Tersingkir cepat, pemain Indonesia U-19 diincar klub Eropa

Ilustrasi latihan para pemain Indonesia U-19 di Gianyar, Bali, 16 Mei 2017.
Ilustrasi latihan para pemain Indonesia U-19 di Gianyar, Bali, 16 Mei 2017. | Fikri Yusuf /Antara Foto

Perhatikan data berikut. Tiga kali bermain, tiga kali kalah. Jumlah poin yang diraih nol, dengan sekali memasukkan dan lima kali kebobolan.

Itulah data keikutsertaan Indonesia U-19 di ajang Turnamen Toulon 2017, Marsielle, Prancis. Tergabung di grup C, Indonesia menjadi juru kunci setelah kalah dari Brazil (1-0), Republik Ceko (2-0), dan Skotlandia (2-1).

Meski demikian, semestinya masyarakat Indonesia --para pemain khususnya, tidak perlu sedih. Pasalnya, Garuda Muda dianggap menampilkan permainan apik sepanjang turnamen berlangsung.

Tak percaya, tengoklah kala Indonesia U-19 menghadapi Brazil U-20. Kecilnya skor menghadapi negara kiblat sepak bola itu adalah satu hal. Lainnya, penguasaan bola Indonesia di atas Brazil, yakni 52% berbanding 48%.

Dominannya penguasaan bola ini bukan hanya dilakukan Indonesia saat menghadapi Tim Samba saja. Demikian pula kala melawan Republik Ceko dan Skotlandia.

Menghadapi Republik Ceko, ball possession skuat asuhan Indra Sjafri itu mencapai 57%. Sedangkan kala menghadapi Skotlandia, penguasaan bola Indonesia U-19 mencapai 59%.

Memang, sepanjang turnamen berlangsung, permainan Indonesia cukup menyenangkan ditonton. Serangan yang dibangun dari garis pertahanan sendiri bukan hal yang langka.

Sebenarnya, pola permainan pendek ini bukan barang baru bagi Timnas U-19. Empat tahun lalu, kala memenangi Piala AFF U-19, permainan skuat Indonesia juga tak jauh beda. Pelatihnya sama, Indra Sjafri.

"Pendek-pendek-panjang", begitu Indra menamai pola permainannya kala itu.

Untuk menerapkan pola itu, biasanya Indra memiliki sosok pemain kunci. Di 2013, muncul nama Evan Dimas. Kini, Egy Maulana Vikri sepertinya bakal menjadi sosok kunci itu.

Selama Turnamen Toulon berlangsung, Egy memang menjadi sosok yang tampil cukup menonjol. Penguasaan bola, tendangan, hingga operannya sering kali merepotkan lawan-lawannya.

Sentralnya peran Egy inipun diakui oleh panitia turnamen. Pemain ASIOP Apacinti itu menerima Jouer Revelation Trophee. Penghargaan tersebut diberikan karena Egy dianggap pemain yang paling berpengaruh di dalam tim.

Pemberian penghargaan ini bisa dikatakan anomali. Ada beberapa hal yang mendasarinya. Pertama, pemberian penghargaan biasanya dilaksanakan di akhir turnamen.

Kedua, penerima trofi tersebut, umumnya diberikan kepada pemain yang mampu membawa tim hingga semi final. Namun, dua kebiasaan itu kini tak berlaku.

"Karena Timnas U-19 pulang besok, ya langsung dikasih setelah melawan Skotlandia, Selasa (6/6), oleh Panitia Tuolon Tournament 2017," demikian pernyataan yang dikutip dari situs resmi PSSI.

Atas capaiannya tersebut, pemain bernomor punggung 10 itu memilih merendah. Menurutnya, ia tidak menyangka mendapatkan trofi ini. Kalaupun dibilang pemain yang sangat berpengaruh bagi tim, menurut Egy, itu dilakukan karena semata untuk tim.

"Saya hanya memberikan yang terbaik dan mementingkan tim. Itu (trofi) bonus bagi saya," katanya.

Apresiasi individual sebenarnya bukan hanya diberikan kepada Egy. Tetapi juga beberapa pemain Timnas U-19 lainnya. Bedanya, pengakuan ini tidak dalam bentuk trofi, melainkan lirikan pencari bakat Eropa.

Selama bermain di turnamen ini, banyak pemandu bakat tim Eropa melihat permainan tim Indonesia, khususnya kala berhadapan dengan Republik Ceko. Menurut Asisten Manajer Timnas, Wide Putra Ananda, para talent scout itu kaget dengan penampilan tim.

"Teknik dan semangat (Timnas U-19) sangat baik. Semua talent scout di sini tidak menyangka hal tersebut bisa mereka lihat," kata Wide, seperti yang dikutip dari Bola.com. "Talent scout di sini mengatakan anak-anak Indonesia bermain bagus sekali."

Lalu siapa saja para pemain yang diincar tersebut? Sejauh ini, desas-desus yang beredar, ada tiga pemain. Namun, siapa saja pemain-pemain tersebut, Wide tak tahu.

Hanya saja, Wide sempat menanyakan kepada para pencari bakat tadi siapa pemain Indonesi yang potensial. "Rata-rata jawaban mereka adalah pemain nomor 6," kata Wide. Nomor punggung 6 adalah milik Muhammad Iqbal.

Selain Egy (penerima Jouer Revelation) dan Iqbal (diakui pencari bakat Eropa), sebenarnya pemain Indonesia yang tak kalah ciamik di turnamen ini adalah kiper Muhammad Riyandi.

Ya, meski selalu mendominasi pertandingan, namun dalam jumlah tembakan, Indonesia kalah jauh dari lawan-lawannya. Di sinilah peran dari Riyandi.

Sayangnya, Indra Sjafri enggan membeberkan nama-nama tersebut lebih jauh. "Saya pikir tak perlu disebar luaskan. Sebab, orang kita suka menyikapi dengan berlebih. Cukup saya dan tim saja yang tahu," katanya, seperti yang dinukil dari Kumparan.com.

Meski demikian, Indra memberi kisi-kisi klub asal pencari bakat tersebut. "Sempat ada talent scouting dari Inter Milan dan beberapa dari pihak lain. Mereka bertanya soal profil pemain," katanya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR