BADMINTON ASIA CHAMPIONSHIPS

Secercah harapan dan peluang berat tim Indonesia

Owi/Butet saat bertanding di All England 2018, Jumat (16/3/2018). Di BAC, Owi/Butet menjadi tumpuan Indonesia untuk meraih satu target yang dicanangkan PBSI.
Owi/Butet saat bertanding di All England 2018, Jumat (16/3/2018). Di BAC, Owi/Butet menjadi tumpuan Indonesia untuk meraih satu target yang dicanangkan PBSI. | Badmintonindonesia.org /PBSI

Beban cukup berat harus dipikul para pebulu tangkis Indonesia dalam ajang Badminton Asia Championships (BAC). Pasalnya, di turnamen bergengsi antarnegara Asia itu, Indonesia memiliki capaian biasa saja, setidaknya dalam delapan tahun terakhir.

Dalam kurun sewindu itu, hanya ada satu wakil Indonesia yang berdiri di podium juara. Dia adalah Tontowi "Owi" Ahmad/Liliyana "Butet" Natsir pada 2015. Bahkan, tahun lalu tak satupun dari mereka mampu melangkah hingga babak semifinal.

Pada perhelatan kali ini, yang dimulai pada 24 April 2018 di Sports Center Development Zone, Wuhan, Tiongkok, tim Indonesia tak diperkuat ganda andalan, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon.

Musababnya, nama yang disebut terakhir baru saja melangsungkan pernikahan. "Dia menikah 14 April dan (tim) berangkat 24 April. Persiapannya singkat banget. Kalau gitu, saya bilang mending jangan berangkat," ucap pelatih kepala ganda putra, Herry Iman Pierngadi.

Tanpa kehadiran Kevin/Marcus, kekuatan tempur Indonesia jelas berkurang. Dari 15 wakil yang turun, hanya Owi/Butet, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, dan Greysia Polii/Apriyani Rahayu saja yang masuk dalam unggulan delapan besar tiap nomor.

Pada BAC kali ini, ganda putra menjadi nomor yang paling banyak dikirim. Selain Fajar/Rian; ada nama seperti Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, Angga Pratama/Rian Agung Saputro, dan Berry Angriawan/Hardianto.

Sejauh ini, ganda putra menjadi salah satu nomor yang paling sering menyumbang prestasi bulu tangkis Indonesia dalam beberapa waktu ke belakang. Sebab, di nomor ini ada Kevin/Marcus.

Sejauh ini, Herry tak mengatakan target anak buahnya di BAC. Namun, dia mengatakan ini adalah tes terakhir ganda putra sebelum turun dalam ajang Piala Thomas--Mei nanti.

Nomor lain yang biasanya menyumbang juara adalah ganda campuran. Owi/Butet bisa dijadikan sandaran di nomor ini--bahkan paling berpeluang merebut satu target yang dicanangkan PB PBSI.

"Kami menargetkan minimal satu gelar. Unggulan diharapkan bisa menunjukkan yang terbaik," ucap Susi Susanti, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, seperti dilansir Tribunnews.

Bila mengacu pada pernyataan Susi tersebut, Owi/Butet lah wakil Indonesia yang menempati unggulan tertinggi. Di luar Owi/Butet, PBSI menurunkan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti dan Ricky Karanda Suwardi/Debby Susanto--pasangan yang baru diduetkan pada awal tahun ini.

Sejauh ini, penampilan menjanjikan ditunjukkan Praveen/Melati. Di All England dan German Open, mereka melangkah hingga perempat final. Di Indonesia Masters, babak semifinal mampu mereka injak. Sedangkan di India Open, hingga babak final.

Sedangkan di ganda putri, tumpuan jelas jatuh ke tangan Greysia/Apriyani--peringkat delapan dunia. Satu wakil lain, ditempati Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta.

Sedangkan di sektor tunggal, nomor yang lebih berpeluang mengukir prestasi ada di sektor putra. Hal ini memang sudah seperti rahasia umum, tunggal putri belum bisa berbicara banyak. "Kalau kelas putri bisa dibilang targetnya di bawah," ucap Susi.

Masalahnya, di nomor tunggal putra, peluang Indonesia juga cukup kecil. Menurunkan tiga pemain inti pelatnas; Anthony Sinisuka Ginting, Jonatan Christie, dan Ihsan Maulana Mustofa, mereka semua mendapatkan undian tak menguntungkan sejak awal.

Pada babak pertama, Anthony akan berhadapan dengan wakil Sri Lanka, Niluka Karunaratne. Jika lolos, ia kemungkinan besar akan berjumpa Lee Chong Wei (Malaysia), pemain sarat pengalaman yang saat ini kemampuannya belum pudar.

Untuk Jonatan, dia akan bertemu dengan Kazumasa Sakai asal Jepang. Sakai bukan pemain kemarin sore. Sejauh ini, dari sekali pertemuan, Jonatan memang unggul. Tetapi, peringkat kedua pemain tak beda jauh: Jonatan 14 dunia dan Sakai 16 dunia.

Hasil undian lebih parah didapat Ihsan. Dia sudah harus berjumpa dengan peringkat dua dunia. Son Wan Ho (Korea), pada babak pertama.

"Peluangnya agak berat," ucap Hendry Saputra, Kepala Pelatih Tunggal Putra PBSI, yang dikutip dari Badmintonindonesia.org. "Walaupun bertemu pemain-pemain top, tidak apa-apa. Turnamen ini kan pesertanya sudah level dunia semua."

Meski demikian, Hendry menilai, peluang anak asuhnya untuk sampai ke semifinal masih terbuka. Sebab, menurutnya, para pemain tunggal putra sudah mempersiapkan BAC dan Piala Thomas jauh-jauh hari.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR