Tiga tangan Indonesia di final Indonesia Open

Ekspresi Butet saat menjuarai ganda campuran Indonesia Open 2017. Hasil ini menyudahi puasa gelar Indonesia selama 4 tahun di kejuaraan tersebut.
Ekspresi Butet saat menjuarai ganda campuran Indonesia Open 2017. Hasil ini menyudahi puasa gelar Indonesia selama 4 tahun di kejuaraan tersebut.
© Sigid Kurniawan /Antara Foto

Butuh waktu sekitar 4 tahun untuk mengakhiri puasa gelar wakil Indonesia di ajang Indonesia Open. Adalah Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang menghapus dahaga gelar wakil Indonesia di rumah sendiri itu.

Bertanding melawan urutan 1 dunia, Zheng Siwei/Chen Qingchen (Tiongkok), pada laga pamungkas BCA Indonesia Open Superseries Premier 2017, Owi/Butet menang 22-20, 21-15.

Atas kesuksesannya ini, Butet pun berseloroh, bila di Jakarta Convention Center tak seangker Istora Senayan. "Terbukti Istora itu angker buat saya, tetapi JCC tidak," katanya Minggu (18/6).

Namun, itu hanya guyonan saja. Sebab, dalam menghadapi final ini, Owi/Butet sudah mempersiapkannya secara matang. Misalnya, malam sebelum pertandingan, mereka mempelajari permainan Zheng/Chen melalui video.

Lalu juga mengenai strategi permainan. Sadar usia lawannya jauh di bawah mereka, Owi/Butet pun mencoba strategi bermain dengan hati-hati. Hal ini terbukti dengan cara bermain mereka yang sabar selama pertandingan berlangsung.

"Komunikasi kami juga lebih baik di babak kedua. Selain itu kami bermain cukup santai," kata Butet.

Menurut catatan Beritagar.id, dalam pertandingan tersebut, jumlah smash Owi/Butet jauh lebih sedikit dibanding Zheng/Chen. Tetapi, hal ini ditutupi dengan kedisiplinan mereka bermain.

Statistik Owi/Butet dan Zheng/Chen
Statistik Owi/Butet dan Zheng/Chen
© Beritagar.id /Beritagar.id

(Untuk statistik lebih lengkap, silahkan masuk tautan ini).

Hal inipun diakui Zheng. "Permainan kami kurang bagus hari ini. Selain itu, strategi yang diterapkan lawan lebih baik," katanya.

Sebenarnya, keberhasilan Owi/Butet ini tak lepas dari kebijakan PB PBSI dan pelatih mereka untuk tak menurunkan Butet di beberapa kejuaraan pada 2017 ini. Maklum, dengkul Butet belum sepenuhnya pulih sejak cedera akhir tahun lalu.

"Sejak rutin berlatih, dia (Butet) banyak sekali perkembangannya. Dan dia pun berjanji akan tampil 100 persen saat pertandingan," kata Richard Mainaky, pelatih ganda campuran PBSI.

Sebenarnya dalam babak final kemarin, bukan hanya Owi/Butet saja yang merasakan sentuhan pelatih Indonesia. Setidaknya, dari 5 nomor yang dipertandingkan, ada dua atlet lain yang juga merasakan tangan dingin pelatih Indonesia.

Yang pertama adalah juara tunggal putra, Kidambi Srikanth (India). Nama yang disebut terakhir ini menjadi juara setelah mengalahkan Kazumasa Sakai (Jepang) dengan skor 21-11, 21-19.

Keberhasilan Srikanth menjuarai Indonesia Open itu tak lepas dari sosok orang Indonesia. Dia adalah Mulyo Handoyo, eks pelatih Taufik Hidayat.

Mulyo menjadi pelatih kepala tunggal India sejak Februari 2017. Di tangannya, India menjadi kekuatan baru dunia bulu tangkis dunia, khususnya di nomor tunggal.

Bukti paling gresnya adalah, membuat all India final di nomor tunggal putra OUE Singapore Open 2017. Di babak final, Kidambi kalah dari Sai Praneth. Selain itu, Molyo juga berperan membawa India ke babak perempat final Piala Sudirman bulan lalu.

Mulyo sendiri mengatakan bahwa metode kepelatihannya yang ia terapkan di India sama saja sewaktu ia melatih di Indonesia. "Yang membedakan pendekatan personalnya saja. Ini yang penting," kata Mulyo.

Selain itu, yang Mulyo selalu terapkan ke anak didiknya adalah soal disiplin. Menurut Mulyo, dia akan benar-benar memarahi para pemain India bila mereka tidak disiplin, saat latihan contohnya.

"Terlambat lima menit saja, akan saya marahi. Saya tidak mau tau alasannya. Latihan ya latihan," ucapnya. "Tetapi di luar latihan, saya menjadikan mereka sebagai teman."

Ada satu momen di Indonesia Open kali ini mengenai bagaimana kedekatan Mulyo dengan pemain India. Ceritanya, saat Srikanth pergi meninggalkan ruang media.

Saat berjalan masuk ke hotel, dia melihat Mulyo tengah diwawancarai media. Sejurus kemudian, Srikanth mendekati Mulyo dan menawarkan medali Indonesia Open ke Mulyo. "This is for you," kata Srikanth setengah bercanda. Mulyo pun menjawab, "No, for you."

Sejauh ini Mulyo enggan mengomentari prestasi tunggal putra Indonesia. Menurutnya, bukan kapasitasnya berbicara hal tersebut.

Selain Srikanth, atlet lain yang merasakan tangan dingin pelatih asal Indonesia adalah Sun Ji Hyun (Korea Selatan). Keberhasilan Ji Hyun sampai ke babak final ini tak lepas dari andil Agus Dwi Santoso.

Ya, nama terakhir ini merupakan pelatih kepala tunggal putra dan putri Korsel. Di tangan Agus, tunggal Korsel menjadi lebih menggigit.

Tak percaya? Lihatlah prestasi Ji Hyun yang kini berperingkat 5 dunia. Atau, Son Wa Ho (tunggal putra) peringkat 1 dunia. Kedua pemain ini mempunyai andil saat membawa Korea Selatan menjuarai Piala Sudirman.

Untuk Indonesia Open sendiri, Son berhasil mencapai babak semifinal, sebelum dikalahkan Srikanth. Sedangkan Sun, menjejakkan kaki di final, namun kalah dari wakil Jepang, Sayaka Sato.

"Ji Hyun harus meningkatkan kontrolnya di tengah pertandingan final," katanya.

Selain Sayaka, Srikanth dan Owi/Butet, dua nomor lain yang menjuarai Indonesia Open 2017 berasal dari Tiongkok. Mereka adalah Chen Qingchen/Jia Yifan (ganda putri) dan Li Junhui/Liu Yuchen (ganda putra).

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.