KESEHATAN

15 Menit yang krusial bagi penderita strok

Ilustrasi pasien strok.
Ilustrasi pasien strok. | Creativa Images /Shutterstock

Dengan waktu luang 15 menit, mungkin tak banyak yang bisa kita lakukan. Namun, bagi penderita strok 15 menit sungguh berarti. Bahkan menentukan hidup dan mati.

Perawatan terhadap pasien serangan otak yang dimulai 15 menit lebih cepat bisa mencegah kelumpuhan dan menyelamatkan nyawa. Fakta ini merupakan kesimpulan penelitian baru yang dipimpin periset UCLA, Amerika Serikat.

Kecepatan penanganan pasien strok juga berdampak lebih baik bagi pasien rumah sakit yang begitu sibuk, menangani lebih dari 450 kasus strok dalam setahun.

Temuan baru ini bisa bermanfaat. Di Indonesia, jumlah kematian karena strok sempat punya kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun.

Para peneliti di David Geffen School of Medicine, UCLA dan lima insitusi di AS dan Kanada mencapai kesimpulan ini setelah menelaah data pasien. Tepatnya 6.756 pasien yang mengalami strok iskemik.

Strok iskemik adalah jenis strok yang paling umum. Ini terjadi manakala pembuluh darah yang menyuplai darah ke area otak terhalang oleh bekuan darah.

Data yang dianalisis adalah milik pasien dengan rata-rata usia 71 tahun. Sebanyak 51,2 persen dari mereka berjenis kelamin perempuan.

Para peneliti mengamati hasil perawatan pasien strok berdasarkan interval kedatangan ke rumah sakit sampai mereka mendapatkan perawatan.

Terungkap bahwa setiap 1.000 pasien yang waktu penanganannya 15 menit lebih cepat, kurang dari 15 pasien meninggal atau dirawat inap, lebih dari 17 pasien bisa berjalan keluar rumah sakit tanpa bantuan, dan 22 lainnya bisa merawat diri setelah diperbolehkan pulang.

Waktu rata-rata pasien sejak tiba di rumah sakit hingga awal pengobatan adalah hampir satu setengah jam. Sementara waktu rata-rata sejak timbulnya gejala hingga pengobatan adalah tiga jam 50 menit.

Semua pasien dalam penelitian ini menjalani perawatan terapi reperfusi endovaskuler. Terapi ini umum digunakan untuk mengobati strok yang disebabkan oleh penyumbatan di salah satu arteri utama otak.

Menurut Dr. Reza Jahan, penulis penelitian dan profesor di Geffen School of Medicine, mempercepat waktu perawatan 15 menit saja berpotensi memperbaiki hasil bagi ribuan pasien strok setiap tahun.

Para peneliti menemukan rumah sakit yang melakukan terapi ini pada lebih dari 50 pasien per tahun umumnya memulai perawatan pasien lebih cepat daripada rumah sakit yang mempraktikkan terapi ini terhadap kurang dari 30 pasien.

Dr. Jahan juga menemukan, perawatan awal cenderung lambat di rumah sakit yang tidak disertifikasi sebagai pusat strok komprehensif. Juga bagi pasien yang mengalami strok pada "jam libur" rumah sakit. Seperti akhir pekan, musim liburan, dan sebelum pukul 07.00 dan setelah pukul 18.00 pada hari kerja.

"Kami berusaha meningkatkan perawatan dengan staf yang lebih baik di luar jam kerja dan lebih cepat menghadirkan dokter di rumah sakit," kata Jahan. Imbuhnya, "Pasien yang tiba di rumah sakit jam 02.00 harus diperlakukan sama dengan pasien yang tiba jam 14.00."

Sebelum mendapat perawatan dokter di rumah sakit, mengenali tanda-tanda strok adalah hal krusial. Menukil Healthline, gejala strok kerap kali tidak menyakitkan, berbeda dengan serangan jantung.

Kendala fisik dan kognitif bisa mempersulit seseorang membantu diri sendiri. Dalam kasus ini, orang lain bisa jadi penyelamat.

"Strok bisa mengakibatkan masalah neurologis yang sangat parah seperti kelumpuhan, tetapi karena ini memengaruhi otak pada saat yang sama, maka bisa mengganggu kemampuan seseorang untuk mengenali adanya masalah," kata Dr. Richard Libman, wakil ketua neurologi di Long Island Jewish Medical Center di New Hyde Park, New York.

Dr. Libman mengakui, mengedukasi masyarakat untuk bisa mengenali gejala strok adalah pekerjaan rumah yang belum selesai.

Sementara Dr. Jahan mengingatkan, seberapapun peningkatan pelayanan rumah sakit terhadap pasien strok, mereka baru bisa memberikannya saat pasien sudah ada di rumah sakit.

Jadi, belajar mengenali gejala strok, dan langsung berangkat ke rumah sakit saat mengalaminya adalah hal krusial bagi semua orang. Kementerian Kesehatan mempermudah ini dengan akronim SEGERA KE RS.

Senyum tidak simetris, gerakan tangan dan kaki menjadi lemah, dan bicara menjadi pelo/sulit bicara/bicara tidak nyambung/ tidak mengerti kata-kata.

Gejala lainnya yaitu kebas/baal-baal satu sisi tubuh, rabun/gangguan penglihatan, sempoyongan/vertigo/pusing berputar/gerakan sulit dikoordinasi, gangguan menelan, gangguan daya ingat.

Strok bisa menyerang siapa saja. Namun, penderita jantung, diabetes, dan hipertensi punya risiko lebih tinggi. Penting untuk dipahami, penyakit tidak menular tapi mematikan ini bisa dicegah.

Walaupun prevalensi penyakit strok tampak meningkat pada 2013 dan mengalami penurunan pada 2018, penyakit ini sebaiknya tidak dianggap enteng.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR