LIGA CHAMPIONS

Tottenham ciptakan All English Finals

Gelandang Lucas Moura disambut Dele Alli dan Christian Eriksen usai menjadi pahlawan Tottenham Hotspur untuk lolos ke final Liga Champions, Kamis (9/5/2019) dini hari WIB.
Gelandang Lucas Moura disambut Dele Alli dan Christian Eriksen usai menjadi pahlawan Tottenham Hotspur untuk lolos ke final Liga Champions, Kamis (9/5/2019) dini hari WIB. | Olaf Kraak /EPA-EFE

Dua malam beruntun keajaiban terjadi dalam semifinal Liga Champions. Setelah Liverpool bangkit dari kekalahan 0-3 untuk menang 4-0 atas Barcelona, giliran Tottenham "Spurs" Hotspur melakukannya pada Kamis (9/5/2019) dini hari WIB.

Spurs ketinggalan 0-1 dari Ajax Amsterdam pada leg pertama di London pekan lalu. Namun pada leg kedua di kandang Ajax, Johan Cruijff Arena, di Amsterdam, Belanda, dini hari tadi Spurs mampu membalas untuk kemenngan 3-2.

Skor agregat menjadi imbang 3-3, tapi Spurs layak ke final karena lebih produktif di kandang Ajax. Alhasil Spurs menciptakan All English Finals di Madrid, Spanyol, pada 2 Juni waktu Indonesia karena akan menjumpai sesama klub Inggris Liverpool.

Ini akan menjadi final ketiga sesama klub Inggris di kompetisi Eropa. Uniknya, Spurs yang melakukan pertama kali ketika menghadapi Wolverhampton Wanderers pada final Piala UEFA (cikal bakal Liga Europa) musim 1971-72 dan berhasil menjadi jura dengan kemenangan agregat 3-2.

Sementara final sesama Inggris lainnya terjadi ketika Manchester United (MU) mengalahkan Chelsea melalui adu penalti 6-5 (1-1) di pentas Liga Champions 2007-08. Jadi, edisi 2019 ini akan menjadi kesempatan kedua Spurs di Eropa.

Namun di ajang Liga Champions, ini adalah final pertama Spurs. Mereka pun menjadi klub kedelapan Inggris yang mampu mencapainya setelah Arsenal, Aston Villa, Chelsea, Leeds United, Liverpool, MU, dan Nottingham Forest.

Pelatih Spurs, Mauricio Pochettino, terharu menyambut keberhasilan timnya. Langkah Spurs ke final disebutnya berkat kerja keras dan berat selama lima tahun.

Apalagi klub asal London utara ini tidak membeli pemain baru sama sekali dalam setahun terakhir. Spurs harus memfokuskan keuangan untuk merenovasi stadion White Hart Lane yang kini sudah rampung.

"Saya pikir ini adalah hadiah yang pantas bagi semua pihak di dalam klub Tottenham. Kami bersama-sama menjalani masa berat selama lima tahun sejak saya hadir pertama kali. Bermain di final sungguh mengagumkan," ujar pelatih asal Argentina ini sambil terisak dalam laman UEFA.

Pochettino pun meyebut semua pemainnya adalah pahlawan, tapi yang terutama adalah Lucas Moura. Betapa tidak, pemain asal Brasil ini mencetak hat-trick.

Spurs sebenarnya tertinggal dua gol dari Ajax hingga babak pertama berakhir. Kapten Ajax, Matthijs de Ligt, mencetak gol pertama pada menit kelima dan digandakan oleh Hakim Ziyech pada menit ke-35.

Jadi, secara agregat, Ajax untuk sementara unggul tiga gol. Alhasil Spurs harus mencetak tiga gol jika ingin lolos. Namun, Spurs berhasil menjawab syarat itu.

Moura membangkitkan semangat Spurs dengan golnya pada menit ke-55. Empat menit kemudian, mental Spurs benar-benar bangkit setelah Moura mencetak gol keduanya.

Sebaliknya, wajah para pemain Ajax makin tertekan dan terlihat ada beban mental. Sebaliknya, semangat Spurs cukup membara sehingga Moura masih bisa mencetak gol kemenangan saat pertandingan sudah menjalani tambahan waktu kelima (95).

Kunci kemenangan Spurs

Alhasil Spurs seolah "meniru" Liverpool. Kedua klub ini bisa menciptakan keajaiban ketika pemain kunci absen.

Liverpool mengalahkan Barcelona tanpa kehadiran dua penyerang utama, Roberto Firmino dan Mohammed Salah. Sementara Spurs kehilangan kapten dan penyerang Harry Kane.

Jadi, kunci permainan yang membawa mereka ke final adalah kolektif tim. Satu hal lainnya adalah upaya keras tanpa kenal menyerah.

Itu yang ditunjukkan Spurs. Dalam permainan serba terbuka dan saling menyerang hingga ke ujung gawang, Ajax dan Spurs sama-sama mencatat peluang.

"Bermain melawan Ajax sungguh sulit, tapi saya selalu percaya pada teman-teman setim. Sepak bola sungguh indah, kami tak bisa membayangkan suasananya, ini momen terindah dalam karier saya," tutur Moura.

Ball possesion relatif seimbang; 42 persen dari Ajax dan 58 persen oleh Spurs. Ajax mengendalikan permainan pada babak pertama sehingga mampu mencetak dua gol.

Sementara Spurs menguasai babak kedua. Bahkan pada 45 menit kedua, Spurs lebih agresif dan memberi tekanan yang lebih deras dengan menaikkan barisan penyerang lebih ke depan.

Tidak heran, Spurs mampu melepas jumlah tembakan lebih banyak dibanding Ajax; 8 berbanding 4 yang mencapai gawang lawan dan 6 berbanding 10 yang melenceng.

"Spurs bermain dengan intensitas tinggi dan memberi kami banyak masalah, terutama pada babak kedua. Kami benar-benar tak bisa lepas dari tekanan mereka," kata De Ligt yang diamini oleh rekan setimnya, Frenkie de Jong.

Satu hal lain yang bisa dicatat adalah bagaimana sebuah tim seharusnya tetap fokus hingga waktu akhir. De Ligt mengatakan sinyal dari wasit hanya ada satu menit tambahan waktu sehingga para pemain Ajax seolah hanya perlu mempertahankan keunggulan agregat 3-2, tapi kenyataan lima menit.

"Kami sudah dekat dan pantas (ke final). Namun, kami ceroboh karena membuang keunggulan," ujar pelatih Ajax, Eric ten Hag.

"Saya dengan tenang menyampaikan kepada para pemain bahwa pertandingan belum selesai. Anda bisa lihat bagaimana Spurs begitu yakin.

"Anda harus terus berusaha, tapi situasi justru kian sulit, Spurs mulai bermain oportunis dan kami justru gagal melakukan serangan balik, andai peluang kami tidak mengenai tiang gawang, pertandingan pasti selesai," tukasnya.

Catatan redaksi: Ada kesalahan tanggal partai final. Pada awal tertulis 2 Mei, seharusnya 2 Juni. Kesalahan telah diperbaki.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR