Regulasi lucu ala PSSI

Suasana kantor PSSI sebelum Gelora Bung Karno direnovasi.
Suasana kantor PSSI sebelum Gelora Bung Karno direnovasi.
© Wahyu Putro A. /Antara Foto

"Selama 32 tahun saya melatih, tidak pernah menemukan pergantian peraturan di tengah kompetisi seperti ini," ucap Robert Rene Alberts. Keluhan tersebut, disampaikan pelatih PSM Makassar itu, mengenai berubahnya regulasi penggunaan pemain U-23 di tiap laga.

Dalam peraturan tersebut, 18 tim yang terlibat dalam kompetisi Go-Jek Traveloka Liga 1, diwajibkan menggunakan minimal 3 pemain U-23 saban bertanding. Peraturan tersebut baru berlaku di Liga 1 Indonesia musim ini.

Sejak awal, PSSI teguh menerapkan kebijakan baru ini, meski banyak pihak yang menentang karena bakal membuat kompetisi jadi kurang menarik. Dasarnya sederhana, demi memberikan jam terbang lebih banyak kepada para pemain muda.

Namun, peraturan tersebut hanya berlangsung seumur jagung. Sebab, melalui surat bernomor 155/LIB/VI/2017, PSSI dan juga PT Liga Indonesia Baru (LIB) menangguhkan peraturan itu. Padahal kini musim kompetisi tengah berjalan. Hal inilah yang membuat bingung Alberts tadi.

"Dari awal (kompetisi), kita terpaksa menggunakan peraturan ini," kata Alberts, seperti yang dilansir Detik.com, pagi hari menjelang pertandingan melawan Persib Bandung pada Rabu (5/7). Sejak awal peraturan ini dibuat, PSM adalah salah satu pihak yang menentang.

Meski demikian, hingga pekan ke-11, PSM menduduki puncak klasemen dengan 23 poin. Di pertandingan melawan Persib tadi (pekan ke-12), PSM menelan kekalahan 2-1.

Bila ditilik lebih jauh, semua starter Persib dalam pertandingan tersebut adalah pemain senior. Namun menurut kapten Maung Bandung, Atep, rahasia kemenangan timnya tak lepas dari strategi menekan lawan sejak awal.

"Dari menit awal, kami terus menekan. Kami sadar kalau membiarkan, mereka bisa mengembangkan permainan, dan itu berbahaya," kata Atep, seperti yang dikutip dari Goal.com.

Selain penangguhan penggunaan pemain U-23, ada pula beberapa perubahan lain. Contoh, direvisinya jumlah pergantian pemain, dari lima menjadi tiga. Selain itu jumlah pemain cadangan yang berkurang hingga menjadi tujuh orang saja di bench.

Parahnya lagi, surat bernomor 155/LIB/VI/2017 itu, hanya berlaku 2 bulan. Pada 30 Agustus 2017, regulasi mengenai penggunaan pemain U-23 itu akan kembali diubah. Artinya, peraturan-peraturan tadi hanya berlaku 2 bulan saja.

Dengan kebijakan tersebut, Alberts pun menanyakan siapa pihak yang menginginkan perubahan itu. "Saya tidak mau komen klub mana saja yang diuntungkan. Pertanyaan besarnya siapa yang ganti aturan ini," ucapnya. "(Tapi) ini sebuah lelucon."

Bukan hanya Alberts, begitu juga dengan CEO Madura United, Achsanul Qosasi. Lewat cuitannya di Twitter, Achsanul menyindir mengenai orang-orang yang duduk di PSSI maupun PT LBI.

Namun, PSSI memastikan bahwa kebijakan temporer tersebut murni demi kepentingan sepak bola Indonesia. Joko Driyono, Wakil Ketua Umum PSSI menjelaskan, penerapan regulasi ini, demi memenuhi perubahan yang serba kontekstual terkait persiapan Timnas U-22 ke Sea Games 2017.

Untuk hal itu, slot skuat di Sea Games sudah ditetapkan, sehingga talent scouting tak diperlukan lagi. Hal tersebut juga berlaku untuk kualifikasi Piala Asia U-23.

Masalahnya adalah, distribusi pemanggilan ini tak merata bagi semua klub. Maklum, tidak semua klub memiliki pemain muda yang apik. Alhasil, tidak meratanya distribusi pemanggilan, tak bisa dielakkan.

"Kita tahu, ada klub yang 3-4 pemainnya dipanggil. (Tetapi) PSSI ingin adanya keadilan untuk tiap klub yang para pemainnya dipanggil U-22," kata Joko, yang dikutip dari laman resmi PSSI.

Anggapan perubahan regulasi sementara itu demi menguntungkan pihak tertentu juga dibantah Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi. "Ada kegiatan-kegiatan yang perlu prioritas. Jadi bukan karena ada apa-apa," katanya.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah kondisi ini tak diantisipasi sejak awal oleh PSSI sebelum membuat regulasi baru di awal musim tadi?

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.