BUDAYA KEKERASAN

2 Faktor penyebab kekerasan di sekolah menurut KPAI

Ilustrasi kekerasan di sekolah
Ilustrasi kekerasan di sekolah | LightField Studios /Shutterstock

Menyoroti kasus kekerasan yang terjadi di ranah pendidikan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melalui Komisioner Bidang Pendidikan Retno Listyarti menjelaskan, ada dua faktor yang menyebabkan murid melakukan kekerasan terhadap guru.

Pertama, disebabkan karakter siswa yang kurang terbina dengan baik di rumah maupun sekolah. Hal ini menyebabkan banyaknya masukan konten kekerasan pada usia dini yang juga berpengaruh besar terhadap perkembangan anak. Anak cenderung tumbuh menjadi anak yang kasar dan temperamental.

Hal serupa juga sempat disampaikan oleh Wakil Ketua KPAI Rita Pranawati. Menurutnya, kekerasan yang didapat sang anak di lingkungan keluarga bisa banyak berpengaruh.

"Ada banyak faktor, jadi tidak tiba-tiba kemudian dia menjadi seperti itu, misalnya anak ini saat tumbuh kembangnya banyak melihat kekerasan atau main game kekerasan yang itu menjadi sebuah culture di dalam dirinya. Bisa jadi dia juga mendapatkan kekerasan ketika di rumah," kata Wakil Ketua KPAI Rita Pranawati kepada detikcom (11/2/2019).

Kedua, bisa jadi ada faktor rendahnya kompetensi pedagogi yang dimiliki guru, terutama dalam penguasaan di kelas serta dalam menciptakan suasana belajar yang kreatif dan menyenangkan.

“Tetapi tentu saja dibutuhkan assessment psikologis terhadap ananda untuk mencari faktor penyebab yang bersangkutan berperilaku agresif seperti dalam video tersebut,” ungkap Retno, dikutip Suara.com, Minggu (10/2).

Komentar KPAI tersebut terkait dengan dua video viral yang mempertontonkan kekerasan yang dilakukan oleh anak.

Video pertama adalah rekaman soal pengeroyokan petugas kebersihan bernama Faisal Daeng Pole (38) di SMP Negeri 2 Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Pengeroyokan dialami Faisal di lingkungan sekolah pada 9 Januari 2019. Peristiwa itu berawal saat Faisal sedang membersihkan sampah. Tiba-tiba datang beberapa siswa dan mengejeknya dengan kata-kata "anjing" dan "najis".

Faisal, yang tidak terima diejek seperti itu, lalu melayangkan tamparan ke salah satu siswa tersebut yang berinisial MI (12).

MI yang tidak terima atas perlakuan Faisal pun melapor ke orang tuanya. Orang tuanya kemudian menyambangi Faisal ke sekolah dan membalasnya dengan pukulan serta memerintahkan MI dan teman-temannya NRD (12), MRA (12), dan MAK (12) untuk melakukan pengeroyokan.

Setelah itu, dalam kondisi babak belur Faisal segera melaporkan tindakan tersebut ke Polsek Galesong Selatan. Sebaliknya, orang tua MI pun melaporkan bahwa Faisal melakukan penganiayaan terhadap sang anak.

Namun, hingga saat ini menurut Kasat Reskrim Polres Takalar, AKP Muhammad Warpa mengatakan, belum ada pelaku yang ditahan. Pihaknya baru melakukan olah TKP dan memeriksa saksi serta mengumpulkan bukti-bukti.

Belakangan diketahui bahwa I dan anak-anak yang terlibat itu terkenal sebagai siswa berperangai buruk di sekolah.

Sementara itu, Kepala SMPN 2 Galesong Selatan, Hamzah berencana mengambil tindakan tegas dengan mengembalikan anak anak yang terlibat ke orang tua mereka.

Video kedua terkait pencekikan yang dilakukan seorang siswa SMP PGRI Wringinanom, Gresik, Jawa Timur, terhadap guru yang bernama Nur Khalim.

Hal itu terjadi setelah Nur Khalim menegur AA karena merokok di kelas. Kejadian itu disaksikan oleh siswa lainnya. Si siswa lalu menantang sang guru untuk duel di hadapan teman-temannya.

Meski berakhir damai dengan siswa meminta maaf kepada guru, tapi kasus ini terlanjur menambah panjang daftar tindak kekerasan oleh anak di institusi pendidikan.

Menurut data KPAI, dalam delapan tahun terakhir tren kasus seperti ini cenderung meningkat meski sempat turun pada 2017 (116 kasus). Namun kembali meningkat menjadi 127 kasus pada 2018.

KPAI, dalam salah satu dari 5 rekomendasi untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di Gresik (h/t Tribunnews.com), menyatakan bahwa kasus-kasus kekerasan yang dilakukan siswa, baik terhadap sesama siswa maupun orang dewasa lainnya, biasanya sangat dipengaruhi oleh pola asuh di lingkungan keluarga.

Anak-anak menjadikan orang tua mereka sebagai model utama untuk ditiru. bagi anak-anak untuk meniru. Oleh karena itu kehangatan keluarga akan berpengaruh terhadap tingkah mereka di dunia luar.

Kelas parenting (pengasuhan anak), saran KPAI, perlu diikuti para orang tua untuk mendapatkan pengetahuan bagaimana mendidik dan menerapkan pola asuh positif dalam keluarga.

Selain itu, pemerintah pusat dan daerah perlu menyelenggarakan pelatihan manajemen pengelolaan kelas yang baik bagi para guru. Mereka harus dibekali cara untuk menghadapi siswa yang cenderung agresif.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR