LIGA NEGARA UEFA

Setelah 31 tahun, Inggris akhirnya menang lagi di Spanyol

Suasana panas antara pemain Spanyol dan Inggris kala bertemu di pertandingan ketiga Grup A4 Liga Negara UEFA di Stadion Benito Villamarin, Seville, Spanyol (15/10/2018).
Suasana panas antara pemain Spanyol dan Inggris kala bertemu di pertandingan ketiga Grup A4 Liga Negara UEFA di Stadion Benito Villamarin, Seville, Spanyol (15/10/2018). | Julio Munoz /EPA-EFE

Untuk kali pertama sejak 31 tahun, tim nasional sepak bola Spanyol akhirnya takluk dari Inggris di kandang sendiri. Dominasi tersebut berhenti kala mereka takluk 2-3 di pertandingan ketiga Grup A4 UEFA Nations League (Liga Negara UEFA), Selasa (16/10/2018) dini hari WIB.

Dua gol dari Raheem Sterling pada menit 16 dan 38 serta Marcus Rashford (29) pada laga yang berlangsung di Stadion Benito Villamarin, Seville, Spanyol, hanya mampu dibalas oleh Paco Alcacer (68) dan Sergio Ramos (90+7).

Inggris sebelumnya berjaya di Spanyol pada 1987 ketika Garry Lineker dkk. menang 4-2 di Santiago Bernabeu, Madrid. Setelah itu Si Tiga Singa selalu kalah dalam empat pertemuan di kandang Spanyol.

Selain itu, untuk pertama kali dalam sejarah Spanyol kebobolan tiga gol dalam satu pertandingan internasional resmi di kandang. Laga pada 1987 berstatus persahabatan, jadi tak masuk hitungan.

Usai pertandingan, kapten Spanyol, Sergio Ramos, menyatakan bahwa mereka tidak bermain buruk tetapi lengah dan seperti memberi hadiah kepada Inggris pada babak pertama.

"Dalam tipe pertandingan seperti ini, bukan bagaimana cara Anda memainkan laga, tapi lawan menghukummu," ucap Ramos, yang malam itu mengenakan ban kapten Spanyol untuk ke-160 kalinya, dalam laman resmi Liga Negara UEFA.

Seperti yang diungkapkan Ramos, Spanyol memang memainkan sepak bola seperti biasa. Permainan bola-bola pendek membuat mereka unggul dalam penguasaan bola.

BBC mencatat, anak asuh Luis Enrique mampu menguasai 73 persen bola, melepaskan 23 tembakan dan lima tepat sasaran. Namun, Inggris bukanlah tim kacangan.

Dengan segudang pemain hebat, Three Lions mengatasi pola main Spanyol itu dengan cara merapatkan pertahanan dan memanfaatkan serangan balik. Hasilnya, sangat baik. Dari tiga tendangan tepat sasaran, semuanya menjadi gol.

Untuk dapat melakukan hal itu, dibutuhkan pemain depan yang cepat dan tidak egois. Di sinilah Sterling dan Harry Kane berperan. Sebagai kapten tim, Kane menunjukkan kedewasaannya lewat dua assist. Kane mampu menjadi "tembok pantulan" bagi pemain depan lainnya.

Sedangkan Sterling, ia menunjukkan kelasnya sebagai penyerang cepat yang berbahaya. "Mereka (Inggris) tim kelas dunia. Mereka baik secara kolektif dan berbahaya lewat permainan individunya," kata Ramos.

"Saya berjanji, kami akan menang dan mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada tim ini."

Hal yang sama diungkapkan bek sayap Spanyol, Marcos Alonso. "Kami akan ke Kroasia dan berusaha menunjukkan permainan terbaik dan menang," kata Alonso. "Untuk Kane, dia adalah pemain besar, yang telah ia tunjukkan selama bertahun-tahun."

Meski kalah, posisi Spanyol di Grup A3 masih aman. Dengan enam poin dari tiga pertandingan, mereka duduk di posisi puncak. Inggris berhasil naik ke posisi kedua dengan empat poin dari tiga pertandingan. Krosia di posisi buncit, 1 poin dari dua laga.

Kemenangan atas Spanyol tadi tidak hanya menghidupkan asa Inggris untuk lolos ke babak semifinal. Namun juga menjadi pencapaian tersendiri bagi mereka. Seperti yang diungkapkan oleh Rashford.

"Kemungkinan ini adalah kemenangan terbesar bagi kami. Tentu saja kami sangat senang dengan kemenangan tersebut," ucap Rashford. "Kami dapat pulang ke rumah dengan bangga dengan kolektivitas demikian."

Ada satu resep yang membuat Inggris dapat memenangi laga ini. Sebelum pertandingan, Manajer Inggris, Gareth Southgate, mengingatkan anak asuhnya untuk bermain lepas dan mencoba keluar dari pressing ketat para pemain Spanyol.

"Jika kalian dapat melakukan itu, kita akan membalasnya melalui serangan balik," ucap Southgate kala mengingatkan anak buahnya sebelum pertandingan dimulai, dalam Sky Sports (H/T Goal).

"Penyelesaian akhir sempurna. Saya senang dan kami tengah membangun tim."

Di tangan Southgate, wajah Inggris memang berubah cukup drastis. Mereka menjadi salah satu klub dengan rata-rata pemain paling muda sepanjang Piala Dunia 2018. Kini, kebiasaan itu tak ia ubah.

Mantan Manajer klub Middlesbrough tersebut masih menggunakan sejumlah pemain yang masuk dalam kategori non-bintang. James Maddison, Mason Mount, hingga Nathaniel Chalobah adalah beberapa di antaranya.

Mereka adalah pemain dengan usia sekitar 21 tahun. Memang, dalam pertandingan tersebut baru Chalobah yang bermain. Namun, keputusan Southgate membawa nama-nama tersebut patut diberi kredit, terlebih melawan Spanyol.

"Sejumlah pemain muda telah muncul dan benar-benar memberi kami banyak pilihan," kata Southgate. "Untuk ukuran pemain muda, penampilan mereka sudah sangat dewasa."

Kini, Inggris memiliki kans untuk melaju ke semifinal. Syaratnya, mereka harus memenangi satu laga tersisa melawan Krosia pada pertengahan November mendatang; sekaligus berharap Spanyol kalah dari Kroasia, atau minimal imbang.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR