PIALA DUNIA 2018

Taktik Deschamps dan permainan ofensif yang tak berdaya

Pelatih Prancis Didier Deschamps (kanan) merayakan gelar juara dunia 2018 bersama putranya, Dylan, di Moskow, Rusia, Minggu (15/7/2018).
Pelatih Prancis Didier Deschamps (kanan) merayakan gelar juara dunia 2018 bersama putranya, Dylan, di Moskow, Rusia, Minggu (15/7/2018). | Peter Powell /EPA-EFE

Didier Deschamps menjadi orang ketiga yang pernah menjuarai Piala Dunia dalam kapasitas berbeda. Ketika Prancis memenangi Piala Dunia 1998, Deschamps menjabat sebagai kapten tim. Sementara kemarin malam, Minggu (15/7/2018), Deschamps mengantar Les Blues juara untuk kedua kalinya dalam status pelatih.

Kali ini Deschamps membuktikannya bukan sekadar punya mental juara atau karena kepemimpinannya (leadership). Dengan latar dirinya yang pragmatis, pelatih 49 tahun ini kembali membuat Prancis seolah tanpa taktik yang canggih.

Itu sudah ditunjukkan ketika menyingkirkan Belgia dalam semifinal Piala Dunia 2018. Lantas yang terbaru dilakukan dalam final di Moskow, Rusia, dengan menundukkan Kroasia 4-2.

Prancis yang ketajamannya paling rendah dibanding tiga semifinalis lain tiba-tiba mampu mencetak empat gol kendati kebobolan dua gol. Apa rahasianya?

Deschamps membentuk formasi awal yang tak jauh berbeda dari laga-laga terdahulu; 4-4-1-1. Kuartet pertahanan masih tetap diisi Benjamin Pavard di sayap kanan, Lucas Hernandez di sayap kiri, serta duet bek tengah Raphael Varane dan Samue Umtiti.

Sementara barisan gelandang adalah Kylian Mbappe, N'Golo Kante, Paul Pogba, dan Blaise Matuidi. Mereka mendukung Antoine Griezmann yang menjadi penyerang lubang dan Olivier Giroud sebagai penyerang depan.

Sedangkan pelatih Zlatko Dalic secara mengejutkan mengubah formasi awal Kroasia. Jika melawan Inggris dihadapi dengan formasi baku 4-1-4-1, kali ini pelatih 51 tahun ini mengubah sedikit menjadi 4-2-3-1 dengan pengembangan menjadi 4-3-3. Perubahan nyata ada pada posisi Ivan Rakitic yang diduetkan dengan Marcelo Brozovic sebagai poros ganda atau double pivot.

Jadi, dari segi formasi awal kelihatan bahwa Prancis lebih moderat dan Kroasia lebih ofensif. Itu pun terlihat dari statistik permainan bagaimana Kroasia menguasai bola hingga 60 persen.

Jumlah tembakan yang dilepaskan Luka Modric dkk. pun jauh lebih banyak dari Prancis; 15 berbanding 8 upaya. Namun, Prancis pun akurasi lebih baik; 6 berbanding 3 upaya.

Dari situ, Prancis jelas bermain lebih efektif. Sedangkan Kroasia tetap dengan pendekatan serangan yang sama seperti ketika mengalahkan Inggris dalam semifinal. Modric dan Rakitic menjadi motor ganda serangan Kroasia, tapi Marcelo Brozovic tetap

Lagi-lagi Brozovic selalu mengalirkan bola ke area sayap yang diisi Ivan Perisic di kiri dan Ante Rebic di kanan. Lantas apa peran Modric dan Rakitic dalam skema aliran bola itu?

Pemain Real Madrid ini diplot menjadi dirigen. Modric akan menerima bola dari sayap untuk menunda serangan atau mengalirkan bola ke pemain yang tak terkawal. Demikian pula Rakitic meski kemudian Dalic menempatkannya lebih maju ke depan pada babak kedua.

Namun begitu, Modric yang biasanya bermain dengan ruang jelajah tinggi, kali ini lebih banyak beroperasi di kanan lapangan. Bahkan aliran bolanya pun selalu ke kanan atau dari kanan. Dari sana, Modric mampu membuat dua peluang.

Tentu saja Modric akan lebih banyak bermanuver di sisi kanan karena sisi kiri sudah ditempati dengan nyaman oleh Perisic. Dengan permainan seperti ini, Kroasia masih bisa menjanjikan.

Gol penyeimbang 1-1 Perisic pada menit 28 pun menjadi buah meski datangnya dari bola mati, bukan permainan hidup. Dua gol keunggulan Prancis pada 45 menit pertama pun dari bola mati; bola penjuru yang diubah menjadi gol bunuh diri oleh Mario Mandzukic dan tendangan penalti Griezmann berkat video bantuan wasit (VAR).

Dalic tetap pada pakem permainan seperti babak pertama. Sementara Deschamps mengubah pendekatan permainan.

Ia menunjukkan sikap pragmatisnya dengan menarik Kante. Pemain asal klub Chelsea ini memang harus diganti pada menit 55, 10 menit setelah babak kedua berlangsung, karena tak lagi bermain lepas lantaran sudah menerima kartu kuning pada menit 27--pelanggaran pada Perisic yang akhirnya membuahkan gol penyeimbang untuk Kroasia.

Kante sebenarnya kewalahan karena harus menjaga Perisic dan sesekali bentrok dengan Brozovic atau Ivan Strinic yang posturnya lebih besar. Namun, Deschamps punya solusi.

Ia memainkan Steven Nzonzi yang punya postur tinggi besar sehingga pertarungan di lini tengah menjadi lebih seimbang. Apalagi dengan kehadiran pemain klub Sevilla ini membuat Pogba bisa leluasa naik ke depan.

Ini perubahan lain yang sederhana tapi mematikan oleh Deschamps. Pogba dibebaskan naik ke depan, sementara Mbappe tidak lagi mengumbar kecepatan dan justru saling bergantian mengisi posisi dengan mitranya itu.

Lihatlah dua gol tambahan Prancis melalui mereka datang dari posisi yang sama, di depan kotak penalti. Pogba melakukannya pada menit 59 dan Mbappe pada menit 65.

Prancis sebenarnya punya sejumlah peluang tambahan yang andai lebih tenang bisa menjadi gol. Antara lain melalui Pogba.

Sementara Kroasia, tak bisa ditutupi bahwa kebugaran fisik dan stamina mereka terganggu. Bermain hingga adu penalti dan babak tambahan 2x15 menit dalam tiga laga beruntun lalu jelas memberi pengaruh.

Apalagi saat menghadapi Prancis, mereka menerapkan pula pressing ketat--termasuk melakukan defensive forward. Perisic, Mandzukic, dan Modric senantiasa menekan para pemain Prancis yang menguasai bola di lapangannya sendiri.

Jadi, permainan ofensif Kroasia tak berdaya karena bisa diredam Prancis. Permainan menyerang Kroasia pun relatif monoton karena selalu berakhir dengan umpan lambung.

Kroasia pun menegaskan tren bahwa tim yang bermain lebih ofensif dewasa ini bakal sulit untuk memenangi laga atau apalagi menjuarai sebuah turnamen. Di ranah klub pada musim lalu, hanya Barcelona di La Liga Spanyol dan Manchester City di Liga Primer Inggris yang bisa melakukannya.

Real Madrid sebagai juara Liga Champions justru tidak memainkan sepak bola ofensif. Seperti halnya Tottenham Hotspur atau Liverpool, mereka bermain menunggu atau bergerak untuk merebut bola--bukan menguasai bola terus menerus.

Prancis menggunakan pendekatan yang lebih pragmatis dan bahkan abai pada gaya. Tak ada permainan cantik dari Deschamps, apalagi dengan transisi dari bertahan ke menyerang yang cukup berantakan. Namun, lagi-lagi pragmatis, yang penting menang menjadi prinsip utama.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR