PIALA AFF 2018

Transisi permainan timnas Indonesia berantakan

Para pemain timnas Indonesia (kiri) tampak kecewa setelah dikalahkan Singapura 0-1 dalam laga perdana Grup B Piala AFF 2018 di Stadion Nasional Singapura, Jumat (9/11/2018).
Para pemain timnas Indonesia (kiri) tampak kecewa setelah dikalahkan Singapura 0-1 dalam laga perdana Grup B Piala AFF 2018 di Stadion Nasional Singapura, Jumat (9/11/2018). | Sigid Kurniawan /Antara Foto

Timnas Indonesia gagal memperbaiki catatan buruk dalam penampilan perdana Piala AFF. Menjalani laga pertama Grup B di Stadion Nasional, Singapura, Jumat (9/11/2018), skuat Garuda menyerah 0-1 kepada Singapura.

Dengan begitu, Indonesia sudah empat kali beruntun gagal memenangi partai perdana turnamen antarnegara Asean ini. Pada tiga edisi terdahulu, Indonesia ditahan Laos 2-2 (2012), diimbangi Vietnam 2-2 (2014), dan menyerah 1-4 kepada Thailand (2016).

Adapun gol tunggal kemenangan Singapura di depan publiknya kemarin malam dicetak kapten Harris Harun pada menit 37. Harris menundukkan kiper Andritany Ardhyasa setelah menerima bola rebound dalam posisi bebas di kotak penalti Indonesia.

Indonesia secara keseluruhan tampil di bawah standar, bila mengacu pada permainan dalam tiga latih tanding sebelum Piala AFF 2018. Mental para pemain pun tidak tenang, bahkan emosional -- terutama pada masa-masa akhir pertandingan.

Itu bisa dilihat pada menit 93 ketika bek kanan Putu Gede Juni Antara harus menerima kartu merah dari dua kartu kuning. Putu melakukan aksi yang tak semestinya saat melanggar keras Adam Swandi.

Pelatih Bima Sakti mengatakan tanggung jawab atas semua kejadian di lapangan ada di pundaknya. Dalam laman resmi PSSI, Bima mengatakan kekalahan dari Singapura akan dijadikan pekerjaan rumah untuk dibereskan.

"Pertandingan pertama biasanya tekanan sangat berat dan harus siap mental. Pemain yang bermain baik biasanya mereka yang bisa menyiapkan mentalnya dengan baik juga. Ini tanggung jawab saya," tukas Bima.

Bima lebih lanjut mengatakan bahwa Indonesia tak berdaya menghadapi organisasi permainan Singapura yang cukup rapi. Serangan Indonesia pun berulang kali macet meski menguasai bola hingga 62 persen.

Organisasi permainan yang rapi itulah yang tak ada dalam bangunan tim Hansamu Yama dkk. Transisi permainan yang sudah dipersiapkan Bima dalam latihan sebelum pertandingan sama sekali tak terlihat.

Pertahanan Indonesia menganga lebar ketika terjadi serangan balik dan serangan kekurangan dukungan setelah berhasil mencuri bola dari Singapura. Malangnya, pertahanan inti Indonesia pun tak cukup rapi dan tidak disiplin dalam mengawal lawan.

Lubang terjadi di sana-sini sejak menit pertama. Tidak heran Singapura bisa leluasa total melepas 10 tembakan -- empat di antaranya ke arah gawang dan satu menjadi gol.

Lubang di jantung pertahanan Indonesia
Lubang di jantung pertahanan Indonesia | Tangkapan layar RCTI /LyGoalTV/Youtube

Serangan Singapura selalu mencapai jantung pertahanan Indonesia. Dan Indonesia menyisakan ruang besar di depan pertahanan dan di belakang gelandang.

Para pemain Indonesia juga gagal merapatkan lini pertahanan dan mudah terpancing oleh para pemain Singapura yang menguasai bola. Ketika para pemain Indonesia berusaha mengurung pemain Singapura yang membawa bola, pemain lain Singapura dengan sigap mengisi ruang kosong,

Proses gol Harun pun menggambarkan hal itu. Ia berdiri bebas di kotak penalti karena seluruh pemain bertahan Indonesia berusaha mengantisipasi pergerakan Gabriel Quak.

jadi, ada pemahaman ruang yang gagal dipahami para pemain Indonesia. Akibatnya ketika Quak mengirim bola silang dan memantul, Harun dengan leluasa menyambarnya.

Harris Harun berdiri bebas tanpa kawalan untuk menyambar bola rebound di kotak penalti Indonesia pada menit 36.
Harris Harun berdiri bebas tanpa kawalan untuk menyambar bola rebound di kotak penalti Indonesia pada menit 36. | Tangkapan layar RCTI /LyGoal TV/Youtube

Di sisi serangan, Indonesia juga "dipaksa" hanya mengandalkan sayap. Para pemain sayap Indonesia; Febri Haryadi atau Irfan Jaya dan bahkan Riko Simanjuntak yang menjadi pemain pengganti, kerap bebas bermanuver tapi bola akhir mereka kerap macet.

Andai Indonesia ingin menyerang dari tengah, Singapura sudah sigap mencegat. Evan Dimas dan Stafeno Lilipaly pun tak leluasa bergerak karena terus dikawal.

Dengan serangan yang terus macet itu, Indonesia hanya mampu melepas satu tembakan ke arah gawang --melalui tusukan Rizki Pora. Empat tembakan lainnya melenceng.

Bagi Indonesia, ini adalah pelajaran berharga. Kekalahan tidak serta merta menutup peluang Indonesia karena pada edisi 2016 pun kalah pada laga perdana tapi berhasil masuk final meski akhirnya harus puas menjadi runners-up.

Bima mengatakan bakal membangkitkan mental para pemainnya untuk tampil lebih baik melawan Timor Leste di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada Selasa (13/11).

"...Kami harus bekerja lebih keras dan menang melawan Timor Leste," jelasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR