KESEHATAN ANAK

12 Persen anak belum dapat imunisasi dasar lengkap

Petugas Puskesmas (kiri) saat meneteskan vaksin Polio kepada anak di Posyandu Tut Wuri Kota Sorong, Papua Barat, Selasa (2/4/2019).
Petugas Puskesmas (kiri) saat meneteskan vaksin Polio kepada anak di Posyandu Tut Wuri Kota Sorong, Papua Barat, Selasa (2/4/2019). | Olha Mulalinda /ANTARA FOTO

Pada 2018, Kementerian Kesehatan mencatat, baru 87,8 persen anak yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap (IDL). Artinya ada 12 persen anak Indonesia yang belum mendapat IDL, bahkan sekitar satu persen belum mendapatkan imunisasi sama sekali.

"Nah karena imunisasi dasar lengkap itu dasarnya hingga anak usia 11 atau 12 bulan. Jadi masih ada sekitar 400 ribu yg belum diimunisasi pada tahun 2018," ujar Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kesehatan RI, dr. Anung Sugihantono, M.Kes.

Imunisasi dasar lengkap untuk anak-anak menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 12 Tahun 2017 tentang penyelenggaraan imunisasi terdiri dari satu kali imunisasi Hepatitis B (HB), satu kali imunisasi tuberkulosis (BCG), tiga kali imunisasi Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, serta Pneumonia (DPT-HB-Hib), empat kali imunisasi Polio, dan satu kali imunisasi Campak (MR).

Menurut data Riset Kesehatan Dasar 2018 masih ada masalah disparitas atau gap di antara kabupaten atau desa.

Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kemenkes RI dr. H.M. Subuh MPPM mengatakan, cakupan Universal Child Immunization (UCI) di Indonesia tahun 2002-2014 rata-rata masih kurang dari 80 persen.

Idealnya angka UCI 100 persen, tetapi jika di lapangan sudah mencapai 90 persen, perlindungan kesehatan melalui imunisasi sudah bisa dikatakan universal.

"Target Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) 93 persen sampai 2019. Sementara UCI desa 92 persen. Artinya tidak boleh satu pun desa di suatu kabupaten cakupan imunisasinya kurang dari 90 persen. Misalnya mencapai angka 92 persen di satu kabupaten tetapi ada satu desa yang cakupannya hanya 85 persen, tidak dianggap UCI.

Cakupan yang kurang menyeluruh ini kemudian berdampak pada munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti difteri, campak, dan polio.

''Seluruh masyarakat kembali diingatkan untuk melengkapi imunisasi rutin lengkap pada anak supaya tidak ada satu pun anak Indonesia yang tidak mendapatkan haknya untuk hidup sehat dan bebas dari penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi,'' ujar Menkes Nila Moeloek.

Memanfaatkan momen Pekan Imunisasi Dunia (PID) 2019 yang jatuh setiap minggu ke-4 bulan April, Kementerian Kesehatan menggelar Gerakan Akselerasi Imunisasi Nasional.

"Pekan Imunisasi Dunia 2015 tanggal 24-30 April akan dilakukan intensifikasi layanan imunisasi di setiap daerah selama tujuh hari, hari libur tetap buka. Dilakukan juga sweeping imunisasi, pelatihan manajemen imunisasi, dan mengingatkan pada masyarakat pentingnya imunisasi untuk mencegah penyakit karena imunisasi adalah cara yg efisien dan efektif untuk menanggulangi penyakit," terang Subuh.

Selain mengejar cakupan IDL, untuk mempersiapkan anak bertahan menghadapi paparan penyakit yang kini semakin beragam, pada 2019 Kemenkes akan menambah jenis vaksin.

"Sudah saatnya Indonesia melakukan itu. Ditambah lagi banyak penyakit yang secara potensial memengaruhi tumbuh kembang anak. Saat ini sedang dalam masa persiapan akan masuk di kita vaksin rubella, pneumococcus, injectable polio vaccine, rotavirus, dan japanese encephalitis. Penyakit itu masih mengancam di Indonesia," papar Subuh.

UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan UU Perlindungan Anak No. 35 Tahun 2014 menyatakan imunisasi adalah hak anak. Orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah wajib memelihara kesehatan anak termasuk dengan memvaksin mereka.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR