PIALA AFF 2018

Timnas tersingkir, PSSI dituding sebagai biang keladi

Para pemain Indonesia tengah bertanding melawan Timor Leste dalam pertandingan kedua Grup B Piala Suzuki AFF 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (13/11/2018).
Para pemain Indonesia tengah bertanding melawan Timor Leste dalam pertandingan kedua Grup B Piala Suzuki AFF 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (13/11/2018). | /PSSI

Untuk kali keempat dari 11 edisi Piala Suzuki AFF, tim nasional Indonesia gagal lolos dari fase grup. Kegagalan terkini dipastikan setelah Filipina menahan Thailand 1-1 pada edisi teranyar kompetisi dwi tahunan tersebut.

Dua gol yang tercipta melalui Supachai Jaided (Thailand) pada menit 56 dan Jovin Bedic (Filipina) menit ke-81 pada pertandingan yang berlangsung di Stadion Panaad, Negros Occidental, Filipina, Rabu (21/11/2018) malam, menjadi penentu nasib Indonesia.

Dengan hasil tersebut, artinya kedua tim berhasil mengumpulkan poin 7 dari tiga pertandingan di Grup B Piala Suzuki AFF 2018. Thailand berada di peringkat pertama karena unggul selisih gol, sementara Filipina di posisi kedua.

Dengan jumlah pertandingan yang sama, timnas Indonesia baru mengumpulkan poin 3 dan terpaku di urutan keempat. Artinya, kalaupun menang pada laga terakhir, Skuat Garuda hanya akan mengumpulkan total 6 poin. Hanya peringkat 1 dan 2 grup yang lolos ke semifinal.

Timnas Indonesia akan menjalani laga terakhir pada Ahad (25/11) melawan Filipina di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

Di Grup B, negara lain yang masih berpeluang untuk melaju ke semifinal--selain Thailand dan Filipina--adalah Singapura. Pasalnya, kini Singapura tengah duduk di posisi ketiga Grup B dengan nilai 6.

Capaian Indonesia mengulang sejarah yang terjadi pada 2007, 2012, dan 2014. Pada tiga edisi tersebut, Indonesia juga tak berhasil melaju ke fase gugur, karena menempati posisi tiga di babak grup pada masing-masing edisi.

Bak pepatah klasik, hasil pada 2018 ini ibarat panggang (sangat) jauh dari api. Pasalnya, sebelum Piala AFF 2018 berlangsung, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menargetkan timnas menjadi juara. Nyatanya, mereka bahkan tak lolos dari fase grup.

Hasil itu jelas membuat para pemain timnas Indonesia sedih. Hal ini dituturkan sang pelatih, Bima Sakti. Menurut Bima, beberapa pemain yang menyaksikan laga Filipina vs. Thailand dari saluran televisi di Hotel Sultan, Jakarta, bahkan sampai menangis.

"Tadi setelah makan malam, kami sempat nonton bareng dan sangat menegangkan. Setelah pertandingan selesai, semua pemain sedih dan menangis atas skor akhir imbang 1-1," kata Bima dalam Bola.com.

Bima pun meminta maaf kepada masyarakat dan PSSI atas hasil ini. "Pertama saya minta maaf kepada PSSI dan pecinta sepak bola Indonesia," ujar Bima.

"Kami semua pasti sedih, tapi saya pesan kepada pemain, perjuangan belum selesai dan kami harus tutup pertandingan hari Minggu dengan kemenangan," tambahnya.

Sebenarnya, bila melihat persiapan dalam menghadapi Piala AFF kali ini, kondisi timnas memang tak terlalu ideal. Kurang dari sebulan turnamen dimulai, PSSI memutuskan mengganti pelatih kepala asal Spanyol, Luis Milla, dengan Bima.

Alasannya, selain karena keberatan gaji yang hampir Rp2 miliar tiap bulan, Milla diberhentikan karena tak memenuhi target yang diberikan PSSI dalam Piala AFC U-23, SEA Games 2017, dan Asian Games 2018.

Bima memang sudah cukup lama menjadi asisten dari Milla. Namun, harus diakui, pengalaman Bima menjadi pelatih kepala masih minim. Pada level klub, ia hanya pernah menjadi asisten pelatih Persiba Balikapan.

Lantas, Bima mendapat kesempatan menjadi kepala pelatih timnas U-19 pada November 2017, meski hanya seumur jagung. Selain itu, ia juga baru memiliki Lisensi Kepelatihan A AFC, bukan lisensi profesional AFC.

Dengan curriculum vitae seperti itu, tak salah bila mengatakan Bima masih hijau saat menjadi pelatih kepala.

Keputusan PSSI untuk tak memperpanjang Milla dan mengganti dengan Bima inilah yang disesali sejumlah pihak. Salah satunya adalah legenda sepak bola Indonesia, Firman Utina.

"Anak-anak seperti kehilangan induknya. Lalu, bukan saya banggain Milla, kita harus akui Milla merupakan pelatih bagus. Kita, pelatih muda, harus belajar dari dia," ucap Firman kepada Bolalob.com.

Sedangkan menurut legenda sepak bola Indonesia lainnya, Rochy Putiray, hasil di Piala AFF 2018 ini merupakan bentuk dari ketidakbecusan PSSI dalam mengurus timnas. Kegagalan mempertahankan Milla, menurut Rochy, sebagai pangkalnya.

"Sekarang masyarakat tahu yang salah bukan pelatih. Salah pengurus. Pengurus tidak objektif. Semua bilang Milla gagal, tidak maksimal. Adik-adik di Asian Games kemarin berhasil ke delapan besar. Itu prestasi luar biasa," ucap Rochy.

Kecaman kepada federasi bukan hanya diserukan di dunia nyata. Demikian pula di dunia maya. Tanda pagar (tagar) #Edyout sempat menjadi Twitter Indonesia pada kemarin malam. Mereka meminta Edy Rahmayadi, Ketua Umum PSSI untuk mundur.

Bahkan, sebagai bentuk protes terhadap segala kebijakan PSSI, warganet melakukan gerakan lainnya di dunia maya. Mereka membuat tagar #kosongkanGBK saat Indonesia melawan Filipina, Minggu (25/11).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR