LIGA CHAMPIONS

Tottenham atau Liverpool akan menjadi penguasa baru di Spanyol

Sebuah bola dengan desain sambutan untuk final Liga Champions dipamerkan di depan balai kota Madrid, Cybele Palace, di Spanyol, Rabu (29/5/2019).
Sebuah bola dengan desain sambutan untuk final Liga Champions dipamerkan di depan balai kota Madrid, Cybele Palace, di Spanyol, Rabu (29/5/2019). | Carlos Perez /EPA-EFE

Dalam satu dekade terakhir, Spanyol adalah penguasa Liga Champions. Delapan kali wakil negara itu menjadi juara, termasuk lima edisi belakangan.

Namun pada final musim ini, Tottenham "Spurs" Hotspur atau Liverpool akan memutus dominasi Spanyol. Bahkan laga final di Stadion Wanda Metropolitano di Madrid, Spanyol, Minggu (2/6/2019) dini hari WIB tersebut juga menegaskan kutukan bagi klub negeri matador untuk juara di rumah sendiri.

Sudah tujuh kali final Liga Champions digelar di Spanyol, tapi hanya Real Madrid yang mampu memenangi final --kebetulan di Stadion Santiago Bernabeu. Itu pun terjadi pada masa klasik 1956-57 ketika Madrid menundukkan Fiorentina 2-0.

Barcelona tak pernah juara di Spanyol.
Barcelona tak pernah juara di Spanyol. | Lokadata /Beritagar.id

Sejak itu, Madrid tak pernah lagi masuk final ketika lokasi pertandingan berada di Spanyol. Demikian pula Barcelona yang sama sekali belum pernah juara di Spanyol walau sudah lima kali menjadi jawara.

Salah satu contoh bisa dilihat pada final musim 2009-10 ketika Inter Milan juara usai mengalahkan Bayern Munich 2-0 di Madrid. Barcelona justru juara pada musim sebelumnya dan musim sesudahnya, masing-masing di Roma (Italia) dan London (Inggris).

Jadi, final nanti akan menegaskan bakal ada penguasa baru di Spanyol. Inggris pun bisa tersenyum gembira karena sebelum ini sudah dua kali wakil mereka juara Liga Champions di Spanyol, masing-masing Nottingham Forest dan Manchester United.

Lalu siapa yang unggul antara Spurs dan Liverpool?

Para analis atau pundit sepak bola kerap mengatakan bahwa peluang kedua tim dalam laga final selalu 50-50. Siapa menjadi juara hanya akan ditentukan oleh detail kecil.

Yang jelas pada musim 2018-19 kali ini, hanya ada satu pertandingan fase gugur yang berlangsung hingga masa babak tambahan (extra time) --FC Porto vs. AS Roma pada fase 16 Besar. Jadi, belum ada yang menang dengan adu penalti.

Secara statistik, dari data yang diolah Lokadata Beritagar.id, Spurs dan Liverpool punya latar yang relatif sama. Dalam hal formasi tim, dari partai leg pertama semifinal, sama-sama tidak ampuh.

Spurs memakai formasi 4-2-3-1 untuk menjamu Ajax Amsterdam pada leg pertama semifinal di London dan hasilnya kalah 0-1. Begitu pula Liverpool yang menerapkan formasi 4-3-3 saat mengunjungi Barelona sehingga kalah 0-3.

Spurs dan Liverpool sama-sama ahli dalam membalikkan situasi.
Spurs dan Liverpool sama-sama ahli dalam membalikkan situasi. | Lokadata /Beritagar.id

Sebaliknya ketika melakoni leg kedua. Dengan menggunakan formasi berbeda; Spurs 3-4-1-2 dan Liverpool 4-2-3-1, mereka berhasil menang dramatis sehingga menciptakan final sesama Inggris untuk kedua kalinya sepanjang sejarah Liga Champions.

Dari sisi permainan, Spurs dan Liverpool pun relatif setara. Misalnya soal peluang mencetak gol, perbedaannya tidak terlalu jauh walau Spurs unggul dibanding Liverpool dengan 183 berbanding 172 kali.

Namun begitu, efektivitas Liverpool sedikit lebih baik karena mencetak 22 gol dibanding 20 gol oleh Spurs sehingga rasio golnya menjadi 1,83 vs. 1,67. Liverpool juga memiliki keunggulan dalam hal mencetak gol melalui sundulan, 13 berbanding 8.

Dengan latar seperti itu, pertandingan diperkirakan bakal berjalan sangat ketat karena kedua tim sama-sama agresif menyerang. Selain itu, Spurs dan Liverpool sama-sama melakukan pelanggaran cukup sering serta masuk dalam lima besar soal itu.

Latar belakang statistik Spurs dan Liverpool.
Latar belakang statistik Spurs dan Liverpool. | Lokadata /Beritagar.id

Dari sisi pertemuan (head to head), Liverpool sudah dua kali mengalahkan Spurs pada musim ini. Liverpool juga unggul komposisi lini tengah karena pelatihJurgen Klopp memiliki pilihan pemain yang lebih bervariasi dibanding Spurs.

Contoh paling jelas bisa dilihat ketika Liverpool menundukkan Barcelona 4-0 dalam leg kedua semifinal di Anfield. Klopp memainkan Georginio Wijnaldum dari bangku cadangan dan pemain asal Belanda ini menyumbang dua dari empat gol kemenangan.

Lini tengah Liverpool seolah tak punya cela sebagai mesin utama permainan dalam menekan lawan yang menguasai bola dan menyerang pertahanan musuh. Para pemain tengah juga bisa seketika menjadi goal getter, contohnya Wijnaldum tadi.

Daya jelajah para pemain Liverpool juga unggul dibanding Spurs. Hanya ada tiga pemain Spurs dalam 10 besar pemain kedua tim yang punya daya jelajah pergerakan sangat luas.

Klopp juga ahli dalam mengubah permainan. Satu di antaranya bisa dilihat saat Liverpool kalah 1-2 dari Paris Saint Germain di Parc des Princes dalam laga Grup C.

Liverpool kalah karena tampil loyo pada babak pertama. Namun selepas turun minum, Liverpool justru tampil berbeda dan penuh energi dengan serangan yang sangat hidup berkat dukungan bek sayap yang overlapping kendati akhirnya tetap kalah.

Daya jelajah para pemain Liverpool lebih luas dibanding para pemain Spurs.
Daya jelajah para pemain Liverpool lebih luas dibanding para pemain Spurs. |

Sisi kelemahan Liverpool adalah lini pertahanannya yang kadangkala tampil bak pemain amatir. Sedangkan pekerjaan rumah paling besar bagi Klopp adalah menata mental para pemainnya setelah kalah 1-3 dari Madrid dalam laga final musim lalu.

Dari sisi Spurs, pelatih Mauricio Pochettino akan mencari solusi bagaimana mengatasi agresivitas lini tengah Liverpool. Namun, bukan berarti Spurs akan memilih bertahan dan boleh jadi akan mengandalkan dua bek sayap dalam formasi 3-5-2 atau 3-4-1-2 untuk menghentikan laju Liverpool seperti saat mematikan Ajax.

Pakem permainan bertahan bukan filosofi Pochettino. Seperti disebut di atas, kedua tim akan sama-sama menyerang dan pada akhirnya detail kecil yang menentukan siapa juara.

Pertandingan akan ditentukan oleh soal mental dan sikap para pemain di lapangan. Soal mental, Liverpool boleh jadi akan dibayangi kegagalan musim lalu dan Spurs justru bisa bermain lepas karena ini adalah final pertamanya sepanjang sejarah.

Dan mental Spurs akan mendapat suntikan berharga jika kapten Harry Kane bisa tampil, setidaknya dari bangku cadangan. Penyerang asal Inggris ini menyatakan sudah pulih dari cedera pergelangan kaki setelah tujuh pekan beristirahat.

"Saya tinggal mencapai level kebugaran yang dibutuhkan untuk bermain. Sisanya terserah pelatih, yang pasti saya sudah siap bermain," ujar pemain 25 tahun ini yang sudah bergabung dengan latihan tim pada pekan ini.

Catatan redaksi: Ada kesalahan data pada bagian fase gugur. Tertulis belum ada mencapai extra time, seharusnya sebaliknya. Kesalahan telah diperbaiki.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR