DENMARK OPEN

Prestasi apik skuat Indonesia pertebal asa di Denmark

Jelang dimulainya Denmark Open 2018, para pemain Indonesia tengah berlatih di Odense, Denmark, Senin (15/10/2018) waktu setempat.
Jelang dimulainya Denmark Open 2018, para pemain Indonesia tengah berlatih di Odense, Denmark, Senin (15/10/2018) waktu setempat. | Badmintonindonesia.org /PBSI

Musim kompetisi bulu tangkis level atas dunia kini tengah memasuki fase Eropa. Sepanjang pekan ini, 16-21 Oktober Oktober, para penepuk bulu kelas wahid akan beradu di Denmark Open 2018, turnamen dengan level World Tour Super 750.

Pada turnamen berhadiah total 775.000 dolar AS (Rp11,79 miliar) itu, Indonesia akan menurunkan 14 wakilnya. Dari jumlah tersebut, Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) menargetkan, minimal satu gelar.

"Ini kan open tournament, soal gelar juara satu saja dulu. Itu sudah bagus," kata Susi Susanti, kepala bidang pembinaan dan prestasi PP PBSI kepada detikSport, Senin (15/10/2018). "Kalau bisa dua syukur, tiga wow, empat hebat, dan lima luar biasa."

Ini sebenarnya jawaban khas Susi. Ia seperti tak ingin memberi beban berat kepada skuatnya. Maka, tak heran bila ditanya soal peluang meraih gelar di berbagai turnamen ia selalu menjawab "minimal satu".

Sebenarnya, skuat Indonesia yang turun di Denmark Open 2018 memiliki peluang lebih dari itu. Capaian cukup apik mengiringi langkah pemain Indonesia jelang dimulainya turnamen itu.

Tak sedikit dari mereka berhasil menjadi juara di sejumlah turnamen sebelumnya, mulai dari BWF World Tour Super 100 sampai Super 1000. Sejak Agustus, tepatnya Asian Games 2018 hingga kini, para pemain Indonesia mampu menjejaki babak final.

Di ajang Asian Games 2018 nomor individual misalnya, Jonatan Christie dan Kevin Sanjaya/Marcus Gideon meraih emas. Lantas, di Japan Open 2018, Kevin/Marcus kembali menjadi yang terbaik.

Lalu, sesudah Japan Open, ada China Open 2018. Di turnamen yang disebut terakhir tersebut, salah satu unggulan Indonesia di nomor tunggal putra, Anthony Sinisuka Ginting, gantian menjadi yang terbaik.

Seminggu setelah China Open, Tommy Sugiarto berhasil masuk final Korea Open 2018. Sedikit beranjak ke belakang, Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja dan Greysia Polii/Apriyani Rahayu yang berhasil menginjak podum tertinggi di Thailand Open 2018, Juli lalu.

Tak lama berselang, giliran Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan berhasil menjadi juara di Singapore Open 2018. Turnamen-turnamen yang disebut di atas merupakan kejuaraan dengan level tinggi, minimal Super 500.

Pada turnamen dengan level lebih rendahnya, anak-anak Cipayung juga mulai berprestasi. Misalnya, Ade Yusuf/Wahyu Nayaka Arya Pangkaryanira, yang baru saja menjuarai Dutch Open 2018 akhir pekan kemarin.

Mereka yang nama-namanya disebut di atas, ambil bagian pada Denmark Open 2018, turnamen dengan level Super 750. Selain karena prestasi pada turnamen sebelumnya, ada alasan lain mengapa PBSI menurunkan skuat terbaik pada turnamen kali ini.

"Ini saatnya pemanasan sebelum pengumpulan poin Olimpiade 2020. Manfaatkan turnamen ini dengan sebaik-baiknya," kata Susi.

Pengumpulan poin untuk bisa lolos ke pesta olahraga terbesar di dunia yang akan berlangsung di Tokyo, Jepang, itu dimulai pada 2019.

Adangan undian

Bila ada satu hal yang dapat mengganjal langkah skuat Indonesia untuk berprestasi di Denmark Open 2018, itu adalah hasil undian. Untuk beberapa nomor, anak-anak Cipayung tidak cukup beruntung.

Misalnya di tunggal putra. Anthony kudu menghadapi lawan sangat tangguh di babak awal, yakni berjumpa dengan Kento Momota, andalan Jepang yang kini menempati peringkat 1 BWF. Dari tujuh pertemuan sejauh ini, andalan Indonesia itu menang empat kali.

Meski demikian, pelatih tunggal putra PBSI, Hendry Saputra, tak khawatir. "Anthony sudah biasa menghadapi ini. Pemain top mana yang belum pernah dia hadapi? Dia sudah tahu beratnya menghadapi pemain top," katanya dalam Badmintonindonesia.org.

Hendry hanya mengingatkan Anthony untuk percaya diri dan mampu mengontrol emosinya di lapangan. Bila hal itu terjadi, maka prestasi di China Open sebulan silam bukan tak mampu diulang di Denmark Open kali ini.

Selain Anthony, Jonatan juga harus menghadapi lawan cukup tangguh, yakni jagoan asal Hong Kong, Wong Wing Ki Vincent. Sejauh ini, Jonatan memenangi dua laga dari total tiga pertemuannya dengan Vincent.

Bila wakil tunggal putra menghadapi lawan berat, masalah berbeda dialami dengan ganda campuran. Dalam undian, empat wakil Indonesia, yakni Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, Hafiz/Gloria, dan Ricky Karandasuwardi/Debby Susanto, berada di pool atas.

Artinya, mereka bakal harus saling mengalahkan untuk maju ke babak final. Tentu ini akan sedikit merugikan tim Indonesia.

Sedangkan di tunggal putri, Indonesia hanya mengandalkan Gregoria Mariska Tunjung. Ia akan menghadapi Chen Xiaoxin dari Tiongkok di babak pertama. Pada China Open kemarin, Gregoria mampu mengalahkan Xiaoxin.

"Ini kesempatan Gregoria untuk mematangkan jam terbang dan untuk menaikkan ranking dia," kata Susi Susanti.

Untuk ganda putra, Indonesia harus kehilangan pemain andalannya sebelum turnamen dimulai. Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, peringkat ke-8 dunia, mundur dari turnamen yang berlangsung di Odense Sport Park itu.

Mereka sebenarnya telah tiba di Odense, Denmark, tetapi Fajar harus pulang ke Indonesia karena ada anggota keluarganya yang sakit berat. Fajar langsung terbang pulang, sementara Rian harus tinggal dulu di Denmark guna melaporkan kepada wasit bahwa mereka mundur dari turnamen.

Aturan BWF mengharuskan pemain yang masuk peringkat 10 besar nomor ganda--perringkat 15 besar untuk nomor tunggal--melapor ke wasit jika ingin mundur dari turnamen kategori Super 750 dan Super 1000. Sanksi berat menanti jika pemain tidak melakukannya.

Fajar/Rian juga takkan ambil bagian di French Open, turnamen Super 750 yang dimulai minggu depan. Berarti Rian juga harus ke Paris untuk mengabarkan mundurnya mereka.

BACA JUGA