Siapa bilang sepak bola Indonesia mati

Pemain Persiba Balikpapan Dikkir Khon (kiri) melawan pemain Madura United FC Pablo Ridrigues Aracil pertandingan persahabatan di Stadion A. Yani, Sumenep, Madura, Jatim, 20 Februari 2016
Pemain Persiba Balikpapan Dikkir Khon (kiri) melawan pemain Madura United FC Pablo Ridrigues Aracil pertandingan persahabatan di Stadion A. Yani, Sumenep, Madura, Jatim, 20 Februari 2016 | Saiful Bahri /Antara Foto

PSSI mendapat sanksi administratif dari pemerintah sehingga segala operasionalnya terhenti sejak 17 April 2015. Sejak itu seluruh aktivitas persepakbolaan tanah air, antara lain liga profesional ISL, otomatis terhenti.

Pembekuan PSSI, demikian publik menyebut sanksi dari pemerintah itu. Sedangkan FIFA menyebutnya intervensi pemerintah yang memang terlarang untuk federasi sepak bola sebuah negara lantaran sifatnya yang independen dan otonomis.

Alhasil FIFA mengucilkan PSSI mulai Mei 2015. Konsekuensi logisnya, timnas Indonesia tidak bisa ikut bertanding di kancah regional dan internasional. Itu sebabnya peringkat Indonesia di FIFA makin anjlok per Oktober 2015.

Situasi itu membuat situasi sepak bola Indonesia seolah mati suri. Tapi menurut Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi, sepak bola Indonesia tetap hidup --tidak mati.

"Siapa bilang mati? Coba lihat, pertandingan sepak bola lokal ada terus di televisi. Pembinaan usia muda kita jalan terus," kata Imam saat diwawancarai Beritagar.id di ruang tamu Menpora, Jalan Graha Pemuda, Jakarta Pusat, Selasa (8/3/2016).

Imam tidak menjelaskan lebih lanjut apa saja pembinaan usia muda yang berjalan. Tapi politisi Partai Kebangkitan Bangsa ini mengakui sepak bola yang "hidup" hanya kategori non-resmi.

Para pemain klub-klub Indonesia menyebar tampil di liga tarkam (tarikan kampung). Sebagian lainnya, bersama klub masing-masing, bergerilya bermain di beberapa turnamen. Tidak heran para pemain profesional itu merindukan kompetisi.

Imam berkukuh kompetisi tak akan pernah jalan lagi selama PSSI tidak mau menunjukkan komitmen untuk mereformasi diri. Komitmen yang dimaksud adalah niat baik untuk menjalankan sejumlah syarat dari pemerintah.

Lalu apakah Anda pernah mendekati klub-klub sebagai jalan alternatif melakukan reformasi PSSI?

"Saya pernah undang semua klub ke sini (kantor menpora). Tapi mereka menolak reformasi PSSI. Jadi saya bertanya, ada apa di balik semua ini?" kata menteri berdarah Madura yang dua dari tiga orang anaknya disebut sebagai penggemar Persib Bandung dan Arema Cronus.

Perkembangan terbaru, Senin (7/6), Mahkamah Agung menolak kasasi banding Menpora terhadap gugatan PSSI. Artinya, secara de jure, sanksi administratif yang dikeluarkan pemerintah untuk PSSI tidak sah dan harus dicabut.

Namun Imam enggan berkomentar lebih jauh soal itu. "Saya belum tahu amar putusannya seperti apa, jadi saya belum tahu harus bersikap bagaimana." Tapi laman kemenpora menyebut Menpora akan mempertimbangkan pengajuan Peninjauan Kembali (PK).

Catatan redaksi: Nantikan wawancara lengkap Beritagar.id dengan Menpora Imam Nahrawi pada Kamis (10/3).
Menpora Imam Nahrawi (kanan) bergaya untuk Beritagar.id di ruang tamu kantornya di Jalan Graha Pemuda, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (8/3/2016)
Menpora Imam Nahrawi (kanan) bergaya untuk Beritagar.id di ruang tamu kantornya di Jalan Graha Pemuda, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (8/3/2016) | Hedi Novianto /Beritagar.id
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR