PIALA DUNIA 2018

Serba-serbi drama adu penalti dalam Piala Dunia

Pemain Kroasia Ivan Rakitic melakukan tendangan penalti yang menjadi penentu kemenangan Kroasia atas Rusia 4-2 (2-2) pada pertandingan perempat final Piala Dunia Rusia, Rabu 7 Juli 2018.
Pemain Kroasia Ivan Rakitic melakukan tendangan penalti yang menjadi penentu kemenangan Kroasia atas Rusia 4-2 (2-2) pada pertandingan perempat final Piala Dunia Rusia, Rabu 7 Juli 2018. | Khaled Elfiqi /Epa

Fyodor Smolov tertunduk lesu kemudian berusaha mengangkat wajahnya dengan tatapan kosong ke arah puluhan ribu penonton yang hening. Di Stadion Fisht, Sochi (7/7/2018), tendangan Smolov ditepis kiper Kroasia, Danijel Subasic.

Smolov gagal mengulang kesuksesannya sebagai penendang pertama Rusia ketika melawan Spanyol pada babak 16 besar. Semua penendang tuan rumah saat itu berhasil melesakkan bola dan melaju ke babak perempat final Piala Dunia Rusia 2018.

Pada babak perempat final, kegagalan Smolov menjadi jalan suram Rusia menuju kekalahan. Rusia akhirnya tersingkir lewat drama adu penalti yang kerap disetarakan dengan Russian roulette. Rusia menjadi tuan rumah yang tersingkir lewat adu penalti setelah Italia dijungkalkan Argentina pada 1990.

Adu penalti, seperti halnya Russian roulette, tak mudah ditebak sehingga selalu mengundang ketegangan. Bukan perkara gampang mencetak gol lewat titik putih yang "hanya" berjarak 11 meter dari garis gawang.

Sejak 1982 sampai perempat final Piala Dunia 2018 ini, drama dan ketegangan pun tersaji lewat 279 tendangan adu penalti. Tendangan penalti sedianya telah dikenal dalam sepak bola sejak 1890, tetapi baru sebatas hukuman atas pelanggaran.

Adu penalti mulai digunakan dalam Piala Dunia oleh Federasi Asosiasi Sepak Bola Internasional (FIFA) sejak 1978. Sebelumnya, pertandingan sepak bola akan diulang kalau dua tim bermain imbang meski sudah melewati perpanjangan waktu.

Meski diperkenalkan pada 1978, adu penalti pertama kali terjadi pada 1982 ketika Jerman Barat menghadapi Prancis di semifinal.

Berdasarkan data FIFA yang diolah Lokadata Beritagar.id, sebagian besar pemain berhasil melesakkan bola ke gawang ketika adu penalti. Sejak 1982 sampai perempat final Piala Dunia 2018, hanya 29,7 persen atau 83 kali tendangan gagal berbuah gol.

Pemain pengganti memiliki catatan kegagalan lebih besar (32 persen) ketika melakukan tendangan penalti. Smolov—main pada menit ke-67 menggantikan Denis Cheryshev—menambah catatan kegagalan pemain cadangan dalam mengeksekusi tendangan penalti.

Kegagalan terbanyak dalam mengeksekusi penalti terjadi pada Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Dari total 29 tendangan, hanya 62 persen yang berhasil menjadi gol. Kegagalan paling fenomenal pun terjadi pada edisi itu. Eksekusi terakhir dari penyerang Italia, Roberto Baggio, melambung di atas mistar gawang.

Kegagalan Italia pada adu penalti 1994 diawali oleh kapten Franco Baresi. Tendangan Daniele Massaro lalu berhasil ditahan kiper Brasil, membuat tiga dari lima penendang Italia tak menuai hasil. Brasil pun memastikan diri jadi juara.

Rasio sukses tendangan penalti Piala Dunia FIFA 1982- perempat final 2018.
Rasio sukses tendangan penalti Piala Dunia FIFA 1982- perempat final 2018. | Beritagar /FIFA

Drama adu penalti mewarnai pesta sepak bola dunia empat tahunan itu, kecuali pada 1978. Hingga perempat final Piala Dunia 2018, 30 laga harus ditentukan melalui adu penalti: laga perempat final 12 kali, putaran kedua 11, semifinal 5, dan final 2 kali.

Piala Dunia Spanyol 1982 menampilkan satu kali penalti di babak semifinal ketika Jerman Barat menghadapi Prancis. Jerman Barat menang, tetapi akhirnya harus puas menempati urutan kedua dan Italia menjadi juara.

Pada Piala Dunia 1986, laga yang diakhiri adu penalti bertambah menjadi tiga. Jumlah yang sama terjadi pada Piala Dunia 1994 dan 1998. Adapun Piala Dunia 2002 dan 2010 menampilkan dua adu penalti.

Laga dalam Piala Dunia 2018 Rusia termasuk yang banyak ditentukan oleh adu penalti. Ada empat drama kiper-penendang harus berhadapan, dan bisa bertambah kalau final Kroasia lawan Prancis pada 15 Juli 2018 nanti berakhir dengan adu penalti. Edisi piala dunia yang juga menyajikan empat kali adu penalti adalah pada 1990 dan 2006.

Argentina dan Kroasia menempatkan diri sebagai negara yang memenangi dua kali adu penalti dalam sekali perhelatan. Dua kali adu penalti itu dimenangi Argentina pada Piala Dunia 1990. Berhasil menggusur Yugoslavia pada babak perempat final, dan Italia pada semifinal, Argentina lalu tumbang lewat gol tunggal Jerman Barat di final.

Adapun Kroasia melewati babak 16 besar Piala Dunia 2018 melalui adu penalti dengan menundukkan Denmark. Ivan Rakitic menjadi penentu kemenangan dalam dua drama adu penalti Kroasia saat melawan Denmark maupun Rusia.

Dalam dua laga itu, Rakitic menjadi penendang kelima yang menentukan kemenangan Kroasia. Keberhasilan Rakitic pun semakin menyempurnakan penendang kelima yang tendangannya berbuah gol sekaligus membawa timnya menang.

Piala Dunia kali ini juga diliputi rekor baru. Tim yang menendang terlebih dulu justru kalah. Ini terjadi saat Rusia menundukkan Spanyol; Kroasia mengalahkan Denmark; Inggris menyingkirkan Kolombia; dan Kroasia membungkam tuan rumah, Rusia.

Masih ada peluang bertambahnya rekor, bila pada babak final 15 Juli nanti kemenangan harus diraih melalui tos-tosan lagi. Sejak 1982, baru dua kali adu penalti untuk menentukan juara, pada 1994 dan 2006.

Tendangan penalti sukses di Piala Dunia FIFA berdasarkan urutan penendang dan posisi pemain 1982-perempat final 2018.
Tendangan penalti sukses di Piala Dunia FIFA berdasarkan urutan penendang dan posisi pemain 1982-perempat final 2018. | Beritagar /FIFA

"Penalti itu seperti lotre," kata kapten Denmark, Simon Kjaer setelah kalau dalam adu penalti melawan Kroasia pada laga 16 besar Piala Dunia 2018. Pernyataan sang kapten itu pun diamini pelatih Age Hareide.

Ungkapan penalti sebagai lotre alias undian yang mengandalkan untung-untungan itu pun menjadi dalih bagi pelatih Spanyol, Fernando Hierro. Pernyataan Hierro muncul seusai tim asuhannya kalah dari Rusia dalam adu penalti di babak kedua atau 16 besar.

Adu penalti memang sering dituding sebagai Russian roulette. Tetapi, adu penalti bukan sekedar mengundi nasib lewat satu peluru dalam pistol yang menentukan hidup-mati. Kemampuan dan mental penendang serta kiper dapat menentukan sukses sebuah tim melewati drama adu penalti itu.

Pelatih, penendang, serta kiper harus memahami karakter lawannya, sebagai penendang maupun kiper, misalnya kecenderungan arah tendangan.

Opta Sports, perusahaan analisis olahraga Inggris, mencatat bahwa posisi paling populer menjadi target tendangan adalah sisi kiri bawah kiper. Tendangan terburuk dalam adu penalti adalah mengarah ke bawah tengah dengan hanya mencatat peluang 58 persen.

Kapten tim nasional, biasanya dianggap memiliki mental cukup baik sebagai eksekutor penalti. Tengok saja data yang diolah Lokadata Beritagar.id. Ada 30 tendangan penalti dilakukan kapten, sisanya (249) oleh pemain lain. Dari 30 tendangan, 24 berhasil masuk (80 persen). Pemain lain berhasil memasukkan 172 gol (69 persen) dari 249 tendangan.

Sang kapten bisa jadi lebih banyak sukses menendang bola, tetapi tak selalu membawa timnya menang. Kapten penendang pertama yang sukses mencetak gol bagi tim menang dan kalah komposisinya sama (20 persen).

Capaian Luka Modric terhitung menarik, karena tendangan penaltinya sempat ditepis kiper Denmark, empat menit sebelum perpanjangan waktu berakhir pada babak 16 besar. Namun, saat adu penalti Sang Kapten tak mengulangi kesalahannya.

Tentu saja bukan hanya kapten yang bakal membawa tim menang bahkan juara. Semua pemain berperan terhadap sukses tim. "Tim lebih penting daripada hadiah pribadi," ujar Modric dikutip Total Croatia News.

Tendangan penalti sukses di Piala Dunia FIFA oleh kapten, pemain utama, dan pemain pengganti 1982-perempat final 2018.
Tendangan penalti sukses di Piala Dunia FIFA oleh kapten, pemain utama, dan pemain pengganti 1982-perempat final 2018. | Beritagar /FIFA
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR