AUSTRALIA TERBUKA 2018

''Profesor'' Chung beri pelajaran untuk Djokovic

Chung Hyeon merayakan kemenangannya atas Novak Djokovic pada babak 16 besar Australia Terbuka di Melbourne, Australia, Senin (22/1/2018).
Chung Hyeon merayakan kemenangannya atas Novak Djokovic pada babak 16 besar Australia Terbuka di Melbourne, Australia, Senin (22/1/2018). | Lukas Coch /EPA-EFE

Dalam dunia olahraga, berada satu lapangan dengan pemain idola saja sudah bisa menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan. Apalagi jika kemudian bisa mengalahkannya di sebuah arena besar dan mencatatkan sejarah baru.

Itulah yang dialami oleh petenis muda Korea Selatan, Chung Hyeon, di Grand Slam Australia Terbuka 2018.

Chung (21) secara tak terduga menang atas juara Australia Terbuka 6 kali, Novak Djokovic, 7-6(4), 7-5, 7-6(3) pada babak 16 besar tunggal putra di Rod Laver Arena, Senin (22/1/2018), setelah bertarung selama 3 jam dan 21 menit.

"Hari ini impian saya jadi kenyataan," kata Chung dalam wawancara usai pertandingan.

"Saya tidak tahu bagaimana saya bisa menang malam ini. Saya hanya merasa terhormat bisa bermain melawan Novak dan gembira melihatnya kembali ke tur. Saya mencoba meniru permainannya karena ia adalah idola saya."

Chung, yang dijuluki "profesor" karena ia adalah satu dari sedikit petenis yang mengenakan kacamata minus, menjadi petenis Korsel pertama yang berhasil lolos ke babak perempat final sebuah turnamen Grand Slam.

"Ya kemenangan hari ini untuk negara saya. Saya pikir tenis akan naik (pamor) setelah malam ini," kata pria kelahiran Suwon, 19 Mei 1996, tersebut, dikutip CNN.

Di Negeri Ginseng, tenis memang kalah pamor dibandingkan olahraga lain seperti bisbol, sepak bola, dan bola basket. Bahkan, menurut Chung, saat ini ice skating jauh lebih populer karena Olimpiade Musim Dingin 2018 akan dilangsungkan di PyeongChang, Korsel.

Kemenangan tersebut membuat rekor pertemuan kedua pemain itu menjadi 1-1. Djokovic menundukkan Chung tiga set langsung pada pertemuan pertama mereka di tempat yang sama tiga tahun lalu.

Kali ini, Chung diuntungkan oleh kondisi tidak fit dari Djokovic, yang baru pertama kali mengikuti turnamen lagi setelah enam bulan istirahat karena cedera. Petenis asal Serbia yang kini menempati peringkat ke-14 dunia itu juga tidak mengikuti turnamen pemanasan menjelang Australia Terbuka.

Cedera siku lengan yang diderita Djokovic ternyata kambuh saat menghadapi Chung, peringkat ke-58 dunia, yang tampil baik dalam menutup setiap sisi lapangan.

"Ini tidak bagus," kata Djokovic mengenai siku lengannya. "Pada akhir set pertama, ia mulai terasa lebih sakit. ... Sungguh membuat frustrasi saat Anda punya waktu sebanyak itu dan tidak sembuh dengan sempurna. Tetapi inilah yang terjadi."

Kambuhnya cedera lama pastinya akan membuat atlet amat khawatir karena kemungkinan mesti absen lebih panjang membayangi. Djokovic pun mengakui adanya kemungkinan itu.

"Saya harus memeriksa kembali segala dengan tim, tim kesehatan, pelatih dan semuanya, memindainya kembali, melihat situasinya seperti apa. Dua pekan terakhir saya banyak bermain tenis. Kita lihat saja apa yang terjadi di dalam sini."

Ketika ia mundur dari Qatar Terbuka karena sikunya terasa sakit, banyak yang memperkirakan ia akan absen dari Melbourne. Semangat kompetitifnya lah yang membuat ia memutuskan datang ke Australia.

Namun Djokovic tidak pernah sampai ke puncak performa permainannya di Melbourne Park.

Mengenai Chung, Djokovic menyatakan lawannya itu memang layak untuk menang.

"Setiap berada dalam masalah, ia melakukan pukulan yang tak dapat dipercaya, passing shot. Dari belakang lapangan, Anda tahu, dia seperti tembok," ucap petenis Serbia itu.

Sandgren dan kontroversi kicauannya

Tennys Sandgren usai menaklukkan Dominic Thiem, Senin (22/1/2018), untuk maju ke perempat final Australia Terbuka 2018.
Tennys Sandgren usai menaklukkan Dominic Thiem, Senin (22/1/2018), untuk maju ke perempat final Australia Terbuka 2018. | Tracey Nearmy /EPA-EFE

Pada perempat final, Chung akan berhadapan dengan atlet kejutan lainnya, Tennys Sandgren. Petenis non-unggulan itu menyingkirkan unggulan ke-5 Dominic Thiem, 6-2, 4-6, 7-6(4), 6-7 (9), 6-3.

"Saya tak tahu apakah ini sebuah mimpi atau bukan," kata atlet berusia 26 tahun itu, dikutip The New York Times. "Kalian semua ada di sini, dan saya tidak hanya mengenakan pakaian dalam, jadi mungkin ini bukan mimpi."

Walau berusia relatif matang, selama ini Sandgren, peringkat 97 dunia, lebih banyak bertanding pada turnamen kelas bawah--satelit dan challanger. Saat tiba di Melbourne, ia belum pernah sekalipun menang dalam pertandingan di turnamen Grand Slam.

Tapi kini ia berhasil lolos hingga babak delapan besar dan menjadi satu-satunya petenis asal AS yang tersisa di Australia Terbuka 2018.

"Saya jelas mengalami momen mengejutkan. Wow, semoga ini nyata. Kalau ternyata saya terbangun sekarang, saya akan merasa sangat kecewa," kata Sandgren.

Hal lain yang menjadi pusat perhatian dari kemenangan Sandgren, seperti dipaparkan The Washington Post, adalah sikap politik yang diutarakannya melalui akun Twitter-nya--@TennysSandgren.

Ia diketahui banyak mem-follow dan me-retweet cuitan tokoh-tokoh politik "alt-right" (ekstrem kanan) yang mendengungkan jargon "supremasi kulit putih", fakta-fakta yang salah soal Islam, pro-Trump, dan anti-Hillary.

Dulu hal itu mungkin tak masalah. Tetapi kini, saat menjadi pusat perhatian, semua kicauannya diperiksa dan dikomentari banyak orang.

Seluruh isi akun Twitter-nya itu kini telah dihapus, namun media tetap mempertanyakannya dalam konferensi pers usai kemenangan atas Thiem.

Dikutip The Guardian, Sandgren menyatakan bahwa akun yang diikuti seseorang di Twitter tak lantas bisa mendikte pemikiran atau kepercayaan sang pengikut.

"Mengatakan bahwa ia mengikuti si X, jadi ia percaya semua yang dipercayai orang itu, saya pikir itu konyol. Saya pikir itu konyol," tegasnya.

Kembali ke tenis.

Pertemuannya dengan Chung pada perempat final nanti akan menjadi yang kedua dalam sebulan terakhir ini. Chung menang 6-3, 5-7, 6-3 pada babak pertama turnamen di Auckland, Selandia Baru.

Sandgreen menyatakan dari pertemuan itu ia mengetahui betapa hebat dan berpotensinya petenis muda Korsel tersebut.

"...Saya pikir (Chung) akan memenangi beberapa Grand Slam dalam kariernya, dan saya pikir ia akan beredar hingga bertahun-tahun mendatang," ujar Tennys Sandgreen.

BACA JUGA