SEPAK BOLA EROPA

Sulit bagi Sarri untuk menolak Juventus

Pelatih Chelsea Maurizio Sarri menjawab pertanyaan jurnalis sebelum pertandingan final Liga Europa melawan Arsenal di Stadion Olimpya, Baku, Azerbaijan, 28 Mei 2019.
Pelatih Chelsea Maurizio Sarri menjawab pertanyaan jurnalis sebelum pertandingan final Liga Europa melawan Arsenal di Stadion Olimpya, Baku, Azerbaijan, 28 Mei 2019. | Josep Martinson /UEFA/Getty Images/EPA-EFE

Karier kepelatihan Maurizio Sarri di Chelsea hampir pasti hanya semusim meski kontraknya masih tersisa dua tahun. Pelatih 60 tahun ini akan pulang ke Italia dan menangani tim paling sukses di negerinya, Juventus.

Kepastian itu menyusul kedatangan agen Sarri, Fali Ramadani, ke markas Chelsea di London pada Jumat (7/6/2019). Chelsea pun sepakat untuk melepas Sarri.

Namun, masih ada ganjalan soal uang pesangon karena Sarri masih punya durasi kontrak dua tahun lagi. Meski demikian Juventus yakin tak perlu membayar uang apapun untuk mendatangkan Sarri.

Sebenarnya, wacana kepergian Sarri sudah mencuat sejak pertengahan Mei lalu. Bahkan sebelum Chelsea diantar menjuarai Liga Europa pada akhir Mei, Sarri pun sempat ditanyakan soal masa depannya di Stamford Bridge kendati ia enggan menjawabnya.

Nasib Sarri di Chelsea memang mudah ditebak karena dua situasi. Chelsea sudah melepas pemain kunci Eden Hazard ke Real Madrid dengan uang muka transfer 88,5 juta pounds (sekitar Rp1,4 triliun) dan bisa mencapai 130 juta pounds.

Kemudian Chelsea menghadapi sanksi larangan pendaftaran pemain dalam dua bursa transfer (musim panas dan musim dingin) dari FIFA karena terbukti merekrut pemain di bawah umur 18 tahun. Keputusan itu sementara belum berlaku karena Chelsea sudah mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Sport (CAS).

Jadi Sarri memang sulit untuk menampik tawaran dari Juventus. Sebagai klub tersukses di Italia, termasuk menjadi juara bertahan Liga Italia Serie A delapan kali beruntun, Juventus terlalu berharga untuk ditolak oleh kebanyakan pelatih --apalagi di Italia.

Situasinya sama persis dengan Hazard yang bakal kesulitan untuk berpaling dari godaan Real Madrid, satu di antara klub tersukses di dunia.

Sarri pun mengakui rindu pada kampung halamannya dan dalam usianya yang sudah uzur, dirinya tak mungkin bisa berkelana menjalani karier untuk waktu lama. "Bagi orang Italia, panggilan pulang sangat kuat. Ini seperti rasa kangen karena sudah menjalani satu tahun yang berat.

"Saya merasa jauh dari teman-teman, jarang ketemu orang-orang tua. Meski ada pilihan profesional, saya tak mungkin menjadi pelatih untuk 20 tahun lagi," kata Sarri kepada Vanity Fair.

Namun, rencana kepulangan Sarri disambut dengan sebutan pengkhianat. Itu disebabkan oleh masa lalu Sarri yang pernah tiga tahun melatih Napoli.

Di persepakbolaan Italia, isu ini memang sensitif. Napoli menjadi representasi Italia Selatan yang relatif miskin dan Juventus adalah gambaran Italia Utara yang kaya raya.

Sarri pun menyentil balik mereka yang menyebutnya pengkhianat. "Siapa yang pengkhianat? Dia adalah seseorang yang mementingkan tujuan pribadi ketimbang kolektif.

"Saya lebih suka bagian depan kostum karena di sana ada emblem klub. Di bagian belakang hanya ada nama pemain, daya tariknya lebih rendah dari emblem," kata Sarri.

Bagi Sarri, Juventus akan menjadi puncak kariernya. Sebelum bersama Chelsea dan Napoli, ia menghabiskan lebih dari setengah kariernya di Serie D hingga Serie B Liga Italia atau pada kurun 1990-2012.

Kemudian selama berkarier, Sarri baru sekali merasakan gelar juara utama --Liga Europa bersama Chelsea. Dan Juventus adalah satu-satunya klub yang gagal ia taklukkan selama menukangi Napoli, finis sebagai runners-up dua kali dan di posisi tiga Serie A.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR