PASAR SAHAM

42 Tahun BEI aktif, investor individu tembus 2 juta

Direksi PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (BOLA) yang merupakan perusahaan mengelola klub sepak bola Bali United melakukan pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Senin (17/6/2019).
Direksi PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (BOLA) yang merupakan perusahaan mengelola klub sepak bola Bali United melakukan pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Senin (17/6/2019). | Citro Atmoko /Antara Foto

Pasar modal Indonesia kini telah memasuki tahun ke-42 sejak diaktifkan kembali oleh pemerintah pada 10 Agustus 1977. Sejumlah prestasi dan rekor berhasil ditorehkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), namun pendalaman pasar modal dinilai masih menjadi tantangan tersendiri.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso, mengatakan upaya pendalaman pasar modal menjadi sangat penting baik dari sisi penawaran maupun permintaan karena besarnya tuntutan terhadap pasar modal.

"Kami terus berupaya mendorong pertumbuhan basis investor dalam tiga tahun ke depan. Memasuki tahun ke-42 diaktifkannya kembali pasar modal, para pelaku pasar berharap pasar modal makin berdaya saing dan relevan dengan industri," ujar Wimboh saat pembukaan perdagangan BEI, Jakarta, Senin (12/8).

Pasar modal hadir di Indonesia bahkan sebelum kemerdekaan. Mengutip laman resmi IDX, bursa saham telah dihadirkan oleh Hindia Belanda di Batavia--sekarang Jakarta--sejak 1912 untuk kepentingan Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda (VOC).

Berbagai situasi, termasuk Perang Dunia I dan II, sempat membuat pasar modal tak aktif. Hingga akhirnya betul-betul vakum pada periode 1956-1977.

Presiden Soeharto mengaktifkan kembali pasar modal di Jakarta pada 10 Agustus 1977. Badan Pelaksana Pasar Modal (Bapepam) dibentuk untuk menjalankannya, dengan PT Semen Cibinong sebagai emiten pertama.

Saat ini pasar modal Indonesia mampu tumbuh signifikan dan bersaing secara kompetitif, meskipun tantangan dan dinamika pasar keuangan global kerap mengguncang lantai bursa.

Sampai dengan 9 Agustus 2019 atau selama 42 tahun pasar modal hidup kembali, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah tumbuh mencapai 6.282,132. Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) yang tercatat mencapai Rp9,74 triliun, terus meningkat sejak tahun 1977.

Sepanjang tahun ini sudah ada 32 emiten baru yang melantai di pasar modal. Dengan demikian, total perusahaan yang sahamnya tercatat di BEI sudah mencapai 649 emiten.

Di sisi lain, otoritas pasar modal juga masih terus berupaya menggenjot partisipasi investor individu lewat berbagai terobosan layanan. Peran investor ritel dalam aktivitas pasar modal dinilai masih sangat rendah jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia secara keseluruhan.

Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat mencatat per 9 Agustus 2019, jumlah investor pasar modal mencapai 2.070.394 orang, meningkat 27,8 persen dari posisi Desember 2018 yang sebanyak 1.619.372 orang. Dengan demikian, jumlah investor individu di pasar modal baru 0,78 persen dari total 266 juta penduduk Indonesia.

Jumlah tersebut terdiri dari investor pemegang saham, surat utang, reksa dana, Surat Berharga Negara (SBSN), dan efek lain.

Jumlah total investor tersebut dilihat berdasarkan kepemilikan akun Single Investor Identification (SID). SID adalah identitas tunggal investor yang digunakan untuk melakukan aktivitas di pasar modal Indonesia, mulai dari transaksi hingga penyelesaiannya. Identitas tunggal investor ini diterbitkan oleh KSEI.

Dalam delapan tahun terakhir, tren jumlah investor terus meningkat. Lonjakan pertumbuhan paling tinggi pada 2016 yakni lebih dari dua kali lipat dari 2015, menjadi 894.116 investor. Pertumbuhan itu pula yang membuat OJK optimistis mematok target 5 juta investor dalam lima tahun ke depan.

Direktur KSEI, Alec Syafruddin, mengatakan, pertumbuhan jumlah investor tersebut ditopang oleh pertumbuhan investor reksa dana yang tinggi. Menurut Alec, salah satu faktor reksa dana bisa lebih unggul karena adanya fasilitas oleh fintech dan e-commerce yang mempermudah investor untuk membuka rekening reksa dana melalui fitur mereka.

Kendati begitu, partisipasi investor ritel di Indonesia tergolong paling rendah di antara negara-negara Asia. Apabila diadu dengan negara tetangga, jumlah investor Indonesia kalah dari Malaysia dan Singapura yang tahun lalu masing-masing memiliki 2,49 juta dan 2,5 juta investor.

Guna mendongkrak angka partisipasi tersebut, otoritas bursa sepakat untuk terus meningkatkan edukasi dan literasi masyarakat. Sebagai penyedia infrastruktur, KSEI berencana mengembangkan infrastruktur dengan menerapkan konsep hub untuk informasi dan finansial.

Sementara, strategi yang dilakukan BEI untuk menggalakkan pasar modal adalah bekerja sama dengan self-regulatory organization (SRO) yakni PT Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI) dan KSEI.

Kegiatan edukasi pasar modal kepada para akademisi juga dilakukan melalui Galeri Investasi. Pada tahun ini, BEI berencana menambah 60 galeri baru. Hingga akhir Juli 2018, BEI telah meresmikan Galeri Investasi ke-21, sehingga total Galeri Investasi di Indonesia menjadi 448 galeri.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR