ATLETIK

Zohri belum berhenti cetak prestasi dan rekor

Sprinter Indonesia, Lalu Mohammad Zohri, berpose untuk Beritagar.id di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, 28 Juli 2018.
Sprinter Indonesia, Lalu Mohammad Zohri, berpose untuk Beritagar.id di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, 28 Juli 2018. | Bismo Agung Sukarno /Beritagar.id

Sprinter Indonesia Lalu Mohammad Zohri belum berhenti mencetak prestasi. Setelah menjuarai nomor bergengsi sprint 100 meter dalam Kejuaraan Dunia IAAF U-20 2018 di Finlandia, atlet yang akan berusia 19 tahun pada Juli nanti tersebut berhasil meraih medali perak nomor serupa pada Kejuaraan Atletik Asia 2019.

Zohri finis di posisi kedua dengan catatan waktu 10,13 detik dalam kejuaraan di Doha, Qatar, Senin (22/4/2019). Zohri bahkan sempat memimpin lomba sebelum disalip Yoshihide Kiryu dari Jepang yang akhirnya meraih medali emas dengan waktu 10,10 detik. Adapun medali perunggu direbut pelari Tiongkok Zhiqiang Wu dengan waktu 10,18 detik.

Bagi Zohri, ini adalah prestasi dengan nilai tertinggi secara individu. Meski hanya meraih medali perak, gengsinya lebih tinggi karena Kejuaraan Atletik Asia adalah kelas senior --bukan junior seperti di Finlandia lalu.

Namun, tetap emas yang direbut Zohri di Finlandia menjadi medali pertama yang pernah direbut atlet Indonesia dalam 32 tahun sejarah Kejuaraan Dunia IAAF U-20. Akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah catatan waktunya yang kian tajam.

Di Finlandia, Zohri juara dengan catatan waktu 10,18 detik yang langsung menjadi rekor pribadi dan nasional untuk kelas junior. Namun di Qatar, Zohri mencatat waktu 10,13 sehingga memecahkan rekor Asean yang sudah bertahan selama 10 tahun.

Zohri melampaui catatan waktu Suryo Agung Wibowo 10,17 detik yang diciptakan dalam SEA Games 2009 di Vientiane, Laos, sejak pada semifinal dalam 10,15 detik. Sebelum Zohri dan Suryo, catatan waktu sprint 100 meter putra Indonesia pernah mengalami tiga kali pemecahan.

Mohammad Sarengat mencatat waktu 10,40 detik pada Asian Games 1962 di Jakarta sebagai rekor nasional dan Asean. Lantas Purnomo mempertajam pada Kejuaraan Atletik Asia 1985 di Jakarta dengan catatan waktu 10,33 detik.

Berikutnya Mardi Lestari memecahkan rekor nasional, Asean, dan Asia dengan catatan waktu 10,20 detik pada PON XII 1989 di Jakarta. Jadi, hanya Zohri dan Suryo yang melakukan pemecahan rekor dan mempertajam catatan waktu di luar Indonesia.

Namun, Zohri bukan hanya baru kali ini menunjukkan prestasi. Atlet yang kurang nyaman dengan publikasi ini sudah menjanjikan sejak tampil dalam Kejuaraan Nasional antar-Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) di Surabaya pada November 2017.

Tampil mewakili PPLP Nusa Tenggara Barat, Zohri finis terdepan dengan catatan waktu 10,25 detik dalam nomor spesialisasinya. Ketika itu, Zohri yang masih berusia 17 tahun memecahkan rekor nasional 10,45 detik milik Sudirman Hadi.

Sebelum ke Finlandia, Zohri sempat keluar sebagai juara junior Asia dalam nomor sprint 100 meter. Catatan waktunya 10,23 detik sehingga Zohri memang terus mempertajam durasi larinya dalam 100 meter.

Namun begitu Zohri sempat gagal berprestasi dalam Asian Games 2018 di Jakarta. Ketika itu ia tidak diminta memberi medali karena masih berstatus junior sehingga hanya finis di urutan tujuh. Ia hanya berhasil memberi medali perak dalam nomor estafet 4x100 meter putra bersama sprinter Fadlin, Eko Rimbawan, dan Bayu Kertanegara.

Di sisi lain, Suryo yakin Zohri masih berpotensi mencetak prestasi. Kesuksesan di Qatar, kata Suryo, bisa menjadi motivasi tambahan untuk mencapai catatan waktu 9 detik. Suryo menyebut Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang, bisa menjadi kesempatan itu.

"Namun, prosesnya harus sesuai dengan tahapan usianya," kata Suryo dilansir Antara (h/t Liputan6.com).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR