HARI CINTA PUSPA & SATWA

21 Burung endemis Indonesia dalam ancaman kepunahan

Salah satu dari empat ekor burung rangkong (Bucerotidae) dikandangkan di kantor Balai Konervasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulteng, di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (16/10/2017).
Salah satu dari empat ekor burung rangkong (Bucerotidae) dikandangkan di kantor Balai Konervasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulteng, di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (16/10/2017). | Basri Marzuki /ANTARAFOTO

Pertengahan Juli 2006, Yoan Dinata bersama tim ilmuwan Indonesia dan Inggris melakukan eksperimen untuk mendokumentasikan harimau liar dengan memasang sejumlah kamera di hutan Taman Nasional Kerinci Seblat, Sumatra.

Di luar dugaan, kamera itu justru menangkap spesies kecil nan cantik, seekor burung langka yang dikenal dengan nama tokhtor Sumatra (Carpococcyx Viridis).

"Kami sudah pernah memotret burung rangkong badak dan ayam hutan besar. Tetapi, apa yang kami temukan ini, sungguh menakjubkan," sebut konservasionis yang kini bergabung dengan Zoological Society of London (ZSL) kepada Beritagar.id, Sabtu (4/11/2017) malam.

Penemuan Yoan memang bukan yang pertama kalinya. Burung endemis Sumatra yang tidak pernah dijumpai lagi sejak 1916 ini, pernah ditemukan dengan cara yang sama pada November 1997 oleh Andjar Rafiastanto, konservasionis lain dari ZSL.

Untuk ketiga kalinya, dan lagi dengan cara yang sama, burung ini kembali terekam oleh peneliti di Balai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG), Mandailing Natal, Sumatra Utara, akhir September 2017.

Penemuan burung tokhtor Sumatra menjadi ramai. Sebab, oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List, burung berwarna coklat dengan tubuh pendek, paruh kecoklatan, serta garis hitam-hijau pada bulu-bulunya itu masuk dalam kategori spesies yang memiliki risiko kepunahan sangat tinggi atau critically endangered.

Populasi tokhtor Sumatra saat ini diperkirakan hanya 50-249 ekor individu dewasa. Tapi, tokhtor bukan burung endemis satu-satunya yang berada di ambang kepunahan.

Burung trulek Jawa (Javan Lapwing) juga senasib sama dengan tokhtor Sumatra. Burung ini juga pernah dinyatakan punah (extinct) pada tahun 1994-1996. Namun, pada tahun 2000, kategorinya kemudian diturunkan menjadi kritis.

Data yang diolah Lokadata Beritagar.id memperinci, jika diukur dari kategori habitatnya, ada 21 burung endemis di Indonesia yang masuk dalam kategori kritis (termasuk tokhtor Sumatra dan trulek Jawa).

Dari total burung endemis yang kritis, mereka kemudian dikelompokkan lagi menjadi tiga kategori ada (extant), kemungkinan masih ada (possibly extant), dan kemungkinan punah (possibly extinct).

Karena menyasar lokasi habitat, maka satu spesies yang tingkat kepunahannya kritis, bisa masuk dalam dua kategori sekaligus.

Misalnya jalak putih untuk jenis Acridotheres Tricolor, yang menjadi endemis Jawa Timur (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Taman Nasional Alas Purwo, Taman Nasional Baluran, dan Taman Nasional Meru Betiri), masuk dalam dua kategori; kemungkinan punah dan kemungkinan masih ada.

Atas dasar tersebut, maka dari 21 spesies sebanyak 20 di antaranya masih ada (70,97 persen), empat di antaranya kemungkinan punah (12,90 persen), dan lima di antaranya kemungkinan masih ada (16,13 persen).

Burung endemis merupakan spesies asli (native) yang hanya ditemukan pada daerah dengan geografis tertentu, seperti benua atau hanya di daerah yang relatif lebih kecil (pegunungan dengan zona ketinggian tertentu atau pulau kecil).

Spesies apapun yang masuk kategori ini, menghadapi risiko kepunahan yang sangat tinggi di alam liar, atau hanya satu tingkat sebelum benar-benar punah.

Program rehabilitasi belum maksimal

Periode waktu penemuan burung tokhtor Sumatra dengan kategori kepunahannya bisa menyimpulkan satu hal; program rehabilitasi atas spesies langka itu tidak berjalan optimal sejak pertama kali burung itu dilaporkan ditemukan.

Yoan Dinata mengatakan, program rehabilitasi untuk spesies-spesies yang terancam kepunahan ini tidak bisa berjalan sendiri. Sebab, diakui Yoan, pemerintah memiliki keterbatasan untuk bisa melakukan semuanya, terutama kegiatan yang terkait dengan penelitian populasi di lapangan

Sehingga, harus ada sinergi antara pemerintah, lembaga penelitian, organisasi-organisasi lingkungan hidup, perusahaan perkebunan atau pemegang konsesi lahan, dan juga masyarakat sekitar taman nasional.

"Kurang optimal, terutama di tingkat lapangan. Masyarakat juga perlu dilibatkan untuk melakukan pengawasan dan pemantauan, khususnya untuk tindak kejahatan perburuan," sebut Yoan.

Apalagi, informasi tentang spesies-spesies yang memiliki risiko kepunahan sangat tinggi ini minim, mengingat populasinya yang memang cenderung sangat sedikit.

IUCN mencatat lima kriteria yang dapat mengategorikan organisme (baik flora maupun fauna) nyaris punah. Pertama, adanya penurunan jumlah populasi hingga 90 persen dalam jangka waktu 10 tahun atau tiga generasi. Kedua, luasan keberadaannya kurang dari 100 kilometer persegi dan area okupansinya kurang dari 10 kilometer persegi.

Ketiga, ukuran populasinya turun 25 persen dalam tiga tahun atau satu generasi dari maksimum 100 tahun ke depan. Keempat, jumlah populasinya kurang dari 50 individu dewasa (mature). Dan terakhir, adanya analisis kuantitatif yang menunjukkan kemungkinan kepunahan di alam liar sebesar 50 persen dalam 10 tahun atau tiga generasi.

Flora dan fauna endemik Indonesia yang terancam punah
Flora dan fauna endemik Indonesia yang terancam punah | Lokadata /Beritagar.id

Darurat penegakan hukum

Bukan hanya burung yang termasuk dalam spesies langka dan terancam punah. Beberapa organisme fauna dan flora di Indonesia masuk dalam kategori ini. Menyambut Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) yang diperingati setiap 5 November, Lokadata Beritagar.id juga mengolah data IUCN Red List untuk melihat daftarnya.

Menurut data per November 2017, jumlah fauna dan flora yang masuk dalam kategori kritis di Indonesia sebanyak 210 spesies, terdiri dari 83 spesies fauna dan 127 spesies flora. Keduanya terbagi dalam dua kategori: endemis dan bukan endemis.

Degradasi hutan, perburuan, dan perdagangan (untuk dipelihara) adalah tiga ancaman terbesar keberadaan mereka. Di sisi lain, perlindungan serta pengawasan dalam menghadapi tiga ancaman besar tadi belum maksimal.

Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa yang memuat daftar 294 satwa dan tumbuhan yang dilindungi, 92 di antaranya adalah burung, bahkan tidak memuat 10 burung yang masuk kategori kritis sebagai spesies yang dilindungi.

Untuk diketahui, sepuluh spesies burung tadi adalah anies-bentet Sangihe, brinji-emas utara, celepuk siau, ekek Jawa, gagak banggai, kacamata Sangihe, kehicap boano, perkici buru, sikatan Aceh, dan tokhtor Sumatra.

Celah itu tentu saja menyebabkan penegakan hukum terhadap aksi perburuan (untuk dipelihara) atas spesies-spesies tadi menjadi sangat lemah.

"Dengan meningkatnya hobi masyarakat untuk memelihara burung berkicau, maka tingkat perburuan burung di alam juga melonjak. Begitu sudah dipelihara, mereka tidak terkena sanksi hukum segala macam, karena statusnya tidak dilindungi," Yoan melanjutkan.

Apalagi, luasan lahan basah yang semakin berkurang dan tanah-tanah gambut yang semakin rentan dengan kebakaran, mengubah habitat dan perilaku mencari makan sejumlah fauna.

Burung misalnya, beberapa dari mereka akan mencari makan di daerah peralihan hutan dan perkebunan, tempat banyak tanaman buah berada. Namun, begitu mereka keluar dari area hutan lindung, ancaman perburuan terhadap mereka pun langsung meningkat tinggi.

"Kalau kita bisa mengamankan kawasan hutan lindung dan perbatasannya dengan patroli yang efektif, harusnya hal-hal semacam itu bisa dicegah," kata Yoan.

Selain meningkatkan patroli, Yoan juga menilai pemerintah harus segera merevisi PP Nomor 7 Tahun 1999.

Pihaknya bersama dengan lembaga konservasi lain, LIPI, dan organisasi pemerhati lingkungan sebenarnya telah membuka pembicaraan dengan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kehutanan, beberapa tahun lalu.

"Tapi tidak tahu juga kenapa sampai sekarang revisi itu mandek," tukasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR