481 pelintasan kereta di Jakarta butuh perhatian

Petugas mengevakuasi Metro Mini yang tertabrak rangkaian KRL di perlintasan Stasiun Angke, Jakarta, Minggu (6/12/2015)
Petugas mengevakuasi Metro Mini yang tertabrak rangkaian KRL di perlintasan Stasiun Angke, Jakarta, Minggu (6/12/2015) | Rivan Awal Lingga /Antara Foto

Bus Metro Mini B 80 rute Jembatan Lima-Kalideres dengan nomor polisi B 7760 FD ditabrak Kereta Rel Listrik (KRL) nomor 1528 rute Jatinegara-Bogor pada Minggu (6/12/2015) pagi di pelintasan Angke, Tambora, Jakarta Barat.

Kecelakaan diduga berawal dari bus yang nekat menerobos palang pintu di pelintasan, saat kereta hanya berjarak 50 meter dari perlintasan. Menurut saksi mata, palang pelintasan Tubagus Angke tidak menutup semua badan jalan, karena palangnya tidak sepenuhnya turun dan menghalangi jalan. Lewat celah itu, sopir bus ke arah Kalideres tersebut nekat menerobos.

Di pelintasan Angke yang terdiri dari dua jalur rel itu, bus Metro Mini sempat melewati jalur rel pertama. Namun saat berada di atas jalur kedua, KRL ke arah Stasiun Angke keburu lewat dan menabrak bagian kanan depan bus. Tak ayal, bus berukuran kecil itu terseret hampir 200 meter hingga peron Stasiun Angke.

Menurut Manager Corporate Comunication PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ), Eva Chairunisa, berdasarkan pemeriksaan sementara pihaknya mengklaim seluruh rambu peringatan, sirine, dan palang pintu pelintasan dalam keadaan baik. Petugas pun sudah menjalankan prosedur.

"Yang pasti, sirine dan palang pintu pelintasan beroperasi normal, jadi besar dugaan kalau kecelakaan karena kelalaian. Tapi kita serahkan penyelidikan kepada pihak Kepolisian," ungkapnya kepada Warta Kota, Minggu (6/12).

Jumlah korban masih bertambah. Hingga artikel ini ditulis, Tempo.co melaporkan sedikitnya 17 orang tewas termasuk supir, dan tujuh lainnya terluka, dari 24 orang yang berada di dalam bus (sebelum ini diberitakan korban tewas 13, lalu 16 orang).

Citra lokasi perlintasan Tubagus Angke yang terekam Google Maps Street View, Juni 2015
Citra lokasi perlintasan Tubagus Angke yang terekam Google Maps Street View, Juni 2015 | Tangkapan layar /Google Maps Street View

Adapun pelintasan Tubagus Angke ini hanyalah salah satu dari 481 "perlintasan sebidang", pelintasan antara jalan raya dan jalur rel kereta api yang ada di DKI Jakarta (per Juni 2014). Di antara 481 pelintasan itu, bahkan masih ada 144 pelintasan tak berpalang pintu, sehingga situasinya lebih berbahaya.

Pemprov DKI Jakarta sudah berencana mengatasi perlintasan sebidang yang rawan kecelakaan dengan membangun jalan di atasnya (flyover), atau di bawahnya (underpass) sejak 2013. Saat tabrakan KRL dan truk pengangkut BBM di perlintasan kereta api Pondok Betung, Pesanggrahan, Bintaro, Jakarta Selatan, 9 Desember 2013, Gubernur DKI Jakarta saat itu, Joko Widodo, menegaskan hal tersebut.

Namun, pihak PT KAI rupanya juga punya rencana membangun elevated loopline (jalur layang melingkar) untuk pelintasan, agar semua jalur kereta api berada di atas tanah. Karenanya, beberapa rencana pembangunan underpass dan flyover dibatalkan. Namun, seperti dilaporkan Tribun News (10/12/2013), Jokowi saat itu menyatakan akan tetap membangun beberapa underpass dan flyover.

Rencana kemudian berlanjut. Desember 2014, dilansir Beritasatu.com, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, telah bertemu Menteri Perhubungan untuk meminta izin pembangunan underpass di perlintasan kereta api. Setelah izin didapat, biaya pembangunannya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBD) DKI Jakarta 2015.

Namun realisasinya harus dilakukan bertahap, dengan memprioritaskan pelintasan paling rawan kecelakaan. Diharapkan pada Januari 2015 prosesnya sudah jalan, kendati anggarannya belum pasti karena saat itu masih dihitung titik mana saja yang tepat untuk dibangun, baik underpass dan flyover.

Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta, Andri Yansyah, kepada Detikcom (6/12/2015), menyatakan pihaknya masih terus berkoordinasi dengan Dinas Bina Marga untuk menghapus tiga lintasan pada 2016. "Yang jelas untuk tahun 2016 ada 3 lokasi, yakni di Jalan Panjang, Bintaro dan Cipinang Lontar," ungkapnya.

Mengenai kecelakaan yang merenggut belasan nyawa ini, Andri menyatakan pihaknya akan mencabut izin trayek bus Metro Mini tersebut. "Seperti pesan Pak Gubernur, izin trayek Metro Mini tersebut akan kita cabut. Kedua, kita akan tingkatkan penertiban, yang tidak layak akan disanksi dan bila tetap membandel akan kita cabut izinnya," ujarnya dilansir Berita Jakarta, Minggu (6/12).

Catatan redaksi: Kata "pelintasan" sebenarnya lebih tepat sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia, meski dalam dokumen peraturan di Indonesia, kata "perlintasan" yang lebih sering digunakan.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR