11 Tersangka kerusuhan 22 Mei yang terencana

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo (tengah) bersama Kabagpenum Divisi Humas Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra (kiri), Kabidpenum Puspen TNI Kolonel Sus Taibur Rahman (kedua kiri), Dirjen Aptika Kemkominfo Semuel Abrijani Pangerapan (kedua kanan) dan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono (kanan) menyampaikan situasi terkini pascakericuhan Aksi 22 Mei di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Sabtu (25/5/2019).
Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo (tengah) bersama Kabagpenum Divisi Humas Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra (kiri), Kabidpenum Puspen TNI Kolonel Sus Taibur Rahman (kedua kiri), Dirjen Aptika Kemkominfo Semuel Abrijani Pangerapan (kedua kanan) dan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono (kanan) menyampaikan situasi terkini pascakericuhan Aksi 22 Mei di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Sabtu (25/5/2019). | Dhemas Reviyanto /ANTARA FOTO

Kerusuhan aksi 22 Mei yang terjadi di depan kantor Bawaslu diduga dipicu sekelompok orang. Setidaknya, 11 orang sudah jadi tersangka. Masing-masing punya peran dalam aksi yang direncanakan ini.

Penetapan 11 orang tersangka itu disampaikan Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Polisi Dedi Prasetyo di kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam), Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Sabtu (25/5).

"Memang setting-an dari berbagai kelompok massa tersebut adalah membuat demo yang tadinya damai menjadi rusuh, ini yang diprakarsai oleh berbagai orang dalam satu area," jelas Dedi. Polisi mencokok 11 orang tersangka perusuh itu di kawasan Kampung Bali, Jakarta Pusat, Kamis (23/5) dini hari.

Sebelas tersangka itu adalah A alias Andri Bibir, Mulyadi, Arya, Asep, Marzuki, Radiansyah, Yusuf, Julianto, Andi, Saifudin, dan Markus. Mereka akan dijerat Pasal 170 dan Pasal 214 KUHP. "Ancaman penjara di atas lima tahun," kata Dedi.

Dedi memaparkan, provokasi sudah dirancang sedemikian rupa oleh para perusuh. Benda keras seperti batu, paving block, petasan, bambu, botol kaca, hingga bom molotov sudah dipersiapkan.

Tidak semua memiliki peran sama. Dedi menjelaskan, Andi Bibir bertugas menyuplai batu sebagai amunisi melempari aparat.

Batu-batu itu disimpan di dalam sebuah tas ransel. "Batu disuplai kepada teman-temannya ada sekitar 10 orang tapi yang kita hadirkan 3 orang. Suplai habis, kirim lagi, lempar lagi," tutur Dedi

Andi Bibir juga menyediakan air di dalam jeriken. Air itu dipakai untuk membersihkan wajah perusuh yang terkena gas air mata.

Di posisi penyerang aparat paling depan, ada Mulyadi. Arya, Asep, Marzuki, dan Radiansyah punya tugas melempari aparat. Sementara Yusuf, Julianto, Saifudin, dan Markus berperan melempar bambu, botol kaca, juga bom molotov ke arah aparat.

Dari para tersangka, polisi mengamankan sejumlah bukti. Termasuk di dalamnya, bambu, jeriken, celana, botol kaca, batu, dan ponsel.

Hingga kini polisi masih melanjutkan pemeriksaan. Mereka juga terus mendalami motif kesebelas laki-laki tersebut dalam menciptakan kerusuhan.

KPU mengumumkan hasil rekapitulasi Pilpres, Selasa (21/5) dini hari. Kerusuhan kemudian terjadi di sekitar kantor Bawaslu, Tanah Abang, dan Petamburan pada malam hari, dan berlanjut hingga Rabu (22/5) sekitar pukul 22.30 WIB.

Dalam kerusuhan 22 Mei, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menyatakan delapan orang tewas. Dinas Kesehatan DKI yang menyebutkan, empat di antaranya meninggal akibat luka tembak.

Sebelumnya, polisi menyatakan aparat gabungan TNI/Polri yang turun ke lapangan mengamankan aksi ini hanya dibekali tameng, gas air mata, dan water canon. Jadi, jika ada korban tewas karena peluru tajam, Dedi memastikan, peluru itu bukan milik TNI pun Polri.

Untuk mengungkap penyebab jatuhnya korban jiwa dalam kerusuhan 22 Mei, Polri membentuk Tim Pencari Fakta (TPF). Tim ini dipimpin Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri, Komjen Pol Moechgiyarto.

"Senin, (27/5) TPF rapat pertama, menentukan rencana tindak lanjut, dan melakukan investigasi secara komprehensif. Jadi kita menunggu dulu TPF yang sudah dibentuk dan akan segera bekerja dalam rangka investigasi kerusuhan 21-22 Mei," terang Dedi.

Menurut Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) permasalahan ini sebaiknya dilihat dari berbagai perspektif. Menanggapi tudingan kekerasan oleh aparat, Kompolnas beranggapan polisi sudah bekerja sesuai standard operational procedure (SOP).

"Dalam kejadian tersebut, saya mengakui bahwa penanganan yang dilakukan oleh Polisi sudah cukup baik walaupun masih belum sempurna. Memang sulit di muka bumi ini mencapai kesempurnaan milik Tuhan Yang Maha Esa," ujar anggota Kompolnas Andrea H. Poeloengan.

Namun, Andrea menilai izin aparat untuk pendemo melanjutkan aksi di luar batas ketentuan pukul 18.00 patut dipertanyakan.

"Saya terus terang hingga sekarang ini masih belum dapat alasan yang logis dan rasional, ketika unjuk rasa yang sudah mempunyai bibit tensi yang sangat tinggi, potensi gesekan yang luar biasa, upaya 'penunggangan' pihak ketiga yang katanya sudah terdeteksi Polri sebelumnya, dan dalam masa-masa bulan suci Ramadhan, justru masih diberikan toleransi diizinkan hingga lewat pukul 18.00. Padahal, makin malam, makin gelap, malah makin sulit untuk memantau keadaan lapangan," paparnya.

Andrea mencatat, Polri perlu melakukan evaluasi terbuka terhadap pimpinan operasi saat itu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR