MALAYSIA OPEN 2019

Tugas berat Rionny Mainaky

Rionny Mainaky (kanan), yang baru menjabat sebagai pelatih tunggal putri Indonesia, tampak memberikan instruksi kepada Gregoria Mariska Tunjung di Malaysia Open 2019, Kuala Lumpur, Rabu (3/4/2019).
Rionny Mainaky (kanan), yang baru menjabat sebagai pelatih tunggal putri Indonesia, tampak memberikan instruksi kepada Gregoria Mariska Tunjung di Malaysia Open 2019, Kuala Lumpur, Rabu (3/4/2019). | BadmintonIndonesia.org /PBSI

Rionny Mainaky kini telah melihat betapa berat tugas yang diembannya sebagai pelatih tunggal putri Indonesia. Dua wakil Indonesia di nomor tersebut langsung tersingkir pada babak pertama Malaysia Open.

Fitriani ditaklukkan Sung Ji-hyun dari Korea Selatan, 15-21, 15-21, pada pertandingan di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Rabu (3/4/2019), disusul Gregoria Mariska Tunjung yang menyerah 12-21, 16-21 dari unggulan ketujuh asal Thailand, Ratchanok Inthanon.

Dengan demikian tidak ada tunggal putri Indonesia yang tersisa pada turnamen kategori BWF World Tour Super 750 tersebut.

Memang, sejak beberapa tahun terakhir, tersingkirnya tunggal putri Indonesia di babak-babak awal sebuah turnamen sudah biasa, terutama pada turnamen BWF kategori Super 500 ke atas. Bahkan sejak era 1990-an, belum ada lagi yang bisa berbicara banyak pada turnamen internasional seperti Susi Susanti dan Mia Audina.

Fitriani memang menjuarai Thailand Masters pada Januari lalu, tetapi itu adalah turnamen kelas Super 300. Lalu, pencapaian terbaiknya setelah itu hanya sampai babak kedua di Malaysia Masters, Indonesia Masters, Barcelona, dan German Open.

Gregoria lebih buruk lagi. Pencapaian terbaik juara dunia junior 2017 itu dalam lima turnamen yang telah diikutinya tahun ini hanya mencapai babak kedua Indonesia Masters.

Pelatih tunggal putri datang dan pergi silih berganti, tetapi hasil yang baik belum terwujud. Kali ini tanggung jawab memperbaiki dan membangkitkan prestasi mereka ada di tangan Rionny Frederik Lambertus Mainaky.

Rionny adalah anggota keluarga Mainaky yang kesohor karena prestasi mereka di dunia bulu tangkis, baik sebagai pemain maupun pelatih. Namanya sudah diumumkan PBSI sebagai pelatih baru tunggal putri sejak awal Maret 2019, tetapi baru resmi melatih di Pelatnas Cipayung pada 1 April.

Sebelumnya, lelaki berusia 53 tahun ini adalah pelatih ganda putra tim nasional Jepang. Prestasi para pemain Negeri Matahari Terbit di dunia saat ini tak lepas dari tangan dinginnya selama 10 tahun terakhir.

Walau lama fokus di ganda putra, ia pernah melatih tunggal putri ketika bekerja untuk Unisys, klub bulu tangkis di Jepang, pada awal karier kepelatihannya. Juara dunia 2017 dan peringkat ketiga dunia tunggal putri saat ini, Nozomi Okuhara, adalah hasil didikannya.

Oleh karena itulah PBSI percaya ia bisa mengangkat kembali prestasi tunggal putri Indonesia di kancah dunia.

"Tunggal putri kami memang paling ketinggalan dibanding sektor lain. Kami mau menciptakan yang terbaik seperti di Jepang. Kami melihat karakter, tekad, semangat dari atlet-atlet Jepang. Ternyata kan ada pelatih Indonesia di sana, Rionny Mainaky," jelas Susi Susanti, sekarang Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, ketika menjelaskan alasan mereka memilih Rionny.

Menemani Gregoria dan Fitriani ke Kuala Lumpur menjadi perjalanan pertamanya bersama tim nasional Indonesia dan kini Rionny telah melihat langsung bagaimana permainan mereka.

"Sebelum berangkat ke Malaysia saya sempat ketemu mereka dan latihan sebentar. Jadi sedikit banyak sudah tahu permainan mereka. Kalau penampilan tadi sudah cukup lepas. Cuma tadi masih ada kekurangan sedikit dari mereka untuk menemukan ritme permainan. Kalau lawan seperti ini, mereka harus gimana. Masih ada ragu-ragu sedikit,” ungkap Rionny kepada Badmintonindonesia.org.

Ia menyatakan, begitu pertandingan usai, evaluasi dilakukan. Bahkan Fitriani dan Gregoria langsung diajaknya berlatih lagi. "Langsung dibenahi cepat, biar mereka tahu kesalahannya dimana," kata Rionny.

Setelah Malaysia Open, Gregoria dan Fitriani akan melanjutkan pertandingannya ke Singapore Open 2019 yang berlangsung minggu depan. Rionny mengaku telah menyiapkan beberapa program latihan singkat untuk memperbaiki penampilan anak didiknya tersebut.

"Kedepannya mereka harus tambah sedikit lagi lebih fight di lapangan, jangan kalah speed sama buangan bolanya harus lebih diperhatikan. Tadi saya lihat Fitriani ada bagian yang masih ragu-ragu. Kalau Gregoria saat poin enak, dia mau memaksa. Setelah ini kami akan lihat video lagi, bagaimana kelebihan dan kelemahan lawan,” kata Rionny.

Perjalanan karier Gregoria dan Fitriani masih panjang. Usia mereka masing-masing baru 19 dan 20 tahun. Akan tetapi, jika tidak ditangani dengan tepat, bakat mereka akan terbuang percuma.

Harapan kini ada di tangan Rionny untuk bisa mengeluarkan kemampuan terbaik mereka dan mengembalikan kejayaan tunggal putri Indonesia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR