BULU TANGKIS

Ramai-ramai kritik aturan baru BWF

Chong Wei saat mengikuti Denmark Terbuka. Tunggal putra asal Malaysia tersebut menyebut bahwa jadwal turnamen 2018 menakutkan baginya.
Chong Wei saat mengikuti Denmark Terbuka. Tunggal putra asal Malaysia tersebut menyebut bahwa jadwal turnamen 2018 menakutkan baginya. | Claus Fisker /EPA-EFE

Memasuki masa kompetisi bulu tangkis di 2018, sedikit demi sedikit mulai banyak pihak yang bersuara soal perubahan sejumlah aturan yang dilakukan Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF).

Demikian juga dengan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia. Lewat Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susy Susanti, Federasi mempertanyakan sejumlah perubahan peraturan.

Mulai 2018 ini, BWF bakal melakukan sejumlah perubahan. Di antaranya adalah ketinggian servis yang hanya 1,15 meter dari permukaan tanah, kewajiban mengikuti sejumlah turnamen bagi pemain peringkat atas, hingga mengubah rencana sistem pertandingan dari 21 x 3 menjadi 11 x 5.

Untuk hal pertama, sejauh ini memang tak ada aturan baku mengenai servis. Hanya dijelaskan, saat memukul posisi shuttlecock di bawah pinggang pemain. Di peraturan baru, menurut Susy, semua pemain bakal dirugikan, tak hanya pebulu tangkis jangkung saja.

"Aturan itu membuat ada yang diuntungkan dan dirugikan. Pemain dengan postur pendek, seperti Akane (Yamaguchi), akan menganggap servis itu terlalu tinggi," ucapnya, seperti dikutip dari Detik. Akane adalah tunggal putri Jepang dengan tinggi tubuh 1,56 meter.

"Tapi akan berbeda dengan pemain yang posturnya tinggi. (Sebab) tinggi pemain berbeda-beda." Selama ini, aturan baru servis bulu tangkis memang disebut-sebut bakal merugikan pemain bertubuh menjulang.

Salah satu yang mengkritik dengan dasar ini adalah Viktor Axelsen, tunggal putra peringkat satu dunia asal Denmark. Menurutnya, para pemain bertubuh tinggi akan kesulitan melakukan servis dengan ketinggian maksimum 1,15 meter.

Senada dengan Axelsen, Carolina Marin juga mengatakan demikian. Bahkan tunggal putri peraih medali emas Olimpiade 2016 asal Spanyol tersebut mengatakan peraturan tersebut bodoh.

Carolina Marin mengatakan aturan servis baru BWF adalah sesuatu yang bodoh.
Carolina Marin mengatakan aturan servis baru BWF adalah sesuatu yang bodoh. | Sigid Kurniawan /Antara Foto

"Mungkin ini adalah sesuatu yang bodoh untuk diterapkan, tapi mari kita lihat bagaimana aturan itu bekerja. Ini akan sangat berpengaruh pada pemain yang sangat tinggi," ucapnya, seperti dikutip dari New Indian Express.

Itu baru dari satu aturan. Mengenai kewajiban para pemain peringkat atas dunia untuk turun di sejumlah turnamen juga banyak mendapat kritik keras. Pada 2018, BWF memang mewajibkan para pemain peringkat atas untuk turun di 12 turnamen terbuka.

Rinciannya tiga turnamen kategori Premier of Premier, lima turnamen Superseries Premier, dan empat dari tujuh Superseries. Itu belum termasuk turnamen agenda wajib BWF macam Kejuaraan Dunia dan Thomas-Uber maupun kejuaraan wilayah seperti Asian Games.

Bila melanggar aturan tersebut, BWF bakal memberi sanksi si pemain.

Saina Nehwal merupakan salah satu pemain yang mengkritik. Menurut tunggal putri asal India tersebut, dia bisa saja mengikuti aturan tersebut. Hanya saja, itu tak akan baik untuk prestasi dia maupun pemain lain.

"Saya butuh waktu untuk mengeluarkan yang terbaik. Saya tidak dapat bermain terus-menerus. Saya hanya bisa berpartisipasi namun tak bisa menang," ucapnya, seperti dikutip dari First Post. "Saya tak mengerti kenapa BWF memutuskan demikian.

Menurut Saina, lebih baik bila BWF mengikuti apa yang dilakukan di tenis. Hanya sedikit turnamen berkategori grand slam. Namun jumlah hadiah diperbesar. "Jika saya menjadi Presiden BWF, itu yang akan saya lakukan," katanya.

Sedangkan menurut bintang bulu tangkis Malaysia, Lee Chong Wei, aturan baru itu sangat menakutkan, khususnya bagi pemain yang seusianya. Walau masih berada di posisi tiga besar dunia, namun usia Chong Wei tak lagi muda, yakni 35 tahun.

"Kalender saya tahun ini menakutkan. Saya mungkin harus mengambil 19 turnamen. Sebelumnya, saya tak pernah mengikuti lebih dari 15 turnamen dalam setahun--bahkan saat saya masih muda," ucapnya, seperti dikutip dari The Star.

"Tidak seharusnya mereka memaksa pemain untuk ikut di banyak turnamen."

Sedangkan bagi PBSI, banyaknya turnamen ini sepertinya bukan menjadi masalah--meski mengakui bahwa jadwalnya bakal sangat padat. Menurut Susy Susanti, Federasi bakal mengatur jadwal bagi masing-masing pemain berdasarkan masukan pelatih.

Mempertanyakan 5x11

Susy Susanti mengatakan bahwa peraturan baru yang dikeluarkan BWF merugikan sejumlah pebulu tangkis.
Susy Susanti mengatakan bahwa peraturan baru yang dikeluarkan BWF merugikan sejumlah pebulu tangkis. | Badmintonindonesia.org /PBSI

Bila aturan-aturan baru di atas siap diimplementasikan tahun ini, tidak demikian dengan perubahan mekanisme pertandingan dari 3x21 reli menjadi 5x11 reli. Memang, hal ini masih menjadi wacana, walaupun Presiden BWF, Poul-Erik Hoyer, pernah mengutarakan hal ini.

Susy kurang sepakat bila peraturan ini diterapkan. Musababnya, menurut Susy, dengan diterapkannya mekanisme tersebut, permainan bulu tangkis akan terlalu pendek, sehingga bakal kehilangan nilai seninya.

"Lama-lama permainan dari bulutangkis ini tidak ada lagi yang bisa dilihat," ucapnya. Sistem perolehan skor memang salah satu yang kerap berubah di dunia bulu tangkis.

Dahulu, pernah diterapkan sistem klasik perolehan skor 15, lalu ada pula 5x7, hingga 3x21 sistem reli. "Sudah sejak 2005 kita beradaptasi setengah mati dengan poin 21 (reli), sekarang mau diganti. Itu maksudnya apa?"

"Seharusnya BWF mencari solusi yang lebih riil. Misalnya tidak perlu deuce (sekarang setting) terlalu panjang. Dipangkas saja."

BACA JUGA