KEJUARAAN DUNIA 2019

Realitas Hendra menjadi pelapis Kevin/Marcus

Hendra Setiawan saat melakukan sesi foto dengan Beritagar.id di markas PP PBSI di Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (21/3/2019).
Hendra Setiawan saat melakukan sesi foto dengan Beritagar.id di markas PP PBSI di Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (21/3/2019). | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Ia berjalan sambil sedikit membungkukkan tubuhnya; menjauh dari depan Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi. Sejurus kemudian, seorang pegawai menghampirinya, dan mengarahkan pria tersebut untuk berdiri di depan Imam.

Ia menuruti, meski tak sepenuhnya. Ia lebih memilih berdiri dengan jarak cukup menyerong dari depan Imam. Begitulah sosok Hendra Setiawan: tidak enakan, rendah hati, sopan, banyak senyum, dan irit bicara.

"Di sini saja berdirinya," kata Hendra pelan seraya tersenyum.

Hari-hari terakhir ini, nama Hendra kembali menjadi perbincangan di sejumlah media massa dan media sosial. Musababnya, tak lepas dari capaian dia di Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2019 di Basel, Swiss, Minggu (25/8/2019).

Bersama sang tandem, Mohammad Ahsan, Hendra menjadi jawara dengan sederet rekor di kejuaraan tersebut. Ini adalah kali ketiga ia menjadi juara bersama Ahsan di sana, atau keempat sepanjang kariernya --satu bersama Markis Kido.

Yang lebih hebat, Ahsan/Hendra tidak pernah kalah saat mengikuti kejuaraan tersebut, baik 2013, 2015, dan 2019 semuanya berakhir dengan juara. Catatan lainnya, kemenangan ketiga bersama Ahsan itu menjadikan dia sebagai ganda putra tertua yang pernah meraih gelar juara.

Lagi-lagi, atas capaiannya itu ia tidak ingin besar kepala. "Saya tidak menyangka juara sebenarnya pada tahun ini," ucapnya kepada saya, Rabu (28/8) sore, saat mendatangi kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga di Jakarta untuk menerima bonus dari pemerintah.

Berikut adalah petikan wawancara Beritagar.id dengan atlet berusia 35 tahun ini mengenai capaiannya di Kejuaraan Dunia tersebut.

***

Selamat telah menjadi juara dunia 2019.
Terima kasih.

Bagaimana Anda melalui Kejuaraan Dunia 2019 kali ini?
Sejak awal, kami (dia dan Ahsan) mau fokus pertandingan satu demi satu dulu. Kami tidak ingin melihat siapa lawan setelahnya.

Kevin Sanjaya/Marcus Gideon gugur di pertandingan pertama. Menjadi beban bagi Anda untuk bisa memenuhi target PBSI, satu emas?
Nggak juga. Masih ada Fajar/Rian. Dan, sejak awal kami fokusnya ke permainan sendiri dulu. Saya tidak ingin memikir jauh-jauh.

Ada instruksi dari pelatih setelah kekalahan The Minions?
Nggak ada. Biasa saja.

Titik paling krusial dalam kejuaraan di mana?
Mungkin dari semifinal ya (melawan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto). Karena kami bertemu teman sendiri. Jadi, karena tahu sama tahu permainannya, pasti jadi sulit pertandingannya. Apalagi Fajar/Rian penampilannya juga lagi bagus saat itu.

Cara mengatasinya?
Ya fokus ke pertandingan saja.

Hanya itu?
Iya, apa lagi? Ha ha ha.

Anda ini dipasangkan dengan siapa saja kok ok ya, baik Ahsan, Kido atau Bong (Tan Boong Heong). Resepnya apa sih?
Intinya, ganda itu harus selalu komunikasi. Harus selalu sering ngobrol. Jadi misalkan saya tidak enak, saya akan ngomong ke pasangan saya.

Dan itu sering?
Iya.

Kalau dari latihan?
Sama saja sih kurang lebihnya dengan yang lain.

Kalau gitu, yang membedakan Anda dengan pemain lain apa?
Ha ha ha. Saya tidak tahu juga.

Anda ini kan sudah berumur. Tapi tahun ini saja, sudah 14 kejuaraan Anda ikuti. Bagaimana bisa sebugar itu?
Kalau saya biasanya fitness. Selain itu, sepedaan atau treadmill di tempat fitness. Biasanya, masing-masing itu 30 menit. Kalau untuk fitness-nya ada pelatih. Seminggu tiga kali masing-masing selama sejam.

*tahun ini, dari 14 kejuaraan, tujuh di antaranya Ahsan/Hendra menginjak babak final.

Anda merasa berjodoh dengan Kejuaraan Dunia? Sama Ahsan tak pernah kalah dan dengan Kido sekali juara.
Ha ha ha. Tidak juga. Saya tidak menyangka juga bisa juara kali ini.

Karena?
Usia saya kan tidak muda lagi. Ahsan (32) juga. Yang muda-muda juga sudah kuat-kuat.

Seperti Kevin/Marcus ya.
Iya. Lalu juga ada Fajar/Rian, pemain Jepang dan Korsel, mereka kan masih pada muda-muda.

Tahun ini Anda sudah juara di All England dan Kejuaraan Dunia. Masih merasa di bawah bayang-bayang Kevin/Marcus?
Ya memang mereka yang terbaik saat ini. Harus diakui.

Anda tidak keberatan disebut sebagai pemain pelapis Kevin/Marcus meski sudah menjuarai Kejuaraan Dunia?
Tidak masalah.

Anda tidak sedang merendahkan hati, bukan?
Ha ha ha. Tidak. Itu kan memang realitas.

Baik. Bagaimana cara pemain muda agar bisa bersaing di level dunia hingga seperti Anda?
Semangat juang dan mentalnya pasti (harus ditingkatkan). Karena, kalau pertandingan dunia, semua pemain ingin menang.

Cara mengasah mentalnya itu bagaimana?
Lama-lama mereka akan dapat sendiri sih. Saya dulu juga begitu soalnya. Pengalaman sangat menentukan.

Anda mulai merasa sudah dapat keyakinan mental itu kapan?
Mulai dari juara di superseries mulai tahu bagaimana feeling dan fokus bermainnya. Itu yang selalu saya ingat-ingat ketika bertanding.

Sampai kapan rencananya Anda akan bermain bulu tangkis?
Belum tahu. Ha ha ha.

Tapi yakin di Olimpiade 2020 nanti?
Saya saat ini hanya memikirkan lolos dulu lah. Masalahnya nggak gampang. Tiga orang soalnya ini. Peluangnya sama.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR