BULU TANGKIS

Target PBSI di Piala Sudirman, lolos dari babak grup

Pebulu tangkis Melati Daeva Oktavianti mengikuti latihan di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta, Senin (18/2/2019).
Pebulu tangkis Melati Daeva Oktavianti mengikuti latihan di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta, Senin (18/2/2019). | Hafidz Mubarak A /Antara Foto

Mencapai hasil yang lebih baik dari sebelumnya dengan lolos dari babak grup. Itulah target yang ditetapkan oleh Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) pada Piala Sudirman 2019 yang akan berlangsung di Nanning, Tiongkok, pada 19-26 Mei.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi, Susi Susanti, usai pengundian grup untuk turnamen beregu campuran kelas atas yang berlangsung dua tahun sekali itu, Selasa (19/3/2019).

Indonesia, yang menempati unggulan ketiga pada kejuaraan kali ini, diundi masuk Grup 1B bersama Denmark dan Inggris, dua tim asal Eropa yang memiliki pemain-pemain berbahaya. Hanya dua tim teratas dari setiap grup yang berhak lolos ke perempat final.

Empat tahun lalu, ketiga tim ini juga berada dalam satu grup dan kejuaraan juga berlangsung di Tiongkok, tepatnya di Dongguan. Saat itu Indonesia berhasil mengalahkan Denmark dan Inggris untuk menjadi juara grup.

PBSI dan penggemar bulu tangkis di Indonesia tentunya berharap hasil di Piala Sudirman 2015 itu bisa berulang. Terutama karena pada edisi 2017 di Queensland, Australia, Indonesia mendapatkan hasil terburuk sepanjang sejarah kejuaraan itu--gagal lolos dari babak grup karena menempati peringkat ketiga.

Susi mengaku optimistis para pemain Indonesia bisa mengatasi kedua lawan, meski Denmark termasuk tim yang kuat dan Inggris tak bisa dipandang remeh.

"Tapi kami tetep optimistis dan harus positif. Dibilang sulit ya tidak, tapi mudah juga enggak. Karena kekuatan lawan, khususnya Denmark, cukup merata," kata mantan ratu bulu tangkis dunia tersebut dalam BadmintonIndonesia.org.

Masing-masing tim memang belum mengumumkan skuat yang bakal dibawa ke Tiongkok, tetapi kita bisa coba memperkirakannya berdasarkan peringkat dunia dalam masing-masing lima nomor yang dipertandingkan--tunggal putra dan putri, ganda putra dan putri, serta ganda campuran.

Denmark memang bakal menjadi lawan yang perlu diwaspadai. Kekuatan tim negara Skandinavia tersebut ada pada tunggal putra dengan hadirnya Viktor Axelsen yang kini menempati peringkat ke-4 dunia dan ganda putra Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen.

Sektor lain yang perlu diwaspadai adalah ganda campuran yang digawangi Mathias Christianden/Christinna Pedersen. Apalagi ganda campuran Indonesia masih dalam proses pembenahan. Setelah pensiunnya Liliyana Natsir, Tontowi Ahmad masih beradaptasi dengan pasangan barunya, Winny Oktavina Kandow. Sementara performa Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti bisa dibilang belum stabil.

Untuk tunggal putri dan ganda putri sepertinya Indonesia dan Denmark berada dalam posisi seimbang. Belum ada pemain tunggal putri yang menonjol dari kedua negara. Pada ganda putri, pasangan Apriyani Rahayu/Greysia Polii mestinya sedikit lebih unggul dari Maiken Fruergaard/Sara Thygesen.

Bagaimana dengan Inggris? Kalau melihat peringkat dunia, mestinya Indonesia mengalahkan mereka. Kekuatan Inggris, bisa dibilang, hanya bertumpu pada ganda campuran Chris Adcock/Gabriel Adcock, peringkat ke-6 dunia. Mereka satu-satunya pemain Inggris yang masuk peringkat 10 besar dunia.

Akan tetapi, belajar dari pengalaman dikalahkan India 1-4 dua tahun lalu, yang menyebabkan Indonesia gagal lolos dari fase grup, tak ada lawan yang bisa dianggap remeh dalam kejuaraan beregu.

Susi memahami hal itu. Oleh karenanya ia menegaskan akan mempersiapkan tim dengan baik. Apalagi, berprestasi lebih baik di Piala Sudirman sudah ditetapkan sebagai salah satu target utama PBSI untuk tampil lebih baik tahun ini.

"Yang pasti kami akan melakukan persiapan yang sebaik-baiknya, mengatur strategi dan komposisi yang pas. Karena kalau gini kan tinggal atur strategi, cocok-cocokan main dengan lawan, siapa yang paling bagus buat ambil poin. Mudah-mudahan nanti bisa lancar," kata Susi.

“Secara beregu kami optimistis. Karena kalau beregu biasanya para atlet tampilnya lebih bagus,” sambungnya.

Piala Sudirman menyandang nama Dick Sudirman (1922-1986), salah seorang tokoh bulu tangkis Indonesia dan pendiri PBSI. Akan tetapi, sejak menjadi juara pada penyelenggaraan perdana tahun 1989, Indonesia selalu gagal membawa pulang kembali trofi tersebut.

Pencapaian paling tinggi setelahnya adalah enam kali menjadi runner-up, terakhir pada 2007.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR