DENMARK OPEN 2017

Tekuk unggulan, lampu mati, warnai lolosnya wakil Indonesia

Kemenangan Owi/Butet di babak kedua atas Anders/Line pada Denmark Open 2017, Kamis (19/10) diwarnai dengan peristiwa mati lampu yang cukup lama. Indonesia meloloskan empat wakil ke babak perempat final.
Kemenangan Owi/Butet di babak kedua atas Anders/Line pada Denmark Open 2017, Kamis (19/10) diwarnai dengan peristiwa mati lampu yang cukup lama. Indonesia meloloskan empat wakil ke babak perempat final. | Badmintonindonesia.org /PBSI

Satu kejutan terjadi di babak kedua Danis Denmark Open 2017 di nomor ganda putri, pada Kamis (19/10/2017). Pasangan nomor dua dunia asal Tiongkok, Chen Qingchen/Jia Yifan, harus angkat koper cepat dari turnamen dengan total hadiah 750.000 USD tersebut.

Mereka kalah dari pasangan Indonesia, Rizki Amelia Pradipta/Della Destiara Haris. Dalam waktu 53 menit, pasangan yang baru saja menjuarai Dutch Open Grand Prix 2017 itu, menang 21-23, 21-18, 21-10.

Hasil ini tentu saja menggembirakan. Pasalnya, Rizki/Della belum lama dipasangkan. Tepatnya, baru di tiga turnamen terakhir pengalaman mereka bermain bersama di laga kompetitif.

"Kami main lebih safe. Mereka nggak sabar. Kami tahu ritme main mereka kencang, jadi kami redam terus," ucap Rizki, kepada Badmintonindonesia.org.

Menghadapi pemain peringkat dua dunia tentu bukan perkara mudah bagi Rizki/Della, yang kini rangking 98 dunia. Untuk hal ini, merekapun mencoba percaya diri dan berusaha selalu fokus ke pertandingan.

"Kalau kami membuat kesalahan, jangan terlalu dipikirkan. Kalau mati ya sudah, cari poin lagi," kata Della. Hal lain yang membantu mendongkrak kepercayaan diri mereka adalah keberhasilannya menjuarai Belanda Open tadi.

"Tentu. Tapi yang lebih penting komunikasi. Dari awal dipasangkan, kami sudah cukup kompak," ucap Rizki. Dengan hasil ini, Rizki/Della pun melenggang ke babak perempat final.

Selain Rizki/Della, hari itu Indonesia juga berhasil meloloskan tiga wakil lainnya. Mereka adalah Ricky Karandasuwardi/Angga Pratama dan Kevin Sanjaya/Marcus Gideon di nomor ganda putra, serta Tontowi "Owi" Ahmad/Liliyana "Butet" Natsir.

Ada satu cerita tersendiri dari keberhasilan Owi/Butet melangkah ke perempat final dengan mengalahkan Skaarup Rasmussen/Line Hojmark Kjaersfeldt (Denmark), 21-16, 21-14.

Peristiwa itu terjadi pada gim kedua, saat Owi/Butet tengah unggul 15-9. Tiba-tiba, lampu lapangan 1 Odense Sport Park, Odense, Denmark, mati. Bukan semenit atau dua menit kondisi itu berlangsung. Namun hingga 40 menit!

Hal ini tentu saja merugikan kedua wakil yang bertanding. Karena, selain mengganggu konsentrasi pemain, jeda yang cukup lama tersebut mempengaruhi kondisi tubuh.

Maka, baik Owi/Butet maupun Skaarup/Line, segera berpindah tempat dan melakukan permainan "kecil-kecilan". Tapi, karena kondisi ini berlangsung lama, Owi/Butet pun akhirnya duduk di samping Vita Marissa, Asisten Pelatih Ganda Campuran PBSI.

"Mudah-mudahan kejadian ini tidak terulang lagi, untungnya tadi posisi kami unggul jauh. Kalau ketinggalan dan mau mengejar, bisa terganggu," kata Butet. Meski demikian, menurut Butet, sebenarnya permainan Skaarup/Line tidaklah istimewa.

Sedangkan untuk kemenangan Ricky/Angga atas Chen Hung Ling/Wang Chi-Lin (Taiwan) dengan skor 21-19, 21-19, tidaklah mengejutkan. Meski rangking mereka tak begitu jauh--Ricky/Angga 8 dan Chen/Wang 10--namun sejarah pertemuan selalu berpihak pada wakil Indonesia.

Dari enam pertemuan terakhir, Ricky/Angga selalu memenanginya. "Kami sudah tahu pola permainan mereka. Ini membuat kami percaya diri," ucap Ricky.

Jojo kalah

Pada babak kedua yang berlangsung Kamis (19/10), Indonesia sebenarnya berhasil menempatkan lima wakil. Sayang, satu-satunya wakil Indonesia di nomor tunggal, Jonatan "Jojo" Christie, tak mampu melangkah lebih jauh.

Pemain berusia 20 tahun itu harus mengakui keunggulan Rajiv Ouseph (India) melalui rubber game, 21-15, 17-21, 18-21. Sebenarnya peluang Jojo untuk mengalahkan Rajiv cukup besar.

Sebab, menurut Jojo, permainan Rajiv tidak lebih baik dari dirinya. Hal ini terbukti dari kemenangan di gim pertama. "Saya sudah mencoba main cepat, karena footwork lawan kurang bagus. Ini berhasil di game pertama," kata Jojo.

Namun hal itu berubah di gim kedua. Pergerakan angin di lapangan 1, menurut Jojo, cukup aneh. "Kondisi angin memang agak aneh di lapangan gim kedua ... Pada gim ketiga, terbawa sugesti, jadi fokus hilang," katanya. "(Tapi) harus diakui, hari ini dia lebih siap," ucapnya.

Jojo menjadi satu-satunya wakil Indonesia di babak kedua yang gagal maju ke perempat final.
Jojo menjadi satu-satunya wakil Indonesia di babak kedua yang gagal maju ke perempat final. | Badmintonindonesia.org /PBSI
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR