OBITUARIUM

Sprinter legendaris Indonesia itu telah tiada

Purnomo Muhammad Yudhi (tengah/baju merah) bersama para atlet dan pengurus PB PASI yang menjenguknya di kediamannya pada 31 Juli 2018.
Purnomo Muhammad Yudhi (tengah/baju merah) bersama para atlet dan pengurus PB PASI yang menjenguknya di kediamannya pada 31 Juli 2018. | PB PASI

Kabar duka datang dari dunia olahraga tanah air. Salah satu sprinter legendaris Indonesia, Purnomo Muhammad Yudhi, mengembuskan napas terakhirnya pada Jumat (15/2/2019) pagi di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta.

Lelaki kelahiran Ajibarang, Purwokerto, Jawa Tengah, 56 tahun lalu itu meninggal setelah bergelut dengan penyakit kanker kelenjar getah bening dalam empat tahun terakhir. Ia meninggalkan seorang istri dan empat orang putra.

"Ini sebuah kehilangan bagi dunia atletik indonesia. Dengan pak Purnomo, kami pernah memiliki sprinter yang pernah merajai lari 100 meter Asia Tenggara," ucap Tigor Tanjung, Sekjen PB Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI), dalam detikcom.

Berbicara mengenai Purnomo, sepertinya tak bisa lepas dari kata perjuangan. Ia bisa disebut sebagai wujud dari perjuangan itu sendiri. Semasa hidupnya, Purnomo tak pernah letih mencapai targetnya dengan segala keterbatasan yang dimiliki.

Ia bukanlah anak orang kaya, melainkan hanya putra seorang petani. Saking terbatasnya kocek yang ia miliki, Purnomo bahkan hanya mengenakan kaus kaki tanpa sepatu saat mengikuti kejuaraan atletik pertamanya ketika kelas 3 SMA.

Soal hal itu, Purnomo seperti tak ingin membesar-besarkan. "Itu hanya masa lalu," kata suami R.Ay. Endang Irmastiwi tersebut kepada Bisnis Indonesia, Februari 2018. "(Namun) ya lumayan untuk cerita ke anak-cucu."

Sebenarnya, memulai kejuaraan saat usia yang cukup dewasa tadi juga bukan hal umum --jika tidak ingin disebut terlambat. Namun, ia seolah mengabaikan hal itu.

Demi menggapai cita-citanya, yaitu seperti Mohammad Sarengat (sprinter peraih dua emas pada Asian Games 1962 di Jakarta), ia pun mengasah kemampuan berlarinya.

Dalam sehari, Purnomo berlatih dua kali, yakni pukul 05.00 hingga 06.30 dan sepulang sekolah sekitar pukul 15.00. Purnomo melakoni jadwal tersebut hampir sepanjang periode ia bersekolah.

Hasilnya, penabalan sebagai atlet sprint legendaris Indonesia rasanya tak berlebihan. Ia menjadi satu-satunya atlet Asia pada babak semifinal Olimpiade 1984 Los Angeles, Amerika Serikat, dalam nomor bergengsi 100 meter.

Setahun sebelumnya, atau pada Kejuaraan Dunia di Helsinki 1983, Purnomo juga menjadi satu-satunya wakil Asia dalam final 100 meter putra. Sedangkan pada 1985, dia berhasil meraih medali emas 100 meter putra pada Kejuaraan Atletik Asia Jakarta 1985.

Namun, bila ditanya pencapaian yang paling membanggakan, Olimpiade 1984-lah yang akan dijawab. "Kalau ditanya, Olimpiade 1984 saya pasti terharu," ucap Purnomo dalam Kompas.com, Juli 2012.

Nama Purnomo semakin harum kala pada 1987 berhasil memecahkan rekor sebagai pelari tercepat Indonesia untuk nomor 100 meter sepanjang sejarah.

Dengan catatan waktu 10.30 detik, ia memecahkan rekor yang telah bertahan selama 25 tahun atas nama Sarengat, atlet idolanya. Pada 1962, Sarengat menjadi sprinter tercepat di Asia dengan catatan waktu 10.50.

Selain semua capaian tersebut, Purnomo mencatat banyak prestasi lain. Di antaranya adalah emas 200 meter dan estafet 4 x 100 meter pada SEA Games Bangkok 1985.

Selepas jadi atlet, ia menekuni di sejumlah kegiatan. Salah satunya bekerja untuk produsen apparel olahraga internasional. Selain itu, ia juga menjadi anggota Indonesia Olympian Assosiation (IOA) hingga pada 2010 ditunjuk sebagai ketuanya.

Sayang, dalam empat tahun terakhir, kesehatannya mulai menurun karena penyakit kanker getah bening. Hingga 2019, ia setidaknya lima kali masuk-keluar rumah sakit.

Pada pertengahan 2018, kepada JPNN, ia berujar, "Dokter yang merawat saya bilang, kalau bukan mantan atlet, mungkin saya sudah 'lewat' lebih dahulu."

Menurut Tuti Mardiko, Wakil Sekjen PASI, perjuangan Purnomo menghadapi penyakitnya dihadapi dengan tabah. Senyum khasnya tak pernah lepas dari wajahnya.

"Dia orangnya gak gampang menyerah. Dia pernah bilang ke saya, 'Mbak, saya ingin tetap sehat. Saya ingin membantu para atlet (di IOA)'," kata Tuti kepada Beritagar.id, Jumat (15/2) siang.

Menurut Tuti, kata terakhir yang diucapkan Purnomo kepadanya adalah, "Mbak saya ngantuk. Lemas," ucap Tuti. Itu terjadi Jumat (8/2) pekan lalu.

Kini, Purnomo telah mencapai garis finis dalam hidupnya. Ia pun berulang kali membanggakan nama Indonesia di lintasan atletik internasional.

Terima kasih Purnomo, Beristirahatlah dengan tenang.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR