FUZHOU CHINA OPEN

Setelah laga dramatis di Istora, Ginting hadapi Shi Yuqi lagi

Anthony Sinisuka Ginting memukul kok saat menghadapi Jonatan Christie pada babak kedua Fuzhou China Open 2018 di Fuzhou, Tiongkok, Kamis (8/11/2018). Ginting menang 22-20, 20-22, 21-11.
Anthony Sinisuka Ginting memukul kok saat menghadapi Jonatan Christie pada babak kedua Fuzhou China Open 2018 di Fuzhou, Tiongkok, Kamis (8/11/2018). Ginting menang 22-20, 20-22, 21-11. | BadmintonIndonesia.org /PBSI

Tunggal putra Indonesia Anthony Sinisuka Ginting akan bertemu dengan unggulan ke-2 dari Tiongkok, Shi Yuqi, pada perempat final Fuzhou China Open 2018, Jumat (9/11). Ingatan akan pertarungan dramatis mereka di Asian Games 2018 pun mencuat.

Ketika itu, dalam final beregu putra di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Ginting gagal menyelesaikan pertandingan akibat cedera otot paha kanan. Kegigihan pebulu tangkis berusia 22 tahun itu untuk menyelesaikan pertandingan walau sudah tampak kesakitan dan sempat mendapat perawatan medis, menjadi sebuah kisah heroik.

Shi (22) juga dipuji karena tindakan sportifnya. Ia tidak memberi pukulan sulit saat Ginting memaksakan diri bermain walau tertatih di lapangan. Ketika Ginting akhirnya terkapar, Shi mendekatinya untuk memberi semangat dan sama sekali tidak merayakan kemenangan tersebut.

Kekalahan Ginting itu, yang bermain sebagai tunggal pertama, menjadi awal kekalahan tim putra Indonesia dari Tiongkok pada final tersebut.

Kini, untuk pertama kalinya sejak peristiwa itu, kedua pemain bakal bertarung lagi di lapangan, pada babak delapan besar turnamen HSBC BWF Tour Super 750 yang berhadiah total 700.000 dolar AS (Rp10,2 miliar) itu.

Ginting, yang menyingkirkan rekan senegara, Jonatan Christie, 22-20, 20-22, 21-11 di babak kedua, Kamis (8/11), pastinya ingin menuntaskan rasa penasaran. Sudah tiga kali ia melawan Shi dan selalu kalah.

"Yang paling penting adalah bermain sabar, sudah di turnamen level ini pasti lawan-lawannya tidak mudah dimatikan. Kalau ada bola tanggung pun jangan terburu-buru mau mematikan," tutur Anthony kepada BadmintonIndonesia.org, seperti menasihati dirinya sendiri sebelum menghadapi Shi.

"Kalau sedang dibawah tekanan atau bahkan saat unggul, kadang saya masih suka membuat kesalahan sendiri. Fokusnya harus dijaga terus, dan saya berharap bisa tampil konsisten dari awal hingga akhir permainan," tambahnya.

Ginting menjadi satu-satunya tunggal putra Indonesia yang tersisa setelah Tommy Sugiarto kalah 21-10, 9-21, 9-21 dari pemain India Srikanth Kidambi.

Kejutan terjadi di ganda putra. Pasangan senior Indonesia, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan menyingkirkan unggulan keempat dari Jepang, Takeshi Kamura/Keigo Sonoda.

The Daddies--julukan ganda putra Indonesia itu--bangkit dari keterpurukan pada gim pertama untuk menang 13-21, 21-17, 21-9 dalam 51 menit.

“Pada gim kedua kami mencoba lebih sabar karena kok amat lambat. Ketika kami mendapatkan peluang untuk menyerang, kami melakukannya sepenuh tenaga," jelas Hendra dalam laman BWF.

"Kami menggunakan taktik yang sama pada gim ketiga dan pemain Jepang itu tidak sekuat di gim pertama."

Lawan berikutnya adalah ganda muda India, Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty, yang mengalahkan Ade Yusuf/Wahyu Nayaka 21-16, 14-21, 15-21.

Kedua ganda itu belum pernah bertemu tetapi Hendra melihat duo India itu cukup bagus dan peluangnya untuk menang 50-50.

"Kami mencoba untuk mendapatkan hasil yang bagus di sini dan di Hong Kong untuk bisa maju ke finals di Guangzhou," tegasnya.

Finals yang dimaksud Hendra adalah turnamen penutup tahun HSBC BWF World Tour Finals yang bakal berlangsung di Guangzhou, Tiongkok, 12-16 Desember. Hanya peringkat 8 besar World Tour yang bisa bermain di turnamen berhadiah total 1,5 juta dolar AS itu.

Saat ini Hendra/Ahsan masih berada di peringkat ke-10. Namun juara dunia 2013 dan 2015 itu hanya terpaut sekitar 2.000 poin dari peringkat ke-8 yang saat ini ditempati Kamura/Sonoda.

Jadi, hasil bagus di Fuzhou dan Hong Kong Open, yang akan berlangsung pada 13-18 November, bisa menaikkan peringkat mereka untuk bisa lolos ke Guangzhou.

Ganda putra no. 1 dunia Kevin Sanjaya/Marcus Gideon juga melangkah ke babak delapan besar. Tanpa kesulitan berarti The Minions mengakhiri perlawanan ganda Korea Selatan, Kang Min Hyuk/Kim Won Ho, 21-18, 21-11.

Kim Astrup/Anders Rasmussen, unggulan keenam dari Denmark, akan menjadi lawan The Minions berikutnya.

Ganda putri Apriyani Rahayu/Greysia Polii juga lolos ke perempat final. Unggulan keempat itu menaklukkan Kim Hye Jeong/Kong Hee Yong dari Korsel, 21-16, 21-19.

Pada babak delapan besar, Jumat (9/11), Apriyani/Greysia kembali menghadapi lawan dari Korsel, yaitu Lee So Hee/Shin Seun Chan.

Juga melangkah ke perempat final adalah ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Praveen Jordan/Melati Oktavianti.

Tontowi/Liliyana menang mudah, 21-4, 21-15, atas Kim Hwi Tae/Kim Hye Jeong hanya dalam waktu 22 menit. Sementara Praveen/Melati menundukkan ganda Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying 21-17, 21-15.

Berikutnya Tontowi/Liliyana akan menghadapi He Jiting/Du Yue, sedangkan Praveen/Melati berebut tiket ke semifinal dengan unggulan kedua dari Tiongkok, Wang Yilyu/Huang Dongping.

BACA JUGA