PENINDAKAN KORUPSI

3 Koruptor beras Bulog Gorontalo divonis 7,5 dan 4 tahun penjara

Imam Maulana memeluk sang ayah, usai divonis 4 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Gorontalo, Selasa (7/1/2019).
Imam Maulana memeluk sang ayah, usai divonis 4 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Gorontalo, Selasa (7/1/2019). | Franco Dengo /Beritagar.id

Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Gorontalo menjatuhkan vonis kepada tiga terdakwa yang terbukti melakukan korupsi pengadaan beras di Badan Urusan Logistik (Bulog) gudang Marisa, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo.

Berdasarkan audit Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK), kerugian negara akibat korupsi yang mereka lakukan mencapai Rp5,8 miliar.

Fery Key, yang berperan sebagai pemasok beras divonis 7 tahun 6 bulan penjara. Sementara dua orang pegawai Bulog Marisa, yang merupakan satuan tugas (Satgas) pengadaan beras tahun 2016, Risman Mahadjani dan Imam Maulana dijatuhi hukuman masing-masing 4 tahun.

Sidang putusan yang dipimpin Hakim Ketua, Irianto Tiranda itu, berlangsung selama dua hari, Senin (7/1/2019) malam dan dilanjutkan Selasa (8/1) siang.

Saat diwawancarai sejumlah awak media usai persidangan, Jaksa Penuntut Umum, Anton, menyambut baik putusan hakim yang mengabulkan tuntutan kejaksaan, meskipun sedikit lebih ringan dari tuntutan yang diajukan.

"Fery kami tuntut 8 tahun, majelis memutus 7 tahun 6 bulan. Risman dan Imam kami tuntut 6 tahun, yang kemudian oleh hakim diputus masing-masing 4 tahun penjara. Hanya beda sedikit dari tuntutan. Yang terpenting kasus yang telah kami usut selama hampir dua tahun ini telah selesai. Setidaknya sampai putusan hakim hari ini," kata Anton.

Atas vonis yang lebih ringan dari tuntutan tersebut, Anton menyatakan akan melaporkannya lebih dulu kepada pimpinan. Setelah itu baru mereka menentukan langkah apa yang bakal diambil selanjutnya.

Sementara itu, Alamsyah Hanafiah, penasehat hukum terdakwa, menegaskan kecewa dengan putusan hakim. Menurutnya ada banyak hal-hal yang tidak dipertimbangkan majelis hakim, dalam mengambil keputusan.

"Majelis hakim tidak mempertimbangkan keterangan ahli. Kemudian objek dari kasus ini kan beras. Kok malah kuitansi-kuitansi yang dipertimbangkan. Sementara fisik dari berasnya ini tidak. Karena itu, kami tidak menerima hasil persidangan dan akan melakukan banding," ujar pengacara yang didatangkan dari Jakarta ini.

Kasus ini bermula ketika masyarakat di Kabupaten Pohuwato mengeluhkan banyak beras yang beredar di pasar tidak layak konsumsi.

Saat itu, tahun 2016, sejumlah media lokal banyak memberitakan kondisi beras yang disalurkan Bulog buruk dan berbau busuk yang diterima warga. Hal inilah yang memacu berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk mengadukan hal tersebut ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Marisa, Pohuwato, Gorontalo.

Kejaksaan pun mencium adanya penyimpangan dalam proses pengadaan beras yang dilakukan Bulog gudang Marisa saat itu dan mulai mengadakan penyelidikan.

Mulai dari mark up--kejaksaan menemukan tanda bukti pembelian yang tidak sesuai dengan jumlah beras yang dibeli--hingga ke penemuan kuitansi fiktif untuk pembelian beras yang sejatinya tidak pernah dilakukan.

Fery adalah rekanan pemasok beras ke gudang Marisa, sementara Risman dan Imam adalah pengelola pengadaan beras di gudang tersebut.

Pada 16 Juli 2018, Fery Key ditahan setelah pengembangan yang dilakukan oleh pihak Kejari Marisa. Menyusul dua pegawai Bulog, Risman dan Imam, yang resmi ditahan pada tanggal 1 Agustus 2018. Ketiganya diperiksa sebagai tersangka.

Mereka kemudian melalui proses persidangan dan akhirnya dinyatakan bersalah atas tindak kriminal tersebut.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR