LIGA NEGARA UEFA

Tensi tinggi Inggris vs. Belanda dan mimpi Portugal

(Kiri-kanan) Pelatih timnas Belanda, Ronald Koeman; Gareth Southgate (Inggris), Fernando Santos (Portugal), dan Vladimir Petkovic (Swiss) menghadiri sesi konferensi pers pascaundian empat besar Liga Negara UEFA di Dublin, Irlandia, Senin (3/12/2018).
(Kiri-kanan) Pelatih timnas Belanda, Ronald Koeman; Gareth Southgate (Inggris), Fernando Santos (Portugal), dan Vladimir Petkovic (Swiss) menghadiri sesi konferensi pers pascaundian empat besar Liga Negara UEFA di Dublin, Irlandia, Senin (3/12/2018). | Aidan Crawley /EPA-EFE

Tensi panas bakal tersaji pada Jumat, 7 Juni 2019, di Stadion D. Afonso Henriques, Guimaraes, Portugal. Pada hari itu, Inggris akan berjumpa Belanda dalam laga semifinal Liga Negara UEFA.

Sementara Portugal akan menjajal Swiss. Hal itu bakal tersaji setelah UEFA mengundi empat besar Liga Negara UEFA di Dublin, Irlandia, Senin (3/12/2018) waktu setempat.

Tingginya tensi Inggris vs. Belanda diperkirakan bukan hanya bakal terjadi di luar lapangan, tapi di dalam lapangan. Di luar stadion, kejadian Maret 2018 bisa menjadi pelajaran berharga bagi Portugal, tuan rumah babak semifinal dan final kejuaraan.

Saat itu, lebih dari 100 hooligans Inggris ditangkap di Amsterdam, Belanda, karena terlibat keributan dengan suporter tuan rumah kala Belanda kalah 0-1 dalam laga persahabatan.

Sedangkan di dalam lapangan, laga Inggris vs. Belanda juga besar kemungkinan berlangsung panas. Maklum, pertandingan kedua tim bisa disebut sebagai laga klasik di Benua Eropa.

Sejauh ini, kedua tim telah bertemu 33 kali, mulai dari pertandingan amatir pada 1907 hingga Piala Dunia. Hasilnya, 14 kemenangan untuk Inggris, 10 berakhir imbang, dan sisanya dimenangi oleh Belanda.

Meski Inggris sedikit unggul dari segi pertemuan, tapi untuk kali ini sejumlah pihak sepakat peluang kedua negara sama besar. "Kemungkinan Inggris dan Belanda ke babak final relatif identik menurut Gracenote World Football Ranking, 50-50," tulis BBC.

Tensi semakin tinggi karena pada laga nanti, kedua tim bakal menjadikan darah muda sebagai tulang punggung mereka. Inggris, yang membawa skuat termuda kedua ke Piala Dunia 2018 lalu, masih mengandalkan sebagian besar dari mereka.

Sedangkan Belanda, sejak dipegang oleh Ronald Koeman mulai Februari 2018, The Oranye juga mengandalkan pemain-pemain muda. Matthijs de Ligt (19 tahun), Frenkie de Jong (21 tahun), atau Virgil van Dijk (27 tahun) sering mengisi line up Koeman.

"Saya telah mengamati Belanda dari dekat sejak dipegang Koeman. Mereka cukup sama dengan kami, dengan menggunakan pemain muda yang menarik," ucap pelatih timnas Inggris, Gareth Southgate, dalam Metro.co.uk.

"Ini akan menjadi pertandingan yang menarik dengan kemampuan teknik, energi yang melimpah, dan kecepatan tinggi bagi kedua klub. Bagi kedua suporter, pertandingan ini merupakan gambaran yang bagus untuk masa depan."

Sedangkan bagi Belanda, pertandingan ini akan menjadi ajang yang pas bagi mereka untuk membuktikan bahwa tim telah berkembang. Maklum, dalam beberapa tahun terakhir, mata sejumlah pihak telah berpaling dari Belanda.

Penyebabnya, tak lain dari kegagalan mereka lolos ke putaran final Piala Eropa 2016 dan Piala Dunia 2018. Namun, semua kegagalan tersebut sedikit terbayar dengan keberhasilan melaju ke semifinal Liga Negara Eropa dengan mengalahkan Prancis dan Jerman.

"Pertandingan saya sebagai pelatih timnas melawan Inggris berakhir dengan kekalahan. Jadi, ini adalah kesempatan lain untuk menunjukkan perkembangan kemampuan kami," ucap Koeman.

Mimpi di rumah sendiri

Terakhir kali Portugal menghelat turnamen sepak bola besar terjadi pada 14 tahun lalu, Piala Eropa 2004. Saat itu, Selecao das Quinas berhasil menginjak babak final sebelum ditaklukkan Yunani 0-1.

Kegagalan itu bisa jadi masih membekas di jutaan benak masyarakat Portugal. Meski demikian, 12 tahun sejak kejadian itu, Portugal berhasil menjuarai Piala Eropa 2016 setelah mengalahkan Prancis 1-0 dalam partai final.

Namun, momen angkat trofi tersebut terasa berbeda. Kejuaraan berlangsung di luar Portugal, melainkan di Prancis. Sedangkan kali ini, timnas Portugal memiliki kesempatan mengangkat trofi Liga Negara UEFA di rumah sendiri.

Pasalnya, laga final akan diadakan di Estadio do Dragao, Porto, Portugal. "Kami memiliki mimpi meraih final dan memenangi trofi di rumah kami," ucap pelatih Portugal, Fernando Santos, yang dipetik laman resmi Liga Negara UEFA.

Hanya saja, untuk mewujudkan mimpi tersebut, Portugal harus melewati dua tahap. Pertama, mengalahkan Swiss dalam semifinal pada Kamis 6 Juni 2019 dan kedua, berhasil memenangi laga final atas Inggris atau Belanda.

Dan, untuk mencapai ke sana bukan hal mudah. Santos pun mengakuinya. "Kami harus bekerja keras, seperti kami menghadapi lawan kuat pada semifinal," kata Santos.

Swiss dalam percaturan sepak bola Eropa memang bukan tim besar. Sejak pertama kali ikut Piala Eropa pada 1996, misalnya, mereka baru ambil bagian dalam empat edisi: 1996, 2004, 2008, dan 2016.

Namun, kemampuan sepak bola negara tersebut makin membaik dari waktu ke waktu. Dalam empat edisi Piala Dunia terakhir, mereka tiga kali menginjak fase 16 besar.

Dan mereka datang ke Portugal pada Juni mendatang bukan berniat sebagai tim pelengkap. "Kami harus datang ke Portugal untuk menang. Kami harus mempersiapkan tim dengan baik dan siap pada Juni," ucap Vladimir Petkovic, pelatih Swiss.

Sejauh ini, dalam rekor pertemuan, Swiss memang lebih inferior saat berhadapan dengan Portugal. Dari 22 kali bersua sejauh ini, mereka hanya tujuh kali menang, lima imbang, dan 10 kali kalah. Namun, seperti yang dibilang Petkovic, "Kami siap membuat kejutan."

BACA JUGA