PIALA SUDIRMAN 2019

Tiongkok rebut kembali Piala Sudirman

Tim Tiongkok melakukan selebrasi seusai mengalahkan Jepang pada final Piala Sudirman di Guangxi Sports Center Gymnasium, Nanning, China, Minggu (26/5/2019).
Tim Tiongkok melakukan selebrasi seusai mengalahkan Jepang pada final Piala Sudirman di Guangxi Sports Center Gymnasium, Nanning, China, Minggu (26/5/2019). | Wahyu Putro A /Antara Foto

Tiongkok membuktikan sebagai tim terbaik di dunia bulu tangkis. Untuk ke-11 kalinya mereka merebut Piala Sudirman. Kali ini dengan menaklukkan Jepang 3-0 pada final di Nanning, Tiongkok, Minggu (26/5/2019).

Sepanjang sejarah penyelenggaraan kejuaraan dunia beregu campuran dua tahunan tersebut, Tiongkok selalu masuk final sejak 1995 di Lausanne, Swiss. Dalam 11 penampilan di laga pemuncak tersebut, mereka hanya dua kali kalah, pada 2003 dan 2017, keduanya dari Korea Selatan.

"Kekalahan terakhir dari Korea Selatan amat penting bagi kemenangan kami kali ini," kata pelatih kepala Tiongkok, Xia Xuanze, kepada situs resmi BWF.

Kejayaan di hadapan 4.600 penonton di Guangxi Sports Center Gymnasium tersebut juga menunjukkan betapa Tiongkok tak pernah kehabisan pemain muda berkelas dunia. Rata-rata usia pemain tim Tiongkok kali ini adalah 22,5 tahun. Huang Yaqiong, pemain putri ganda campuran, adalah yang tertua dengan usia 25 tahun.

Bisa dibilang, kejayaan para pemain muda Tiongkok di Nanning ini menunjukkan bahwa mereka serius mempersiapkan diri untuk mendominasi pada Olimpiade 2020 di Tokyo, pun Kejuaraan Dunia yang akan lebih dulu berlangsung Basel, Swiss, 19-25 Agustus 2019.

Walau demikian, Xia menyatakan bahwa mereka tak menyangka bisa menang 3-0 atas Jepang di final. "Itu memang di luar perkiraan kami," katanya.

Poin pertama tim tuan rumah direbut oleh ganda putra Li Junhui/Liu Yuchen. Peringkat ke-3 dunia tersebut menaklukkan peringkat ke-6 dunia, Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe, 21-8, 21-10.

Walau peringkat Endo/Watanabe ada di bawah Li/Liu, tetapi ganda Jepang itu sebenarnya memiliki rekor head to head yang bagus dari lawan mereka itu, 3-1. Walau demikian Endo/Watanabe tak bisa menghentikan kecepatan permainan Li/Liu pada final itu.

Keunggulan Tiongkok bertambah menjadi 2-0 ketika tunggal putri Chen Yufei (21), anggota termuda tim ini, bangkit dari kekalahan pada gim pertama untuk menang 17-21, 21-16, 21-17 atas Akane Yamaguchi.

Pada laga ketiga, Jepang berharap tunggal putra no. 1 dunia, Kento Momota, bisa memperpanjang nafas mereka di final. Apalagi Momota telah empat kali menang dalam lima pertarungan melawan andalan Tiongkok, Shi Yuqi, termasuk di final Kejuaraan Dunia tahun lalu.

Namun, setelah sempat memenangi gim pertama 21-15, Momota tampak kesulitan menghadapi gempuran Shi dan menyerah 5-21, 11-21. Para pemain Tiongkok langsung menyerbu masuk lapangan untuk merayakan kemenangan.

Momota menyatakan bahwa ia merasakan tekanan karena mesti menyumbang angka, sementara Shi bermain lebih baik dari biasanya.

Sementara Shi mengakui bahwa pada ia sempat kesulitan beradaptasi dengan permainan lawan dan taktik yang diterapkannya amat buruk sehingga kalah di gim pertama. "Tetapi saya kemudian bisa konsisten menyerang dengan lancar," jelasnya.

Menurut Xia, Shi juga sempat merasakan tekanan yang berat karena pemain berusia 23 tahun itu ingin memberi angka ketiga bagi Tiongkok. "Dia tadi lebih gugup dari Momota," kata sang pelatih.

Kemenangan sempurna itu, menurut pelatih Tiongkok, tak mereka duga, tetapi mereka memang telah mempersiapkan diri untuk menghadapi Jepang. Mereka mempelajari permainan para pebulu tangkis lawan, kemudian berdiskusi untuk menentukan siapa akan melawan siapa.

Pelatih Jepang, Park Joo-bong, tampak kesulitan untuk menjelaskan mengapa final tersebut justru menjadi antiklimaks bagi timnya. Soal kekalahan Momota, Park menduga karena sang pemain belum pulih sepenuhnya usai semifinal melawan Indonesia.

"Momota selalu bermain kecuali sekali (melawan Rusia di babak grup) di Piala Sudirman. Tak mudah bagi dia. Tapi Jepang harus memainkan dia di final karena kami tak punya pilihan yang lebih baik," jelas Park, dinukil Xinhuanet.

Pelatih asal Korea Selatan itu berjanji para pemain akan segera memperbaiki diri dan bersiap untuk menghadapi Olimpiade 2020 di rumah sendiri.

Piala Sudirman 2021 akan kembali berlangsung di Tiongkok. Kota Suzhou dipilih sebagai tuan rumah.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR