PRANCIS TERBUKA 2018

Piala ke-11 untuk Raja Roland Garros

Rafael Nadal menangis saat memeluk piala juara tunggal putra Prancis Terbuka 2018 usai laga final di Roland Garros, Paris,, Minggu (10/6/2018).
Rafael Nadal menangis saat memeluk piala juara tunggal putra Prancis Terbuka 2018 usai laga final di Roland Garros, Paris,, Minggu (10/6/2018). | Yoan Valat /EPA-EFE

"Undecima". Kata dalam bahasa Spanyol itu sepertinya kini makin dikenal banyak orang, terutama para penggemar tenis. Artinya 11, sesuai jumlah piala tunggal putra Prancis Terbuka yang dimenangi oleh Rafael Nadal, salah satu petenis terhebat yang pernah lahir di Semenanjung Iberia.

Trofi ke-11 tersebut didapat Nadal--akrab disapa Rafa--setelah mengalahkan petenis Austria Dominic Thiem, 6-4, 6-3, 6-2, pada final di Roland Garros, Paris, Minggu (10/6/2018).

Sejak 2005 Nadal telah 11 kali masuk final Prancis Terbuka. Berarti ia tak pernah kalah kalau sudah sampai di laga pemuncak. Ia pun menjadi petenis kedua yang 11 kali menjuarai Grand Slam yang sama setelah petenis putri Margaret Court di Australia Terbuka.

Total Nadal telah menjuarai 17 Grand Slam, termasuk tiga kali di Amerika Serikat Terbuka (2010, 2013, 2017), dua kali di Wimbledon (2008, 2010), dan sekali di Australia Terbuka (2009).

"Ini luar biasa, saya tak bisa menggambarkan perasaan saya karena saya bahkan tak pernah bermimpi untuk menang di sini 11 kali. Tak mungkin untuk berpikir sesuatu seperti ini," ujar Rafa dengan emosional usai laga final, seperti dikutip Aljazeera.

Ia kemudian tampak meneteskan air mata ketika memeluk Coupe des Mousquetaires, piala yang diberikan kepada juara tunggal putra turnamen lapangan tanah liat yang telah berlangsung sejak 1891 itu.

Petenis kelahiran Manacor, Spanyol, itu sempat didera cedera pada awal tahun. Ia harus mundur dari perempat final Australia Terbuka karena cedera paha saat melawan Marin Cilic. Dia lalu mundur dari beberapa turnamen untuk menyembuhkan cedera tersebut dan istirahat dua bulan, lalu kembali ke lapangan ketika musim tanah liat dimulai.

"Banyak bulan bermasalah. Jadi kembali ke lapangan dan menang di Monte Carlo, Barcelona, Roma, dan khususnya di sini, sangat emosional untuk saya," kata Nadal.

Nadal adalah raja tanah liat. Tak ada yang meragukan itu. Sejak 2016, hanya Thiem (24), lawannya di final, yang bisa mengalahkannya di lapangan jenis itu, bahkan sampai tiga kali--masing-masing sekali pada 2016, 2017, dan bulan lalu di Madrid.

Oleh karena itu, para pengamat tenis berpendapat hanya petenis asal Austria tersebut yang berpeluang besar untuk merebut mahkota Nadal di Roland Garros.

Pertarungan berjalan seru. Mereka terlibat dalam beberapa reli panjang yang menakjubkan. Akan tetapi Thiem tampak kesulitan untuk mengatasi serangan groundstroke Nadal, pun tak bisa menemukan titik lemah lawan yang berusia 32 tahun itu.

Bermain untuk pertama kalinya di final sebuah Grand Slam juga tampaknya terlalu menegangkan bagi Thiem. Ia membuat 42 unforced error, nyaris dua kali dari jumlah kesalahan Nadal (22).

Tangan kiri Nadal sempat mendapat perawatan karena keram pada set ketiga, tetapi hal itu tak cukup untuk menghentikannya menjuarai Prancis Terbuka.

"Saat merasa keram, itu adalah momen yang sulit bagi saya. Ia pemain yang bisa memaksa Anda bermain hingga limit teratas," jelas Nadal.

Thiem, peringkat kedelapan dunia, mengakui bahwa Nadal masih lebih hebat dibandingkan dirinya. Namun ia masih merasa bahagia dengan pencapaiannya di Roland Garros tahun ini.

"Apa yang telah kamu lakukan--menjuarai turnamen ini 11 kali--adalah salah satu hal terhebat di dunia olahraga," kata Thiem kepada Nadal di lapangan. "Saya berharap segera mendapatkan kesempatan lagi di sini--mungkin kembali melawanmu. Tetapi ini tetaplah dua pekan yang hebat untuk saya di sini."

Angka 10 tampak pada tas Rafael Nadal dalam laga final Prancis Terbuka melawan Dominic Thiem di Roland Garros, Paris, Minggu (10/6/2018). Angka itu akan berubah menjadi 11 jika ia bertanding lagi di Prancis Terbuka tahun depan.
Angka 10 tampak pada tas Rafael Nadal dalam laga final Prancis Terbuka melawan Dominic Thiem di Roland Garros, Paris, Minggu (10/6/2018). Angka itu akan berubah menjadi 11 jika ia bertanding lagi di Prancis Terbuka tahun depan. | Yoan Valat /EPA-EFE

Kemenangan Nadal tersebut juga membuat enam Grand Slam beruntun telah dimenangi oleh dirinya atau Federer (36). Hal yang menunjukkan betapa sulitnya para petenis muda untuk bisa mengatasi dua petenis veteran tersebut. Bahkan anggota The Big Four lainnya, Novak Djokovic dan Andy Murray, tak sekonsisten Nadal dan Federer.

Federer telah mengumpulkan 20 piala Grand Slam, tiga lebih banyak dibandingkan Nadal. Apakah Nadal berambisi menyamainya?

"Tentu saja saya punya ambisi itu. Tetapi saya tak bisa selalu berpikir untuk menginginkan lebih," katanya. "Saya punya hasrat besar terhadap apa yang saya lakukan. Tapi saya tidak pernah menjadi gila karena semua ini."

"Tidak, Anda tidak bisa selalu frustrasi jika seseorang punya uang lebih banyak darimu, punya rumah lebih besar darimu, punya Grand Slam lebih banyak darimu. Anda tak bisa hidup dengan perasaan seperti itu, bukan? Anda harus melakukannya dengan cara sendiri."

Walau demikian, jika Nadal tetap bisa mempertahankan performa tingginya dan bebas cedera untuk dua tahun ke depan, tiga trofi Grand Slam tambahan guna mengejar rekor Federer bukanlah sesuatu yang di luar jangkauannya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR