PIALA THOMAS DAN UBER

Tim Thomas dan Uber Indonesia masuk grup rumit

Kevin (kiri)/Marcus (kanan) saat bersiap-siap menghadapi babak final All England 2018, Minggu (18/3/2018). The Minions menjadi tulang punggung Indonesia di Piala Thomas tahun ini.
Kevin (kiri)/Marcus (kanan) saat bersiap-siap menghadapi babak final All England 2018, Minggu (18/3/2018). The Minions menjadi tulang punggung Indonesia di Piala Thomas tahun ini. | Badmintonindonesia.org /PBSI

Kejuaraan Thomas & Uber 2018 memang masih berlangsung sekitar dua bulan lagi. Turnamen itu bakal berlangsung pada 20-27 Mei di Bangkok, Thailand. Tetapi, kini tiap negara peserta sudah bisa memprediksi perjalanan mereka di kejuaraan tersebut.

Pasalnya, hasil undian sudah diketahui pada Kamis (22/3/2018) sore waktu Thailand. Dan, tim putra Indonesia masuk ke dalam grup yang cukup sulit. Bergabung di grup B, anak-anak Cipayung itu harus menghadapi Korea Selatan, Kanada, dan tuan rumah Thailand.

"Thailand berada di grup yang (diprediksi) rumit bersama Indonesia, Korsel, dan Kanada," tulis laman resmi BWF.

Penentuan tim dalam undian ini dilakukan dengan membagi para unggulan ke dalam empat pot--baik Thomas maupun Uber. Untuk tim Thomas, Indonesia masuk dalam pot 1 bersama para unggulan lainnya, Tiongkok, Taiwan, dan juara bertahan Denmark.

Pot 2, 3, dan 4 akan diisi tim-tim unggulan di bawah negara-negara di atas. Maka, keempat negara tersebut tidak berada di satu grup. Tiongkok di Grup A, Taiwan (Grup C), dan Denmark (Grup D).

Sedangkan di Uber, Indonesia masuk unggulan ketujuh, sehingga tergabung di pot 2 bersama Taiwan, India, dan Denmark. Sedangkan unggulan di pot 1, ditempati oleh Jepang, Tiongkok, Korsel, dan Thailand.

Hasilnya, Tim Uber Indonesia masuk dalam grup yang juga cukup sulit. Sebab, Fitriani dkk. bakal menghadapi Tiongkok, Prancis, dan Malaysia di Grup D.

Penentuan unggulan ini didasarkan pada peringkat akumulatif tiap pebulu tangkisnya di masing-masing kategori. Mudahnya, BWF memasukkan semua pemain dengan peringkat tertinggi di tiap negara untuk menentukan nilai akumulatif itu.

Misalnya untuk di sektor tunggal putra. Berdasarkan data per 22 Februari, ada tiga pemain Indonesia yang menduduki peringkat 30 besar dunia, yakni Anthony Sinisuka Ginting (peringkat 9), Jonatan Christie (12), dan Tommy Sugiarto (30).

Di sektor ganda putranya menempatkan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon peringkat 1. dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto (12 dunia).

Bila PB PBSI tidak membawa Tommy--menggantinya dengan Ihsan Maulana Mustofa--hal itu tak lantas mengubah sistem penilaian akumulatif tadi. Dari hasil hitung akumulatif inilah, peringkat Indonesia berada di bawah Tiongkok dan Denmark.

Hitung peluang

Grup B Piala Thomas memang rumit. Dari empat tim penghuni, Kanada bolehlah sedikit dipinggirkan dalam perburuan peringkat 1 dan 2--syarat untuk melaju ke babak perempat final.

Tapi tidak demikian dengan Korsel dan Thailand. Korsel, meski secara peringkat akumulatif berada di bawah Indonesia, sering membuat kejutan. Misalnya saja di Piala Sudirman tahun lalu.

Tidak diunggulkan di kejuaraan tersebut, nyatanya mereka mampu keluar sebagai juara dengan mengusik dominasi Tiongkok. Bukti lainnya, dia ajang Kejuaraan Beregu Asia Junior 2017, mereka juga menjadi yang terbaik.

Hal ini cukup aneh bila melihat prestasi di kejuaraan perorangan. Jarang pebulu tangkis Negeri Ginseng itu menjadi juara. Singkatnya, Korsel kuat bila bertanding di kejuaraan beregu.

Dan, Indonesia wajib waspada. Dua tunggal putra mereka berada di 20 besar dunia, Son Wan Ho (3 dunia) dan Jeon Hyeok Jin (18 dunia). Untuk tunggal ketiga, peringkat pemainnya tak terlalu jauh dengan dua yang disebut di atas, Lee Hyun Il (22 dunia).

Indonesia, yang hingga saat ini kekuatan tempur utamanya ada di ganda, wajib memenangi dua pertandingan di nomor tersebut. Dan kebetulan, di nomor ganda, Korsel juga tak baik. Hanya Kim Won Ho/Seung Jae Seo yang peringkatnya paling tinggi, yakni 25 dunia.

Jadi, setidaknya Indonesia harus mencuri 1 kemenangan di nomor tunggal.

Sedangkan Thailand, secara kekuatan tim sebenarnya tak bagus-bagus amat. Peringkat pemainnya di sektor putra, baik di ganda maupun tunggal, semuanya berada di luar 20 besar dunia.

Hanya saja, tim Indonesia harus mewaspadai Thailand karena faktor tuan rumah. Dengan memiliki sejarah panjang di dunia bulu tangkis, olahraga tepok bulu itu memiliki tempat di hati masyarakatnya.

Sedangkan di Uber, peluang Indonesia lolos ke perempat final cukup terbuka. Kuncinya ada di pertarungan dengan Malaysia. Sebab, Tiongkok masih terlalu perkasa dan Prancis--secara matematis dan tradisi--masih di bawah Indonesia.

Masalahnya, tak semudah itu juga. Peringkat tunggal putri Malaysia, semuanya berada di atas Indonesia. Tiga pemain tunggalnya berada di peringkat 30 besar dunia, dengan Beiwen Zhang yang tertinggi (10 dunia).

Peringkat tunggal putri Indonesia tertinggi diduduki oleh Fitriani, yakni 34 dunia.

Kondisi terbalik terjadi di nomor gandanya. Semua peringkat ganda putri terbaik Malaysia berada di bawah Indonesia. Jadi, bila Indonesia berhasil mencuri satu angka di sektor tunggal kala melawan Malaysia, peluang untuk ke perempat final cukup terbuka.

BACA JUGA