PRANCIS TERBUKA 2018

Simona Halep angkat trofi Grand Slam pertamanya

Simona Halep mencium Coupe Suzanne Lenglen, trofi untuk juara tunggal putri Prancis Terbuka, usai menaklukkan Sloane Stephens pada final di Roland Garros, Paris, Sabtu (9/6/2018).
Simona Halep mencium Coupe Suzanne Lenglen, trofi untuk juara tunggal putri Prancis Terbuka, usai menaklukkan Sloane Stephens pada final di Roland Garros, Paris, Sabtu (9/6/2018). | Julien De Rosa /EPA-EFE

Rasa penasaran Simona Halep terjawab sudah. Ia kini sudah tahu bagaimana rasanya menjuarai sebuah turnamen Grand Slam, sekaligus menjawab keraguan soal kelayakannya untuk menempati posisi no. 1 di dunia tenis putri.

Menempati peringkat pertama rangking Asosiasi Tenis Putri (WTA) tanpa pernah menjuarai Grand Slam--kasta tertinggi turnamen tenis--bagaikan sayur tanpa garam. Sang petenis takkan pernah benar-benar diakui sebagai yang terbaik pada masanya. Dinara Safina pernah merasakan hal tersebut.

Usai menaklukkan Sloane Stephens 3-6, 6-4, 6-1 pada final di Roland Garros, Sabtu (9/6/2018), Halep kini benar-benar dianggap sah untuk menduduki posisi sebagai petenis tunggal putri no. 1 di dunia.

Petenis asal Rumania tersebut berhasil membayar kegagalannya dalam dua final Prancis Terbuka sebelumnya dan juga ketika ditundukkan Caroline Wozniacki pada final Australia Terbuka awal tahun ini.

Telur itu dipecahkannya.

"Saya telah memimpikan momen ini sejak saya mulai bermain tenis," kata Halep usai bertarung 2 jam 3 menit di lapangan Philippe-Chatrier. "Ini adalah Grand Slam favorit saya. Saya selalu mengatakan jika hanya bisa menang sekali saja, saya ingin menang di sini. Sekarang menjadi kenyataan."

Kenyataan yang diraihnya dengan penuh perjuangan. Halep sempat kalah 3-6 di set pertama dan tertinggal 0-2 pada set kedua. Bayangan akan kekalahan seperti pada final tiga Grand Slam yang pernah dialaminya, diakui Halep, mulai mengganggunya kembali.

Namun ia teringat final di Roland Garros tahun lalu. Saat itu situasinya terbalik. Halep tengah unggul satu set atas Jelena Ostapenko, tetapi sang lawan bisa membalikkan keadaan untuk mengangkat Coupe Suzanne Lenglen pada akhir pertandingan.

"Jadi saya yakin ada peluang juga bagi saya untuk bangkit dan menang," ujar Halep, dikutip BBC. "Saya meyakini itu...menjadi lebih tenang. Saya bisa membuat beberapa hal terjadi di lapangan dan itulah mengapa saya menang."

Keuletan dan semangat tinggi, menurut Stanley Kay dari Sports Illustrated, adalah kunci kemenangan Halep. Ia memanfaatkan keunggulan staminanya untuk menguras tenaga Stephens dengan bermain reli panjang. Saat sang lawan tampak melemah, Halep langsung menyerang dan menaklukkannya.

"Saya tenang, saya fokus, dan saya tak menyerah pada momen apapun," tegas Halep.

Rumania pun kembali memiliki juara tunggal putri Prancis Terbuka setelah 40 tahun. Warga negara tersebut yang pertama mengangkat trofi Suzanne Lenglen adalah Virginia Ruzici pada 1978, perempuan yang kini menjadi mentor dan manajer Halep.

Pesta besar di Paris, kata Halep, akan diadakannya. Ia kemudian akan berlibur sebelum bersiap untuk menghadapi musim lapangan rumput, dengan target utama menang di Grand Slam berikutnya, Wimbledon.

"Rumput segera datang, ada beberapa turnamen di depan mata, tapi sekarang saya libur," tuturnya. "Jadi saya tidak akan membahas turnamen berikutnya. Saya ingin menikmati momen ini."

Bagi Stephens, juara AS Terbuka 2017, itu adalah kekalahan pertama dalam tujuh laga final turnamen yang pernah dicapainya.

Petenis Amerika Serikat itu mengakui bahwa Halep layak menang karena berhasil meningkatkan permainannya saat sudah tertinggal.

"Tak banyak yang bisa Anda lakukan. Saya bermain sebaik saya bisa, dan pemain yang lebih baik menang hari ini. Jelas saya melihat peluang pada set kedua. Anda belajar dari itu. Anda terus berjalan. Anda mencoba lebih baik pada lain kali," jelas Stephens, yang naik ke peringkat ke-4 dunia, terbaik di AS saat ini.

Ia menyatakan turut berbahagia untuk Halep atas keberhasilannya membuktikan diri sebagai salah satu petenis putri terbaik di dunia saat ini.

"Saya pikir ia mengalami perjalanan yang berat," kata Stephens kepada New York Times.

"Saya senang akhirnya dia mendapat Slam pertamanya. Itu adalah hal yang indah, sangat istimewa. Seberat apapun jalan yang Anda lewati, selalu ada cahaya di ujung terowongan, dan saya senang dia akhirnya menemukan cahaya itu."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR