TEMUAN ILMIAH

3 Spesies ubur-ubur datangi Ancol, 2 dinyatakan berbahaya

Ubur-ubur Mastigias papua tampak di Raja Ampat, Papua.
Ubur-ubur Mastigias papua tampak di Raja Ampat, Papua. | Ethan Daniels /Shutterstock

Kemunculan 3 spesies ubur-ubur (Medusozoa) di Pantai Lagoon, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara menjadi perbincangan beberapa hari belakangan. Dua spesies di antaranya dinilai berbahaya bagi manusia.

Ubur-ubur yang awalnya ditemukan pada pekan lalu ini kemudian dibawa ke Pusat penelitian oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada Senin (15/10).

Berdasarkan hasil penelitian, ubur-ubur yang terdapat di Ancol ada tiga jenis, dua di antaranya berbahaya bagi manusia.

Pertama, menurut Peneliti Plankton Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Arief Rachman, jenisnya dipastikan adalah Catostylus.

“Jenis ubur-ubur yang blooming di Pantai Ancol ada tiga jenis. Kemarin dapat satu, awalnya kita identitikasi sebagai Rhizostomae, kemudian konfirmasi ahli dari Jepang ternyata Catostylus,” kata Arief, Selasa (16/10/2018).

Catostylus sendiri merupakan genus yang memiliki 12 spesies lain dalam urutannya.

Tak disebutkan termasuk jenis catostylus yang mana kah yang ditemukan di Ancol. Tapi, ubur-ubur yang populer juga dengan nama Blue blubber ini termasuk jenis yang tak berbahaya, bahkan aman untuk dikonsumsi.

Ubur-ubur ini bisa ditemukan di wilayah pesisir Indo-Pasifik dan paling umum ditemukan di sepanjang pantai timur Australia. Pada Februari tahun lalu, di Queensland, Australia juga terdapat ribuan ubur-ubur yang terdampar di Pantai Deception Bay.

Lalu, berikutnya yang juga ada di Ancol merupakan jenis Chrysaora fuscescens atau yang dikenal dengan sebutan Sea Nettle.

Sea Nettle adalah jenis ubur-ubur yang cukup berbahaya. Hewan yang bisa tumbuh hingga diameter 45 centimeter ini memiliki tentakel-tentakel yang bila menyentuh mangsa, akan menempel erat dan melumpuhkannya.

Dari sana, hewan yang biasa hidup perairan pantai Alaska hingga California, Jepang, Kamchatka, Kepulauan Aleutian, dan Laut Bering ini akan memindahkan mangsa ke mulutnya untuk kemudian dicerna.

Sementara itu, jika terkena kulit manusia, kulit akan memerah dan terasa panas seperti terbakar.

Hal yang sama juga berlaku jika Anda menyentuh jenis ubur-ubur ketiga, Mastigias papua. Hewan yang dikenal juga dengan sebutan ubur-ubur berbintik ini memang memiliki permukaan kulit yang cantik, tapi jangan salah, racun pada tentakelnya cukup berbahaya.

Seperti Sea Nettle, Mastigias juga menggunakan racun dari tentakelnya untuk menangkap mangsa. Jika racun ini mengenai manusia, dapat dipastikan korbannya akan mengalami ruam pada kulit yang terasa gatal parah, disertai dengan mual dan muntah.

“Nah dari tiga itu yang perlu diwaspadai yang dua terakhir karena sengatannya menyakitkan dibandingkan yang pertama. Kalau yang dua terakhir kena tangan atau kulit bisa kena iritasi berat dan merah seperti terbakar,” jelas Rachman, seperti dikutip Wartakota, Selasa (16/10).

Menurut Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Utara Rita Nirmala, munculnya ubur-ubur di permukaan air Pantai Ancol saat ini karena kondisi kesuburan air yang menurun.

Contohnya adalah kurangnya tumbuhan-tumbuhan kecil dan hewan yang melayang di air tersebut. Fenomena ini tak akan berlangsung lama, sebab biasanya kondisi air akan pulih dengan sendirinya.

Banyaknya hewan invertebrata ini juga dianggap tidak menakutkan bagi kebanyakan orang. Hal ini terlihat dari jumlah pengunjung yang tidak megalami penurunan secara signifikan.

“Tadi sempat kena ubur-ubur, tetapi cuma gatal bentar doang lalu pas disiram air sudah enggak gatal lagi,” jelas Ade, salah seorang pengunjung, seperti dikutip Kompas.com, Sabtu (13/10).

Petugas penjaga pantai pun kerap mengeruk ubur-ubur yang terlihat di perairan pantai. Mereka mengambilnya dengan ember. Beberapa di antaranya langsung dikubur di kolong pos-pos penjaga pantai.

"Pagi ini saya dapat empat ember. Satu ember itu berapa kilo kalau penuh? Ada 80 kiloan kali ya. Ini daerah sini doang (Pantai Ancol Lagoon 1). Di sana (menunjuk ke arah Pos 2 dan 3) ada lagi tuh," ujar Sugianto, seperti dikutip detikcom, Sabtu (13/10).

Kemunculan ubur-ubur ini, menurut Manager Corporate Communication Taman Impian Jaya Ancol, Rika Lestari, tidak mempengaruhi pelayanan. Saat ini pun pihak Ancol sedang mencoba untuk mengembangkan program pembiakan atau konservasi di SeaWorld, Ancol.

“...kondisinya sekarang sudah aman dan nyaman bagi pengunjung dan tidak mempengaruhi layanan kami. Malahan ubur-ubur ada yang kita ambil sampelnya untuk program breeding atau konservasi,” ujarnya, seperti dilansir Wartakota, Selasa (16/10).

BACA JUGA