/7/2018) bisa disebut sebagai turnamen sepak bola sejagad yang memiliki catatan istimewa. Di luar kejutan Jerman, Argentina, dan Spanyol yang harus tersingkir dengan cepat; Piala Dunia di Rusia itu justru menghasilkan sejumlah rekor.

Skor 4-2 yang mengantar Prancis juara dunia untuk kedua kali dengan menundukkan Kroasia adalah rekor baru setelah 52 tahun. Terakhir kali enam gol tercipta dalam skor 4-2 pula adalah saat Inggris mengalahkan Jerman (Barat) pada final Piala Dunia 1966. Itu pun tercipta dalam perpanjangan waktu setelah kedua tim bermain 2-2 dalam masa reguler 90 menit.

Sementara Kroasia menjadi tim debutan partai final pertama yang menuai kekalahan dalam 44 tahun terakhir. Sementara Prancis menjadi tim ketiga yang mampu mencetak empat gol pada final Piala Dunia setelah Inggris (1966) dan Brasil (1970).

Piala Dunia 2018 juga tidak kekurangan kehebohan meski fase-fase puncak tidak diikuti oleh tiga eks juara dunia yang sudah disebut di atas atau tim tradisional seperti Italia dan Belanda yang gagal meramaikan pesta di Rusia.

Piala Dunia 2018 jauh dari kesan buruk karena hanya satu laga dari 64 pertandingan yang gagal menghasilkan gol alias 0-0. Kebetulan itu adalah partai grup antara Prancis dan Denmark.

Jadi, minimal ada satu gol dalam setiap pertandingan. Bahkan dalam fase penyisihan grup, minimal ada satu gol per laga adalah rekor baru dalam 64 tahun.

Sementara rerata gol per pertandingan adalah 2,64 gol. Catatan ini hanya kalah dari Piala Dunia 2014 di Brasil. Total gol mencapai 169 gol atau hanya kalah dua gol dari rekor terbanyak 171 gol di Piala Dunia 2014 dan 1998.

Catatan istimewa lain adalah jumlah gol bunuh diri yang jauh lebih banyak atau dua kali lebih banyak dibanding rekor terdahulu; 12 gol. Ini dipengaruhi pula oleh aturan lebih tegas FIFA soal gol bunuh diri (own goal).

Jadi, upaya pada bola yang mengenai pemain lawan dan meluncur ke gawang lawan apapun situasinya akan ditetapkan sebagai gol bunuh diri. Ini bisa dilihat bagaimana FIFA menentukan gol kemenangan 2-1 Prancis atas Australia pada fase grup (16/7).

Upaya Paul Pogba mencetak gol pada menit 81 harus ditentukan melalui teknologi garis gawang (goal line technology). Pogba mengarahkan bola ke gawang, tapi memantul tiang dan tubuh kiper Australia, Aziz Behich, sehingga FIFA menetapkan itu gol bunuh diri.

Gol dari momen tradisional dalam pertandingan masih mendominasi.
Gol dari momen tradisional dalam pertandingan masih mendominasi. | Lokadata /Beritagar.id

Namun, rekor paling nyata adalah jumlah gol dari titik penalti (masa reguler 90 menit). Ada 29 penalti yang ditetapkan wasit dan 22 penalti di antaranya menjadi gol. Jumlah ini jauh lebih banyak dari rekor sebelumnya, 18 gol dari titik putih, yang terjadi pada Piala Dunia 1990, 1998, dan 2002.

Peningkatan jumlah gol melalui titik penalti tak lepas dari penerapan video asisten wasit (Video Assistant Referee/VAR). Insiden handball atau pelanggaran di kotak penalti tak bisa lagi luput dari wasit karena keberadaan VAR.

Lihatlah ketika Prancis mendapatkan gol kedua melalui tembakan penalti Antoine Griezmann pada final kemarin. Wasit Nestor Pitana harus memeriksa VAR lebih dulu untuk menentukan bahwa Ivan Perisic kedapatan handball saat Prancis melepas bola penjuru pada menit 38.

Lantas dari 135 gol yang lahir tanpa gol bunuh diri dan penalti masih didominasi oleh permainan terbuka (open play) alias bukan dari peristiwa bola mati. Bahkan menurut data FIFA yang diolah Lokadata Beritagar.id, 65 persen gol (110) lahir dari dalam kotak penalti atau biasa disebut kotak 16 yard (14,6 meter).

Soal acuan arah kedatangan bola yang menjadi gol, paling banyak ke kiri bawah (50 gol, 29,6 persen). Jadi, arah gol berseberangan dengan kaki kanan yang paling banyak digunakan untuk mencetak gol (83 atau 43 persen).

Bagaimana dengan periode penciptaan gol? Paling banyak adalah pada periode menit 46-60 atau pada babak kedua, 34 gol. Namun, selisihnya dengan periode menit 61-70 hanya 4 gol.

Jadi, rekapitulasi jumlah gol pada babak kedua memang lebih banyak dibanding babak pertama. Pada 45 menit pertama "hanya" ada 46 gol dari permainan normal, tapi pada babak kedua dalam tipe permainan yang sama adalah 86 gol.

Uniknya, gol dari titik penalti lebih sering terjadi pada babak pertama (12 gol) berbanding 10 gol pada babak kedua.

Gol paling banyak terjadi pada babak kedua.
Gol paling banyak terjadi pada babak kedua. | Lokadata /Beritagar.id

Jadi, gol memang lebih banyak tercipta pada babak kedua. Dan kebetulan tren penciptaan gol selama Piala Dunia 2018 adalah pada masa akhir laga.

Salah satunya bisa dilihat saat Belgia nyaris dipermalukan Jepang pada 16 Besar sebelum akhirnya menang dramatis 3-2 meski sempat tertinggal 0-2 hingga menit 59. Belgia mencetak tiga gol pada kurun menit 69-90.

Menurut pelatih Spanyol, Fernando Hierro, Piala Dunia 2018 memang menampilkan banyak perubahan karena kini lebih banyak tim yang fokus pada pertahanan seperti menempatkan lima pemain di ruang pertahanan. Dengan kata lain, lebih banyak tim non-ofensif dalam Piala Dunia 2018 walau tak berarti mereka memainkan strategi bertahan.

Hierro juga menunjukkan banyak bola langsung. Ini bisa dilihat dari aksi kapten dan kiper Prancis Hugo Lloris saat menghadapi Kroasia. Pada babak pertama, Lloris melepas lima operan langsung dari belakang ke depan atau kepada penyerang tunggal Olivier Giroud.

"Banyak pula bola langsung dan transisi yang cepat. Segalanya memang berubah," tutur Hierro dikutip First Post (5/7).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR