OTT KPK

5 Orang jadi tersangka korupsi dana hibah Kemenpora-KONI

Tiga penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menunjukkan barang bukti uang saat konferensi pers Operasi Tangkap Tangan pejabat Kementerian Pemuda dan Olahraga dan pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (19/12/2018) malam.
Tiga penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menunjukkan barang bukti uang saat konferensi pers Operasi Tangkap Tangan pejabat Kementerian Pemuda dan Olahraga dan pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (19/12/2018) malam. | Galih Pradipta /Antara Foto

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) tersandung kasus sangkaan korupsi untuk kedua kalinya. Setelah kasus korupsi Andi Malarangeng pada 2012, delapan tahun kemudian giliran tiga pejabat teras ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Mereka terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Jakarta, Selasa (18/12/2018) malam. OTT terjadi di kantor Kemenpora di Senayan, Jakarta.

Dari operasi di Kemenpora, KPK menangkap ET (staf Kemenpora) dan AP (pejabat pembuat komitmen Kemenpora) di ruang kerja masing-masing pada pukul 19.10 WIB. Lima menit kemudian, KPK menyisir ruang kerja lain di Kemenpora dan menangkap tiga orang berbeda.

Dari Kemenpora, para penyidik KPK bergerak ke kawasan Roxy di Jakarta Barat. KPK pun menangkap Sekretaris Jenderal Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), EFH dan supirnya pada 19.40 WIB.

Menjelang tengah malam pukul 23.00 WIB, KPK menahan Bendahara Umum KONI, JEA dan sejumlah pegawai KONI di kediamannya masing-masing. Sedangkan pada Rabu (19/12) pagi, seorang pegawai KONI ditangkap di kantornya. KPK menangkap total 12 orang dari operasi ini.

Bersama penangkapan itu, penyidik KPK berhasil mengamankan barang bukti uang tunai senilai Rp318 juta, buku tabungan dan kartu ATM berisi Rp100 juta, uang tunai dalam bingkisan plastik senilai Rp7 miliar, dan satu mobil Chevrolet Captiva.

Seluruh dana itu adalah bagian dari suap penyaluran dana hibah Kemenpora kepada KONI untuk tahun anggaran 2018. Jadi, para pejabat Kemenpora adalah penerima suap dan pihak seberang dari KONI adalah pemberi suap.

Adapun kartu ATM di atas atas nama JEA. Namun, kartu itu diduga dipegang oleh M -- Deputi IV Kemenpora bidang olahraga prestasi -- yang kini juga turut ditahan KPK.

Selain menerima uang Rp100 juta, M juga disangka mendapat satu mobil Toyota Fortuner dan satu buah ponsel Samsung Galaxy Note 9.

Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang, dalam jumpa pers pada Rabu (19/12), menjelaskan dana hibah ini manipulatif. Maklum, sejak awal KONI dan Kemenpora sudah sepakat menyisihkan Rp3,4 miliar sebagai imbalan (fee) dari total dana hibah Rp17,9 miliar untuk pembinaan atlet.

"Diduga pengajuan dan penyaluran dana hibah sebagai akal-akalan dan tidak didasari kondisi yang sebenarnya," tutur Saut dikutip Kompas.com.

Setelah pemeriksaan selama 24 jam, menurut laporan CNNIndonesia.com, KPK pun menetapkan lima orang menjadi tersangka dan tidak menutup ada kemungkinan tersangka tambahan.

Mereka adalah M, AP, dan ET dari Kemenpora. Dengan menerima suap, mereka disangka melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang revisi UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sedangkan M mendapat sangkaan pelanggaran satu pasal tambahan, Pasal 12 b. M pun terancam hukuman penjara maksimal 20 tahun.

Sedangkan sebagai pemberi suap EFH dan JEA disangka melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang Undang Nomor 20 tahun 2001. Mereka terancam hukuman penjara maksimal lima tahun.

Langsung diberhentikan

Penangkapan M mengejutkan Kemenpora. Sekretaris Kemenpora, Gatot S Dewa Broto, mengatakan M selama ini bekerja dengan baik dan dikenal lurus tanpa ada indikasi menyimpang.

"Di mata saya, beliau sosok yang baik. Tidak pernah punya masalah dalam pekerjaannya atau saat kami kerja sama," ungkap Gatot dalam Tribunnews.com, Rabu (19/12).

Sedangkan Menpora Imam Nahrawi menegaskan bakal kooperatif pada KPK. Ia juga akan terus mengikuti proses hukum yang berjalan.

"Karena kita negara hukum maka kita ikuti proses hukum yang berjalan," ujar Imam dari Solo, Jawa Tengah, Kamis (20/12).

Di sisi lain, M dan dua staf Kemenpora langsung kehilangan jabatan mulai Kamis ini. "...untuk jabatan itu sudah ditunjuk pejabat sementara yang menggantikan," kata Gatot dilansir Kompas.com.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR