SEPAK BOLA

Piala Dunia di 10 negara ASEAN, mungkinkah?

Suporter memberikan dukungan kepada timnas Indonesia yang melawan timnas Timor Leste dalam penyisihan Grup B Piala AFF 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (13/11/2018).
Suporter memberikan dukungan kepada timnas Indonesia yang melawan timnas Timor Leste dalam penyisihan Grup B Piala AFF 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (13/11/2018). | Sigid Kurniawan /Antara Foto

Dua tahun lalu, Indonesia dan Thailand mengumumkan bakal mencalonkan diri bersama untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034. Kini muncul ide besar agar 10 negara anggota Asosiasi Negara Asia Tenggara (ASEAN) berjuang bersama menjadi tuan rumah turnamen terakbar di dunia sepak bola tersebut.

Ide itu diutarakan saat penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Bangkok, Minggu (23/6/2019).

"Para pemimpin telah mendukung kawasan ini menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 2034, jika memungkinkan," kata Perdana Menteri Thailand dan Ketua ASEAN, Prayuth Chan-ocha, dikutip Aljazeera. "Saya mengundang warga ASEAN untuk mendukung asosiasi sepak bola negara mereka guna mewujudkan impian ini."

Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohammad, mendukung rencana tersebut. Katanya, nyaris tak mungkin negara Asia Tenggara jadi tuan rumah kalau berjuang sendiri-sendiri untuk menjadi tuan rumah ajang empat tahunan itu.

"Mungkin, kalau semua ASEAN bersama-sama, kami bisa menyelenggarakan Piala Dunia," kata Mahathir dalam The Star Online.

Ada 10 negara anggota ASEAN, yakni Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Oleh karena itu, kata-kata "jika memungkinkan" menjadi kunci dalam upaya menjadi tuan rumah salah satu ajang olahraga terpopuler di dunia tersebut.

Tuan rumah bersama turnamen empat tahunan itu memang bukan barang baru. Korea Selatan dan Jepang telah memulainya pada 2002 dan pada 2026 nanti akan ada tiga tuan rumah, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Contoh dari ajang lain adalah Piala Eropa, alias Euro. Edisi tahun 2020 turnamen itu akan diselenggarakan di 12 kota yang tersebar di 12 negara Eropa.

Kawasan Asia Tenggara juga memiliki beberapa keunggulan yang bisa menjadi pertimbangan. Utamanya, banyak penggemar sepak bola di daerah yang total dihuni lebih dari 600 juta penduduk ini. Setidaknya setiap negara ASEAN memiliki satu stadion bertaraf internasional dengan kapasitas penonton besar.

Pendukung timnas Thailand menyaksikan pertandingan Piala Suzuki AFC antara Thailand melawan Myanmar di Stadion Thuwanna, Yangon, Myanmar (4/12/2016).
Pendukung timnas Thailand menyaksikan pertandingan Piala Suzuki AFC antara Thailand melawan Myanmar di Stadion Thuwanna, Yangon, Myanmar (4/12/2016). | Nyein Chan Naing /EPA

Ada sedikitnya empat bandara besar--di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Singapura--yang bisa menjadi hub bagi para penonton yang datang. Tim-tim juga takkan kesulitan berpindah kota untuk bertanding.

Tempat-tempat wisata indah yang banyak tersebar juga bisa menjadi daya tarik bagi para penonton dari seluruh penjuru dunia. Jadi, mereka tak sekadar datang untuk menyaksikan pertandingan.

Karena turisme menjadi salah satu penghasilan utama negara-negara ASEAN, warga tak perlu lagi belajar untuk melayani para tamu.

Oleh sebab itu, soal infrastruktur pendukung penyelenggaraan Piala Dunia di Asia Tenggara tampaknya tak bakal menjadi masalah besar.

Biaya penyelenggaraan pun takkan menjadi beban yang terlalu berat karena dibagi ke 10 negara.

Penghalang utama impian ini adalah jatah tuan rumah di putaran final. Kalau tuan rumah hanya satu, dua, atau tiga seperti pada Piala Dunia 2026 nanti, hal tersebut tidak menjadi masalah. Apalagi mulai 2026, putaran final Piala Dunia akan diikuti oleh 48 negara, bertambah dari 32 tim yang diikuti saat ini.

Memang rencana ini masih dalam tahap awal dan belum dibahas apakah seluruh 10 negara ASEAN akan menyelenggarakan pertandingan atau tidak. Namun bisa dipastikan badan sepak bola dunia, FIFA, takkan meloloskan seluruh 10 negara itu langsung ke putaran final.

Jatah Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) di putaran final mulai Piala Dunia 2026 memang bertambah jadi 8 negara. Akan tetapi jelas tak mungkin semua diberikan kepada negara ASEAN tanpa kualifikasi. Negara-negara Asia lainnya bakal protes dan tak bakal mendukung saat pemungutan suara penentuan tuan rumah dilakukan.

Apalagi, belum pernah ada negara Asia Tenggara yang lolos ke putaran final sejak Hindia Belanda (kini Indonesia) pada Piala Dunia perdana di Uruguay tahun 1930. Sehingga kualitas turnamen jadi diragukan jika terlalu banyak memberi tiket gratis bagi negara Asia Tenggara.

Oleh karena itu, perlu dipikirkan bagaimana cara terbaik membagi jatah di putaran final bagi negara-negara ASEAN, sehingga tak malah memicu konflik.

Ada beberapa ide yang bisa dibahas. Jatah otomatis ke putaran final bisa saja diberikan kepada dua atau tiga negara dengan peringkat tertinggi di FIFA pada periode tertentu. Atau diadakan turnamen khusus negara ASEAN untuk menentukan wakil di putaran final. Turnamen AFF Suzuki Cup mungkin bisa dijadikan sebagai ajang seleksi.

Ide yang paling gila mungkin adalah membentuk satu tim ASEAN yang diperkuat gabungan pemain-pemain terbaik dari 10 negara anggota. Agar adil, pelatihnya bisa dipilih dari luar kawasan.

Masalah berikutnya adalah ada kemungkinan ASEAN akan berhadapan dengan Tiongkok. Raksasa Asia itu dikabarkan bakal ikut mencalonkan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030, tetapi pencalonan itu hanya jadi ajang "latihan" sebelum serius bertarung jadi tuan rumah Piala Dunia 2034.

Jadi, ASEAN bakal menghadapi perjuangan yang amat berat untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034, meski bukan sebuah kemustahilan. Masih ada waktu 15 tahun untuk menyiapkan dan memikirkan segalanya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR