SEA GAMES

Tiga besar SEA Games terlalu besar bagi Indonesia

Tim estafet putra 4x100 meter mengikuti pemusatan latihan nasional (Pelatnas) Atletik di Stadion Madya Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (3/9/2019). PB PASI terus memberikan latihan kepada atlet-atlet atletik sebagai persiapan ajang SEA Games 2019 di Filipina.
Tim estafet putra 4x100 meter mengikuti pemusatan latihan nasional (Pelatnas) Atletik di Stadion Madya Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (3/9/2019). PB PASI terus memberikan latihan kepada atlet-atlet atletik sebagai persiapan ajang SEA Games 2019 di Filipina. | Hafidz Mubarak A /Antara Foto

Target tak cukup ambisius ditetapkan Indonesia pada ajang SEA Games ke-30 di Filipina, 30 November hingga 11 Desember mendatang. Merah-Putih diprediksi berat untuk masuk ke posisi tiga besar di akhir klasemen pada ajang multicabang olahraga dua tahunan itu.

Prediksi tersebut keluar bukan dari mulut orang sembarangan. Adalah Ketua KONI Pusat Marciano Norman yang mengatakan demikian. Menurut Marcio, masuk tiga besar terlalu muluk-muluk bagi kontingen Indonesia.

"Target tiga besar terlalu besar, kami akan mempertahankan (hasil) kemarin lah," ucap Marcio dalam detikcom. Pada SEA Games 2017, Indonesia berada di peringkat 5 klasemen akhir, dengan perolehan 38 medali emas. Saat itu ada 38 cabang olahraga (cabor) dan 404 nomor yang dipertandingkan.

Ada beberapa alasan yang menjadi dasar ucapan Marciano tersebut. Yang utama, menurut mantan Kepalan Badan Intelejen Negara tersebut adalah beda fokus latihan di tiap-tiap cabor.

Misalnya, sprinter andalan Indonesia, Lalu Muhammad Zohri, dipersiapkan Pengurus Pusat Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) untuk mengikuti ajang Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang. Walhasil, PASI tidak memasukkan nama Zohri ke dalam skuat SEA Games.

Pun demikian dengan Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia, yang tak memasukkan skuat utama ke SEA Games. Nama seperti Kevin Sanjaya/Marcus Gideon, tak dimasukkan. "Saya memaklumi itu karena program pelatih berbeda-beda," kata Marciano.

Alasan kedua, kebiasaan SEA Games adalah tuan rumah banyak memilih cabor yang menguntungkan mereka. Misalnya, di Filipina nanti, ada cabor arnis dan obstacle sport, di mana Indonesia tak mengirimkan kontingen.

Hal ini diungkapkan oleh Pelaksana tugas Sekretaris Jendral Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Hellen Sarita De Lima. "Di Filipina nanti, cukup banyak cabang olahraga tradisional tuan rumah, sementara kami tidak memiliki atletnya makanya mau tidak mau absen," katanya.

Target yang tak muluk ini sebenarnya cukup membingungkan. Terlebih, Indonesia baru saja meraih kesuksesan di ajang Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang dengan menjadi peringkat keempat.

Oleh karena itu, Marciano mengatakan, meski tak bisa masuk tiga besar, bukan berarti Indonesia akan berleha-leha. Paling tidak, katanya, prestasi di Filipina nanti tak lebih buruk dari 2017 kemarin. Paling tidak, targetnya 50-54 medali emas di SEA Games 2019 ini.

"Oleh karena itu, saya betul-betul berkomunikasi dengan cabor, untuk 'ayo kita pertahankan muka Indonesia di SEA Games'," kata Marciano. "Jangan kemudian di SEA Games kita jeblok. Kan gak lucu."

SEA Games sasaran antara

Sebenarnya, target tak muluk tersebut sudah bisa dilihat sejak jauh-jauh hari. Pasalnya, pascakeberhasilan di Asian Games kemarin, target pemerintah tak lagi berada di kawasan Asean. Melainkan, lebih besar: Asian Games dan Olimpiade.

Maka, SEA Games seperti menjadi sasaran antara di tengah persiapan atlet ke Asian Games dan Olimpiade. Hal itu diungkapkan oleh KOI, Erick Thohir.

"Yang jadi pekerjaan rumah dengan status 'sasaran antara' adalah bagaimana kita bisa meningkatkan prestasi di Asia Tenggara. Karena itu akan mendukung perkembangan prestasi di level di atasnya," ucap Erick dalam Pikiran Rakyat, pertengahan bulan lalu.

Cara seperti ini, menurut Erick, sudah diterapkan Thailand. Menurut dia, selama ini Thailand tak pernah menargetkan kontingennya sebagai juara umum. Namun, tiap atlet memiliki target pribadi di ajang yang lebih tinggi.

Efeknya, di SEA Games para atlet beroleh hasil baik dan Thailand kerap keluar sebagai juara umum dengan sendirinya. "(Thailand) tidak pernah ada target juara umum bahkan di SEA Games kali pun, tapi tiap-tiap cabor memenuhi target medali emasnya hingga raihan prestasi mereka jadi lebih baik," tutur Erick.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR