BULU TANGKIS

Sekjen PBSI: Kami tak membela PB Djarum, tapi bulu tangkis Indonesia

Achmad Budiharto tengah  menjalani sesi konferensi pers Indonesia Masters 2018 di Hotel Sultan, Senin (22/1/2018).
Achmad Budiharto tengah menjalani sesi konferensi pers Indonesia Masters 2018 di Hotel Sultan, Senin (22/1/2018). | Badmintonindonesia.org /PBSI

Untuk sementara, polemik antara PB Djarum dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) soal keberadaan Audisi Beasiswa Bulu Tangkis klub asal Kudus, Jawa Tengah, tersebut mereda.

Hal ini tak lepas dari mediasi yang dilakukan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpoara) pada Kamis (12/9/2019) kemarin. KPAI telah mencabut surat permintaan pemberhentian audisi kepada PB Djarum.

Sebaliknya, PB Djarum memenuhi permintaan KPAI, yakni tidak memasang logo atau apa pun yang berasosiasi dengan produk utama mereka, rokok Djarum, dalam audisi ini. Sekilas, masalah tersebut selesai.

Namun, itu hanya untuk sesaat. Sebab, PB Djarum belum memutuskan sikap untuk audisi di tahun-tahun mendatang. Setidaknya, keputusan Kamis kemarin hanya berlaku untuk tahun ini saja.

Itulah yang diungkapkan oleh Achmad Budhiarto, Sekretaris Jenderal PBSI, yang ikut dalam mediasi yang diadakan Kemenpora.

Berikut merupakan wawancara Beritagar.id dengan Budhiarto pada Rabu (11/9/2019) dan melalui saluran telepon dua hari setelahnya mengenai posisi PBSI dalam polemik ini.

Mediasi nampaknya bukan akhir dari polemik antara PB Djarum dengan KPAI. Benar demikian?
Fokus pertemuan kemarin lebih untuk menyelesaikan audisi tahun ini. Untuk tahun selanjutnya memang masih memberi kesempatan kepada PB Djarum untuk konsolidasi intern. Mereka (PB Djarum) belum memutuskan untuk langkah berikutnya.

Bukan kah sejak awal PB Djarum memang tak akan menggunakan logo apa pun terkait produk Djarum untuk audisi tahun ini?
Karena masih ada beda persepsi antara PB Djarum dengan KPAI yang menganggap nama PB Djarum maupun Djarum Foundation sebagai promosi produk rokok.

PB Djarum kan nama Perkumpulan Bulutangkis yang bernaung dibawah yayasan Djarum Foundation. Tidak ada hubungan dengan promosi rokok.

Jadi, pertemuan tersebut hanya mendudukan posisi masing-masing tanpa hasil konkret?
Ada perbedaan mendasar antara PT dengan yayasan. Kalau PT itu kan terkait dengan hukum persero terbatas, ada usaha-usaha bisnis di dalamnya.

Kalau yayasan, kan menangani hal-hal non-bisnis, seperti kemanusiaan, sosial, atau keagamaan. Tak ada unsur bisnisnya.

PBSI sendiri posisinya di mana dalam kasus ini?
Dalam hemat kami, PB Djarum itu kan berada di bawah Djarum Foundation, artinya tidak ada bisnisnya. Artinya tidak bisa dikaitkan dengan keluhannya KPAI yang mengatakan audisi ini sebagai promosi produk rokok.

KPAI mengatakan bukan mereka yang melarang, tapi PP No. 109/2012 yang melarang. Tanggapan Anda?
Makanya, kalau melihat dasar hukumnya itu berbeda. Kalau statusnya sudah berbeda, otomatis bidang usaha atau kegiatannya berbeda.

Dalam audisi, logo brand Djarum sebagai perusahaan penghasil produk tembakau dianggap KPAI bertebaran. Menurut Anda bagaimana?
Mereka menganggap audisi masih bagian dari usaha bisnis. Namun jangan salah, Djarum sendiri sudah mematenkan brand Djarum Foundation. Jadi mau ke mana pun argumennya (KPAI), ada dasar hukumnya PB Djarum.

Pihak Anda sudah bertemu dengan KPAI?
Sewaktu (Audisi Beasiswa Bulu Tangkis 2019) di Purwokerto Minggu (8/9), kami sudah men-challenge mereka (KPAI) untuk membuktikan ucapan dugaan eksploitasi yang disebutkan. Kita persilakan mereka untuk mengecek sendiri di lapangan.

Jadi pihak PBSI sudah bertemu sebelum mediasi?
Belum secara langsung, karena saat itu agenda masing-masing dari kami padat. Tapi, setelah saya challenge untuk check audisi di Purwokerto, mereka takut datang sampai meminta pengawalan segala. Memang kita menggigit apa.

Anda ini kan dari PBSI. Tapi jawaban Anda seperti sangat membela PB Djarum.
Ya bukan membela Djarum. Faktanya sekarang adalah yang bisa memberikan kontribusi olahraga bulu tangkis dengan total kan PB Djarum. Susi (Susanti/Kabidbinpres PBSI) mengatakan, 50 persen pemain nasional berasal dari PB Djarum. Ini fakta.

Apakah tidak ada cara lain, misalnya Anda mengusulkan kepada PB Djarum untuk mengubah audisi mereka.
Nama adalah history. PB Djarum membangun nama yang memiliki reputasi bukan sebentar. Ok, katakanlah namanya diganti, jadi PB Angin Ribut. Apakah orang pada mau datang ke audisi itu?

Bukankah dengan kondisi ini bisa menjadi tantangan bagi PBSI untuk menjaring talenta dengan cara lain?
Kita harus tahu porsinya. PBSI tidak punya kemampuan untuk mendidik anak usia dini sampai matang. Kami tidak memiliki kemampuan itu. Kecuali tiba-tiba pemerintah memberi kami Rp100 miliar, alhamdulillah. He he he.

Bukan, maksud saya, Anda bisa meminta kepada perusahaan lain untuk berkontribusi di dunia bulu tangkis sama seperti yang Djarum lakukan.
Kita memang harus meningkatkan peran swasta. Masalahnya, mereka mau tidak? Apakah ada perusahaan yang mampu (berkontribusi) di badminton? Banyak. Apakah ada yang lebih mampu dari Djarum? Banyak. Syaratnya kan cuma dua, mampu dan mau.

Atau, PBSI bisa minta ke klub-klub selain PB Djarum untuk meningkatkan penjaringan pemain muda.
Kepengennya begitu, tapi pertanyaannya, mereka punya kemampuan nggak? Yang selama ini ada audisi agar menyerap talenta dengan banyak kan baru PB Djarum dan Mutiara (Bandung). Mutiara saja hanya melakukan audisi di daerahnya sendiri.

(Klub) lain caranya bergerilya, nggak akan menimbulkan multiple efek seperti audisi PB Djarum.

Catatan redaksi: Beritagar.id terafiliasi tak langsung dengan Djarum Foundation.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR