SERIE A ITALIA

Rahasia kesaktian Juventus di Serie A

Kiper Gianluigi Buffon mengangkat trofi juara Liga Italia Serie A yang diraih bersama Juventus untuk keenam kali secara beruntun di Turin, Minggu (21/5/2017).
Kiper Gianluigi Buffon mengangkat trofi juara Liga Italia Serie A yang diraih bersama Juventus untuk keenam kali secara beruntun di Turin, Minggu (21/5/2017). | Antonio Calanni /AP Photo

Liga Italia Serie A adalah satu dari lima kompetisi domestik utama di Eropa. Biasanya, persaingan juara di lima kompetisi tersebut cukup ketat.

Namun tidak demikian di Serie A. Juventus seolah menjadi penguasa tunggal. Minggu malam (21/5/2017), klub berjulukan "Si Nyonya Tua" tersebut mempertahankan gelar juara (Lo Scudetto) sekaligus meraih trofi kampiun untuk keenam kali secara beruntun.

Kepastian juara diperoleh dengan menundukkan Crotone 3-0 di Stadion Juventus, Turin. Tiga gol dicetak oleh Mario Mandzukic dan Paulo Dybala pada babak pertama serta Alex Sandro saat laga tersisa tujuh menit.

Kemenangan itu membuat nilai Juve tak bisa lagi dikejar pesaing terdekat, AS Roma. Misal Roma mengalahkan Genoa dalam laga pekan pamungkas pada Minggu depan (28/5), nilai maksimal mereka hanya 87. Sementara Juve saat ini sudah mengantongi nilai 88.

Menjuarai Serie A enam kali beruntun adalah rekor baru di Italia. Koleksi total poin Juve selama enam musim itu adalah 539 --94 poin lebih banyak dari klub mana pun.

Rekor lain; pemain paling senior, kiper Gianluigi Buffon, mengoleksi gelar juara Serie A delapan kali --seluruhnya bersama Juve. Belum pernah ada pemain lain yang melakukan itu.

Sementara bagi pelatih Massimiliano Allegri, ini adalah trofi ketujuh dalam tiga tahun masa kerjanya bersama Juve. Khusus di Serie A, pria 49 tahun ini menjadi pelatih keempat yang sedikitnya mengoleksi empat trofi juara.

Juve bukan sekadar mencetak rekor enam kali juara Serie A beruntun. Berdiri sejak 1897, klub yang berada di bawah naungan kelompok usaha Fiat-Ferrari ini adalah penguasa gelar juara Serie A; 33. Rival terdekatnya, AC Milan, baru mengemas 18 trofi juara Serie A.

Sekarang pertanyaannya; bagaimana Juve bisa sedemikian sakti? Padahal, misalnya musim ini, persaingan pun cukup ketat kendati pada akhirnya hanya menyisakan Roma setelah Napoli terlempar dari peta.

Buffon menegaskan bahwa gelar juara tak pernah mudah untuk dimenangi. Dan kiper 39 tahun ini paham karena pernah dua kali kalah di final Liga Champions meski sempat menjuarai Piala Dunia 2006 bersama kesebelasan nasional Italia.

"Jika Anda ingin menjadi juara, Anda harus selalu masuk ke pertandingan dengan fokus dan fisik yang prima," ujar Buffon dilansir Press Association (h/t The Daily Mail).

Kantor berita AFP (h/t News18) menyebut ada empat kunci di balik kesaktian Juve (pada musim ini). Pertama adalah taktik Allegri dan tata kelola terhadap para pemain.

Allegri boleh jadi kelihatan biasa saja bila bicara soal taktik. Namun di balik "level biasa" itu terdapat kunci rahasia. Misalnya keahliannya dalam urusan taktik mikro, satu hal yang membuatnya dinilai tak cocok untuk menggantikan Arsene Wenger di Arsenal.

Allegri tetap pelatih jempolan. Sebelum ke Juve, Allegri mengantar Milan juara Serie A --trofi utama pertama setelah tujuh tahun paceklik.

Masuk ke Juve, Allegri mengubah skema main 3-5-2 peninggalan pelatih Antonio Conte (kini mengantar Chelsea juara Liga Primer Inggris). Juve dipaksa menggunakan skema relatif imbang 4-2-3-1 dengan penekanan lebih besar pada fungsi bertahan.

Seluruh pemain diminta menjalankan fungsi defensif, termasuk penyerang Gonzalo Higuain yang ditransfer dari Napoli pada musim panas 2016. Selain Buffon, kiper sekokoh batu karang, Juve memang punya pertahanan bak benteng super kuat meski bukan catenaccio khas Italia.

Sepanjang Serie A musim ini, pertahanan Juve hanya kebobolan 26 gol --10 gol lebih sedikit dibanding Roma. Para pemain Juve diminta senantiasa menunggu bola hilang dari lawan dengan cara terus membuntuti atau menekannya (pressing).

Pelatih Juventus Massimiliano Allegri memegang trofi juara Serie A di Turin, Italia, Minggu (21/5/2017).
Pelatih Juventus Massimiliano Allegri memegang trofi juara Serie A di Turin, Italia, Minggu (21/5/2017). | Antonio Calanni /AP Photo

Soal pertahanan Juve yang kokoh, Buffon pun mengungkap rahasianya kepada laman resmi UEFA (h/t Calciomercato). Pertama, pertahanan dilakukan oleh semua pemain --bukan hanya pemain belakang.

Kedua, para pemain belakang sudah cukup lama saling mengenal dan saling menghargai. Mereka sering saling memberi motivasi.

Kedua, Allegri membuat Juve punya pemain depan yang fleksibel. Pada awal musim, tentu Higuain menjadi andalan karena pemain Argentina ini datang dengan rekor 36 gol dalam semusim Serie A 2015-16 bersama Napoli.

Namun di Juve, ketajaman Higuain sempat menguap. Itu sebabnya Allegri mengacak barisan penyerangnya dengan memasang trisula plus; Higuain di posisi ujung tombak, Mandzukic di kiri, Dybala sedikit di bawah posisi Higuain, dan Juan Cuadrado di sisi kanan.

Dengan formasi seperti itu, Higuain seperti punya dukungan melimpah. Meski tidak menjadi pemain tertajam seperti musim lalu, masih kalah empat gol dari penyerang Roma Edin Dzeko yang mencetak 28 gol, Higuain tetap berhasil merasakan gelar juara Serie A.

Ketiga, permainan level tinggi secara konsisten yang ditunjukkan Buffon sejak berusia 19 hingga 39 tak mungkin dinafikan. Dan Buffon sudah mengumpulkan penghargaan Gelar Kiper Terbaik Serie A 11 kali, yang terbaru pada Januari 2017.

Keempat, mesin Juve tetap bekerja dengan baik karena strategi transfernya juga bagus. Menjual gelandang kunci Paul Pogba dengan rekor harga transfer sekitar EUR105 juta ke Manchester United, diimbangi dengan pembelian Higuain dengan harga EUR90 juta.

Juve juga merekrut pemain berpengalaman Dani Alves dengan harga gratis dari Barcelona. Namun pembelian cerdas dilakukan sejak 2015 ketika merekrut pengatur serangan Miralem Pjanic dari Roma, satu hal yang membuat klub ibukota itu pada akhirnya kesulitan juara.

Fox Sports menyebut Pjanic adalah salah satu peran di balik kehebatan Juve. Meski sempat diragukan bisa menggantikan peran Pogba, pemain Serbia berusia 27 ini justru mampu mengendalikan lini tengah Juve. Selain itu, Pjanic juga mahir melepas tembakan bebas nan jitu.

Kini segala kunci sukses itu hanya perlu dibuktikan sekali lagi saat menghadapi Real Madrid dalam laga final Liga Champions di Cardiff, Wales, 3 Juni. Namun Allegri belum mau bicara banyak soal itu.

"Kami akan libur dua atau tiga hari untuk beristirahat. Kami pantas mendapat libur karena lima bulan terakhir ini cukup berat. Setelah itu kami akan pergi ke Cardiff dan berupaya menjuarai Liga Champions.

"Kami harus menyikapi laga itu dengan kepercayaan diri dan keyakinan. Pertandingan bakal menarik," tegasnya.

Catatan redaksi: ada kesalahan penulisan asal negara Pjanic. Tertulis Kroasia, seharusnya Bosnia. Kesalahan telah diperbaiki.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR