SERIE A ITALIA

Torino gagal menang, begitu pun Juventus

Pemain depan Juventus Cristiano Ronaldo (dua kanan) berebut bola dengan bek Torino Lorenzo De Silvestri dalam pertandingan Serie A Liga Italia yang berakhir 1-1 di Stadion Allianz, Turin, Italia, Sabtu (4/5/2019)dini hari WIB.
Pemain depan Juventus Cristiano Ronaldo (dua kanan) berebut bola dengan bek Torino Lorenzo De Silvestri dalam pertandingan Serie A Liga Italia yang berakhir 1-1 di Stadion Allianz, Turin, Italia, Sabtu (4/5/2019)dini hari WIB. | Alessandro Di Marco /EPA-EFE

Juventus sudah memastikan juara Serie A untuk kedelapan kali secara beruntun sejak musim 2011-12. Namun, bukan berarti laga tersisa musim ini dijalani seadanya --apalagi jika lawannya adalah Torino, rival sekota Turin.

Bagi Juve, laga Derby della Mole ke-198 ini hanya sebagai ajang eksperimen sang pelatih Massimiliano Allegri dan menjaga kehormatan. Namun tidak begitu bagi Torino, yang mengejar tiket ke Liga Europa.

Tapi apa daya, Torino gagal memetik kemenangan dan dipaksa menerima hasil 1-1 di Stadion Allianz, kandang Juve. Torino sebenarnya hampir memetik kemenangan setelah Sasa Lukic mencetak gol pada menit ke-18, tapi Cristiano Ronaldo membalas pada menit ke-84.

Bagi Ronaldo, ini adalah gol ke-100 dalam karier klub melalui sundulan kepala. Sementara untuk Torino, mereka tak pernah lagi menang di kandang Juve sejak 1995. Adapun dalam 25 pertemuan dengan Juve di Serie A, Torino hanya pernah menang satu kali --2-1 pada April 2015.

Jadi, Torino pun gagal mengulangi catatan apik Genoa and SPAL yang sukses mengalahkan Juve pada musim ini. Walau begitu, Torino sekarang punya nilai 57 di klasemen sementara --rekor tertinggi yang menyamai perolehan musim 2013-14.

Sorotan terbesar tetap menuju ke Juve. Sejak mengunci gelar juara dua pekan lalu, Juve tak pernah lagi menang. Pekan ke-34 lalu, mereka juga bermain 1-1 dengan Inter Milan.

Bahkan polanya pun mirip. Juve hanya mengandalkan Ronaldo untuk menjaring gol.

Ketika melawan Inter (27/4), Juve terhindari dari kekalahan setelah Ronaldo dengan sundulannya pada menit ke-62 membalas gol Radja Nainggolan pada menit ketujuh.

Tidak heran, Allegri pun mendapat hujan kritik --terutama setelah disingkirkan Ajax Amsterdam dari perempat final Liga Champions. Kritikan mengecam gaya permainan yang diracik Allegri.

Misalnya, mengapa Juve memilih pendekatan taktik negatif ketika menghadapi Ajax. Namun, Allegri bergeming.

"Sepak bola bukan ilmu pasti. Bagaimana Anda menjelaskan kami hanya menguasai 38 persen tapi bisa mengalahkan Real Madrid 3-1 (Liga Champions 2018). Lalu kami mendominasi permainan melawan Ajax tapi kalah.

"Orang bebas beropini dan saya pun siap dikritik. Tapi kita harus mengacu pada pelajaran masa lalu dan bersiap untuk masa depan. Orang boleh mengkritik, tapi tugas saya adalah memberi hasil kepada klub ini," ujar pelatih 51 tahun ini kepada Sky Sports (h/t Fox Sports).

Di sisi lain, rumor menyatakan Allegri bakal meninggalkan Juve karena sudah kenyang empat kali juara Serie A beruntun bersama klub berjuluk Si Nyonya Tua tersebut. Namun, Direktur Juve Pavel Nedved menegaskan bahwa tak ada isu itu di klubnya.

"Dia sudah pasti akan bersama kami tahun depan, kontraknya masih ada dan akan berlanjut," tutur bekas gelandang Juve ini (h/t Calciomercato).

Allegri pun menegaskan akan tetap bersama Juve karena masih termotivasi untuk meraih kesuksesan, terutama menjuarai Liga Champions. Kendati begitu, Allegri ingin bicara dengan Presiden Andrea Agnelli pada akhir musim nanti untuk menetapkan rencana jelas demi musim depan.

"Juve harus tetap kompetitif setiap musim dan mengejar semua tantangan. Saya masih punya motivasi untuk terus menangani Juve," katanya pada Kamis (2/4) seperti dilansir Daily Mail.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR