INDIA OPEN

Rasa lega Greysia/Apriyani usai juara di India

Ilustrasi: Pebulu tangkis ganda putri Indonesia Apriyani Rahayu (kiri) dan Greysia Polii saat bertanding di All England 2019 di Arena Brimingham, Inggris, Rabu (6/3/2019).
Ilustrasi: Pebulu tangkis ganda putri Indonesia Apriyani Rahayu (kiri) dan Greysia Polii saat bertanding di All England 2019 di Arena Brimingham, Inggris, Rabu (6/3/2019). | Widya Amelia - Humas PP PBSI /Antara Foto

Trofi yang melegakan. Itulah arti kemenangan di India Open 2019 bagi ganda putri Indonesia Greysia Polii/Apriyani Rahayu, yang menjadi piala perdana mereka musim ini.

Sebelum menang 21-11, 25-23 atas Chow Mei Kuan/Lee Meng Yean dari Malaysia pada final di KD Jadhav Indoor Hall, New Delhi, Minggu (31/3/2019), Greysia/Apriyani telah melalui 12 turnamen BWF World Series tanpa membawa pulang trofi.

Terakhir mereka juara di Thailand Open, Bangkok, pada 15 Juli 2018.

Selain itu, mereka juga berhasil mempertahankan gelar ganda putri India Open, yang masuk kategori turnamen kelas Super 500 tersebut.

"Puji Tuhan akhirnya kami bisa menembus juara dulu, paling tidak buat menambah kepercayaan diri kami, supaya nggak down. Tujuannya dari awal memang itu, biar percaya diri, soalnya kami memang sempat menurun pedenya," kata Greysia kepada Badmintonindonesia.org.

Sebelum tiba di New Delhi, mereka telah mengikuti empat turnamen sepanjang tahun ini dan hasilnya tak bisa dibilang bagus. Greysia/Apriyani membuka tahun 2019 dengan mencapai final Malaysia Masters, tetapi dikalahkan ganda Jepang Yuki Fukushima/Sayata Hirota pada 20 Januari.

Sepekan setelahnya, langkah mereka terhenti di semifinal Indonesia Masters. Lagi-lagi mereka kalah dari ganda putri Jepang, kali ini Masaki Matsutomo/Ayaka Takahashi.

Hasil pada dua turnamen di Eropa periode Februari-Maret 2019 lebih buruk lagi. Greysia/Apriyani hanya mencapai perempat final German Open dan All England. Mereka ditundukkan dua ganda putri Tiongkok, masing-masing Du Yue/Li Yunhui dan Chen Qingchen/Jia Yifan.

"Kemarin-kemarin kami sempat kehilangan rasa percaya diri. Sesudah tanding di Eropa, kami banyak berkomunikasi internal berdua dan juga bersama koh Didi (Eng Hian). Perubahannya adalah mulai bisa mencari cara mengembalikan rasa percaya diri dan percaya satu sama lain. Kami juga tidak mau ambil pusing dengan hal-hal eksternal," Ujar Greysia.

Apriyani menambahkan bahwa kepercayaan dirinya dan Greysia kini membaik. Namun ia menegaskan bahwa mereka takkan berpuas diri dengan piala yang didapat. "Walau menang di India, kami belum apa-apa," tegasnya.

Konsistensi performa memang menjadi hal yang paling penting bagi Greysia/Apriyani. Apalagi, poin-poin yang didapat dari hasil turnamen BWF World Tour sepanjang tahun akan membantu mereka untuk bisa lolos kualifikasi Olimpiade 2020 di Tokyo.

"Ini adalah gelar beruntun kami di sini dan akan membantu untuk mempersiapkan bagi perjalanan kami ke Olimpiade. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus kami lakukan menjelang Olimpiade," jelas Greysia dalam situs resmi BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia).

Tak semua pemain bisa tampil di Tokyo tahun depan. Ada batasan poin dan kuota yang harus dipenuhi. Saat ini peluang Greysia/Apriyani terbilang cukup terbuka. Mereka berada di peringkat ke-5 dunia ganda putri, berselisih 11.276 poin dengan peringkat ke-6, Shiho Tanaka/Koharu Yonemoto dari Jepang.

Berdasarkan sistem kualifikasi untuk Olimpiade 2020 (pdf) yang ditetapkan BWF, setiap negara berhak mengirim dua pasang pebulu tangkis, jika keduanya menempati Peringkat Dunia 1-8 per 30 April 2020.

Kalau ada negara yang memiliki tiga ganda pada peringkat tersebut, asosiasi nasional hanya bisa memilih dua di antara mereka. Jatah yang tersisa diberikan kepada peringkat di bawah mereka. Saat ini ganda putri Jepang mendominasi tiga peringkat teratas. Hal itu menguntungkan Greysia/Apriyani, karena berarti mereka menempati peringkat keempat dalam "race to the Olympics".

Untuk mengejar poin ke Olimpiade tersebut, Greysia/Apriyani tak bisa berlama-lama menikmati kemenangan di India. Usai final, mereka bergegas ke Kuala Lumpur untuk menghadapi Malaysia Open, turnamen dengan kelas lebih tinggi, Super 700.

Pada babak pertama kejuaraan yang akan dimulai Selasa (2/4) itu, mereka ditempatkan sebagai unggulan keempat dan akan melawan ganda putri tuan rumah, Ariel Lee/Sydney Lee, pada babak pertama.

"Harapan di Malaysia Open, kami mau yang terbaik dulu. Kami juga berharap lebih siap lagi menghadapi lawan, terutama pasangan-pasangan Jepang yang memang tak mudah untuk kami kalahkan," pungkas Apriyani.

Sementara itu, ganda campuran Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti gagal memberi gelar tambahan bagi Indonesia. Mereka kalah 13-21, 11-21 dari unggulan teratas asal Tiongkok, Wang Yilyu/Huang Dongping, pada final.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR