UJIAN NASIONAL

1,2 Juta calon mahasiswa mulai disaring masuk kampus negeri

Foto ilustrasi. Seorang siswa tengah menunggu sistem jaringan membaik saat mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tahun 2019 di SMA Oikumene Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (4/4/2019).
Foto ilustrasi. Seorang siswa tengah menunggu sistem jaringan membaik saat mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tahun 2019 di SMA Oikumene Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (4/4/2019). | Jojon /Antara Foto

Tepat pukul 07.30 waktu setempat, Sabtu (13/4/2019), Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2019 dimulai serentak secara nasional, Sabtu (13/4/19). Ujian perdana ini adalah saringan bagi 1,2 juta calon mahasiswa kampus negeri.

Sesinya dibagi dua, pagi dan siang. "Pesertanya 68.586 sesi I pagi dan 67.916 orang sesi II siang," kata Ketua Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) Ravik Karsidi yang dihubungi Beritagar.id, Kamis (11/4).

LTMPT menyatakan semua pusat UTBK sudah siap melaksanakan ujian. Adapun total jumlah pendaftar UTBK jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) ini sebanyak 1.295.620 orang.

Dibandingkan dengan jumlah peserta SBMPTN tahun lalu, angkanya melonjak dari 860.001 pendaftar. "Itu karena sekarang tiap peserta boleh ikut dua kali tes di gelombang pertama dan kedua," kata Sekretaris Pusat UTBK Institut Teknologi Bandung Asep Gana saat ditemui di Bandung, Rabu (10/4).

Beberapa kebaruan muncul dalam proses saringan mahasiswa baru di kampus negeri tahun ini. Utamanya pada SBMPTN.

Panitia seleksi yang kini bernama LTMPT itu membuka tiga jalur penerimaan mahasiswa baru. Kanal pertama via Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) yang berdasarkan prestasi akademik dari nilai rapor selama belajar di Sekolah Menengah Atas dan sederajat. Lewat pengumuman Jumat (22/3), ada 92.331 orang yang lolos dari total 478.608 pendaftar.

Saluran kedua lewat SBMPTN. Bila tahun lalu dan sebelumnya, waktu ujiannya digelar serempak secara nasional dalam waktu dua sampai tiga hari, kali ini tesnya bergelombang hingga total sebanyak 24 kali.

Periodenya terbagi dua. Tes gelombang pertama pada kurun 13 April hingga 4 Mei 2019 dengan 698.505 orang peserta. Tes gelombang kedua berlangsung pada 11-26 Mei 2019 dengan jumlah peserta 597.115 orang.

Mulai tahun ini pula kelompok ujian campuran (IPC) ditiadakan. Jadi peserta hanya dikelompokkan menjadi kelompok ujian Sosial dan Humaniora (Soshum) serta Sains dan Teknologi (Saintek).

Jumlah pesertanya pada tes gelombang perdana adalah 374.641 Saintek, dan 323.864 Soshum. "Jumlah ruang ujian gelombang pertama sebanyak 29.297 ruangan di 73 perguruan tinggi negeri pusat UTBK," kata Ravik.

Semua peserta SBMPTN harus bersaing lewat ujian tertulis. Panitia menetapkan cara tesnya tidak lagi memakai kertas soal dan jawabannya ditulis tangan, tapi semua peserta memakai komputer. Namun karena mustahil menyediakan komputer untuk masing-masing 1,2 jutaan pendaftar, panitia membagi waktu tes menjadi 24 sesi dengan hari ujian Sabtu dan Minggu.

Setiap hari bisa ada satu atau dua sesi dengan rombongan peserta dan soal yang berbeda. Sesi pagi dimulai 07.30, yang siang dari pukul 12.30.

"Selama tiga jam di ruang ujian, peserta dilarang keluar," kata Koordinator Bidang Implementasi di Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi ( LTMPT) Arry Bainus di Bandung, Rabu (10/4).

Urusan ke toilet hanya bisa dilakukan sebelum dan sesudah tes berakhir. Panitia LTMPT menyatakan hasil UTBK akan diumumkan sepuluh hari setelah ujian.

Hasil seleksi UTBK SBMPTN ini tidak menjadi acuan untuk jalur ketiga penerimaan mahasiswa baru lewat Seleksi Mandiri. Setidaknya bagi empat perguruan tinggi negeri di Bandung seperti Institut Teknologi Bandung, Institut Seni dan Budaya Indonesia, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Pendidikan Indonesia.

Mekanisme penyaringan jalur ketiga itu akan memakai sistem tes sendiri oleh masing-masing perguruan tinggi negeri.

Jumlah komputer terbatas

UTBK SBMPTN 2019 melibatkan 73 perguruan tinggi negeri se-Indonesia. Karena jumlah komputernya juga terbatas, mereka menggaet mitra dengan universitas atau sekolah menengah atas serta kejuruan sebagai tempat ujian.

Setiap peserta akan mengerjakan soal ujian lewat komputer pribadi (personal computer) di ruangan. "Data diri peserta akan tampil di komputer sesuai nomor ujian," kata Arry Bainus. Peserta berganti pada sesi berikutnya, data diri di komputer otomatis berubah.

Untuk pelaksanaan UTBK SBMPTN ini, panitia menyiapkan 762 unit peladen (server). Jumlah komputer yang dipakai se-Indonesia jumlahnya bervariasi antara 25-400 unit per ruangan.

Total tempat ujian memakai 2.758 ruangan. Panitia pada 9 Maret lalu telah melakukan ujicoba sistem UTBK secara nasional.

Arry mengklaim hasil UTBK sebelumnya berlangsung sukses, aman, dan lancar. Panitia pusat telah berkoordinasi dan mengikat nota kesepahaman dengan PT Telkom, Telkomsel, dan PLN untuk kelancaran selama ujian berlangsung.

Khusus bagi disabilitas netra, panitia pun menerapkan cara ujian baru. Total pendaftarnya 74 orang se-Indonesia.

Di Bandung, misalnya, lokasi peserta disabilitas netra dipusatkan di kampus utama Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Jumlah pendaftar sebanyak 12 orang. Kini mereka tidak perlu lagi ditemani pendamping untuk membacakan soal dan mengisi jawaban.

Panitia, menurut Arry, menyiapkan aplikasi khusus screen reader lengkap dengan headset. "Setelah aplikasinya dipasang, pesertanya ditinggal ujian sendiri," ujarnya.

Metode baru ujian bagi kalangan disabilitas netra itu menurutnya sudah pernah diujicoba. Arry mengklaim peserta disabilitas netra bisa mengikuti ujian seperti itu. "Sudah try out, bisa yang tuna netra itu. Kalau difabel lain tidak ada pengecualian," ujarnya.

Ruangan ujian peserta disabilitas netra pun disiapkan khusus terpisah dengan peserta umum. Waktu ujiannya ketika mendaftar bisa yang sesi pagi atau siang.

Namun sesi ujiannya dialokasikan khusus pada dua waktu yaitu pada sesi ujian ke- 9 dan ke-17 dengan durasi yang sama. Adapun dari jenis soal, panitia merancangnya dengan spesial pula. Nantinya tidak akan ada soal dengan materi gambar atau grafis yang selama ini sangat sulit bagi disabilitas netra

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR