KASUS NOVEL BASWEDAN

111 hari kasus Novel Baswedan tak kunjung terang

Sejumlah pegawai KPK menggelar doa bersama untuk Novel Baswedan di gedung KPK, Jakarta, Kamis (20/7). Doa bersama yang dihadiri pimpinan, mantan pimpinan, dan pegawai KPK serta istri dari Novel Baswedan, Rina Emilda, itu digelar dalam rangka memperingati 100 hari peristiwa penyerangan terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan.
Sejumlah pegawai KPK menggelar doa bersama untuk Novel Baswedan di gedung KPK, Jakarta, Kamis (20/7). Doa bersama yang dihadiri pimpinan, mantan pimpinan, dan pegawai KPK serta istri dari Novel Baswedan, Rina Emilda, itu digelar dalam rangka memperingati 100 hari peristiwa penyerangan terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan. | Reno Esnir /Antara Foto

Kasus penyiraman air keras ke muka penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan tepat memasuki 111 hari pada Senin (31/7/2017) ini. Polisi belum juga menemukan titik terang pelakunya.

Penyelesaian kasus Novel itu menjadi pembahasan ketika Presiden Joko Widodo memanggil Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Polisi Tito Karnavian, Senin (31/7/2017). "Presiden memerintahkan agar menuntaskan sesegera mungkin," kata Tito seusai pertemuan.

Tito pun menunjukkan sketsa terbaru terduga pelaku penyerang Novel. Orang ini berada di dekat masjid 5 menit sebelum kejadian dan gerak-geriknya mencurigakan. Polisi menduga orang itu adalah si pengendara sepeda motor. Ciri-cirinya, tinggi badan 167-170 centimeter, kulit agak hitam, rambut keriting dan cukup ramping.

Tito mengatakan kepolisian tengah bekerja mengusut kasus Novel. "Kalau dianggap kurang kredibel, saya kira tim dari KPK sangat dipercayai publik, dan kredibel. Oleh karena itu lah kita berfikir kenapa tidak digabungkan dengan KPK supaya bersama-sama, sebaiknya kita percayai kedua lembaga ini, baik Polri dan KPK," ujar Tito.

Pengusutan kasus Novel ini mendapat sorotan publik karena polisi dinilai lamban. Publik mendesak dibentuknya tim gabungan pencari fakta independen yang melibatkan unsur sipil untuk mengungkap kasus ini.

Dalam beberapa kesempatan, Novel mengatakan pesimistis kasus ini dapat terungkap. Sebelum pertemuan Presiden dengan Kapolri berlangsung, Novel pun kembali mengungkapkan pengakuannya di Singapura kepada sejumlah media daring.

Kumparan.com, misalnya, menampilkan wawancara ekslusifnya bertajuk Suara Hati Novel Baswedan. Ada pula Detikcom yang menayangkan wawancara dengan Novel dengan judul Blak-blakan Novel Baswedan. Sebelumnya, Novel memberikan pesan yang disampaikan melalui Pemuda Muhammadiyan pada 24 Juli lalu.

Novel saat ini diizinkan rawat jalan di Singapura, namun masih menunggu langkah medis untuk kedua matanya yang disiram air keras. Mantan polisi dengan pangkat terakhir komisaris itu diserang dengan air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April 2017 usai melaksanakan salat Subuh di masjid dekat rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Polisi sudah beberapa kali memeriksa sejumlah orang, namun selalu dilepaskan kembali dengan alasan alibi yang tak sesuai. Terakhir, polisi kembali memeriksa satu orang terduga berinisial AL, berdasarkan sketsa wajah dan keterangan tetangga Novel. Kelanjutan status AL juga masih sumir hingga saat ini.

Ihwal pemanggilan Kapolri ke istana, Novel mengungkapkan kekhawatirannya tentang masukan tidak benar. "Jangan sampai kemudian Pak Kapolri diberi masukan yang palsu atau tidak benar oleh bawahannya dan kemudian melaporkan ke Pak Presiden dan kemudian direspons kepada Pak Presiden dengan cara yang salah tentunya," kata Novel.

Keraguan terhadap kepolisian dalam mengungkap kasus Novel juga diutarakan Koordinator Hukum dan Monitoring Peradilan Indonesia Corruption Watch, Tama Satrya Langkung. Tama pun mengirim surat terbuka untuk Presiden Joko Widodo.

Tama dalam suratnya itu memperingati Presiden bahwa kasus teror semacam ini harus segera dituntaskan, salah satunya dengan pembentukan tim independen. Tama mewanti-wanti agar kasus teror terhadap Novel ini jangan sampai tenggelam begitu saja seiring berjalannya waktu.

Kepada Yth.

Bapak Joko Widodo

Presiden Republik Indonesia

Dengan Hormat,

Perkenalkan, saya adalah Tama Satrya Langkun, Aktivis antikorupsi dan bekerja di Indonesia Corruption Watch (ICW). Semoga Bapak Presiden Joko Widodo dalam keadaan sehat dan dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Esa.

Saya mendengar Bapak Presiden hari ini memanggil Jend. Pol. Tito Karnavian untuk meminta penjelasan tentang perkembangan penyelidikan kasus teror terhadap Novel Baswedan, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sejak Novel disiram air keras oleh orang yang tidak kenal pada 11 April 2017 lalu dan menjalani perawatan medis di Singapura, hingga saat ini pelaku belum juga ditemukan. Teror terhadap Novel diyakini karena berkaitan dengan penanganan kasus korupsi yang ia atau KPK tangani.

Bapak Presiden, teror serupa Novel Baswedan juga pernah saya alami pada tahun 2010 silam. Pada 8 juli 2010 lalu, saya diserang orang tidak dikenal dan berakibat pada 29 jahitan di kepala serta menjalani perawatan selama 5 hari. Teror terhadap saya diduga terkait dengan penelusuran ICW atas dugaan korupsi yang terjadi di negeri ini.

Pasca teror itu terjadi, simpati dan kecaman muncul dari Presiden, Kapolri dan Kapolda Metro Jaya. Presiden saat itu Susilo Bambang Yudhoyono bahkan sempat membesuk saya dirumah sakit. Tapi hingga 7 tahun berlalu, pelaku teror terhadap saya juga belum ditemukan hingga hari ini. Janji penuntasan kasus teror akhirnya hanyalah janji semata. Saya berupaya melupakan hal ini meskipun terasa menyakitkan. Namun demikian hal ini tidak menyurutkan semangat saya untuk berjuang memberantas korupsi.

Belajar dari pengalaman diatas, saya berharap Bapak Presiden Joko Widodo, dapat mengambil langkah tegas dalam mendorong pengungkapan kasus teror terhadap Novel Baswedan. Saya ingin Bapak Joko Widodo membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menuntaskan kasus teror terhadap Novel Baswedan dan juga KPK. Saran pembentukan TGPF ini didasarkan dua alasan. Pertama, diyakini bahwa aktor utamanya sementara ini punya posisi yang kuat bahkan tidak tersentuh. Sehingga perlu langkah luar biasa dan pengawasan langsung dari Presiden. Kedua, mengingatkan kembali janji Bapak Presiden Joko Widodo untuk memperkuat KPK.

Demi NKRI dan Indonesia Bersih dari korupsi, biarlah kasus teror terhadap saya tidak terungkap, namun saya punya keinginan kuat agar pelaku teror terhadap Novel Baswedan bisa ditemukan dan selanjutnya diproses secara hukum. Penuntasan kasus teror ini sekaligus menjadi bentuk komitmen Pemerintahan Bapak Joko Widodo dalam mendukung upaya penegakan hukum dan pemberantasan korupsi.

Demikian yang bisa saya sampaikan atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

Salam Antikorupsi

Jakarta, 31 Juli 2017

Tama Satrya Langkun

Aktivis Antikorupsi

Koordinator Hukum dan Monitoring Peradilan Indonesia Corruption Watch

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR