KESEHATAN

72 Orang terjangkit Hepatitis A di Depok

Ilustrasi gambar. Pasien penderita Hepatitis A menjalani rawat inap di tempat-tempat tidur darurat (velt bed) di Puskesmas Ngadirojo, Pacitan, Jawa Timur, Kamis (27/6/2019).
Ilustrasi gambar. Pasien penderita Hepatitis A menjalani rawat inap di tempat-tempat tidur darurat (velt bed) di Puskesmas Ngadirojo, Pacitan, Jawa Timur, Kamis (27/6/2019). | Destyan Sujarwoko /Antara Foto

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengatakan pemerintah tengah mengantisipasi penyebaran virus hepatitis A yang merebak di Depok, Jawa Barat. Setidaknya sudah ada 72 orang yang terjangkit virus yang menyerang organ hati pada manusia tersebut.

Terawan mengatakan 72 orang, itu terdiri dari 38 laki-laki dan 34 perempuan. Terawan menyebut sebagian besar penderita berasal dari SMP 20 Depok dan masyarakat yang tinggal di wilayah sekitar.

"Hasil penelusuran yang dilakukan, kasus jumlah penderitanya sebanyak 72 kasus. Sebagian berobat jalan dan istirahat di rumah, tidak masuk sekolah," kata Terawan dikutip dari Antaranews, Kamis (21/11/2019).

Kemenkes dibantu pemerintah daerah akan melakukan tindakan preventif dan promotif kepada lingkungan sekitar sekolah dan Kota Depok. Puskesmas yang ada di daerah itu juga memantau pasien dan mengidentifikasi faktor risiko hingga sumber penularan.

Lembaga kesehatan akan melakukan survei kepada murid, guru dan masyarakat lingkungan sekolah serta keluarga masing-masing untuk mencegah penyebaran hepatitis A.

"Jadi dua hal, satu mencegah penyebaran semakin meluas, kedua kami melakukan tindakan medis untuk penyakitnya," kata Terawan.

Kepala Sekolah SMPN 20 Depok Komar Suparman menjelaskan pada awalnya wabah penyakit Hepatitis A yang menyerang para pelajar dan guru saat itu baru beberapa siswa saja yang terjangkit.

"Mereka mengalami gejala letih, lemah, lesu, dan pusing," kata Komar.

Penyakit yang mengakibatkan penurunan fungsi liver (hati) menular ke pelajar lainnya, bahkan tiga orang guru juga tertular.

Namun hingga pada 19 November 2019, pihaknya belum mengetahui penyebab pasti wabah hepatitis di lingkungan sekolah itu.

Meski virus tersebut sudah menyerang puluhan orang, pemerintah belum menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) atas kasus ini. Pemerintah kini melakukan tindakakan pencegahan penyakit lebih dini agar penyakit tidak menyebar lebih luas.

Pasien penderita Hepatitis A menjalani rawat inap di tempat-tempat tidur darurat (velt bed) di Puskesmas Ngadirojo, Pacitan, Jawa Timur, Kamis (27/6/2019).
Pasien penderita Hepatitis A menjalani rawat inap di tempat-tempat tidur darurat (velt bed) di Puskesmas Ngadirojo, Pacitan, Jawa Timur, Kamis (27/6/2019). | Destyan Sujarwoko /Antara Foto

Hepatitis A adalah penyakit peradangan organ hati yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A. Penyakit ini biasanya menular lewat makanan atau minuman yang terkontaminasi virus hepatitis A dari kotoran (feses) penderita.

Faktor risiko penyakit ini sangat berasosiasi dengan kualitas kebersihan lingkungan yang buruk dan perilaku hidup bersih sehat (PHBS).

Mengutip Hello Sehat, hepatitis A tidak menyebabkan kerusakan liver parah atau berkembang menjadi penyakit kronis dibanding dengan penyakit hepatitis A atau C. Penderita juga dianggap bisa sembuh dalam beberapa minggu tanpa harus mendapat perawatan medis.

Dalam beberapa kasus, infeksi virus ini bisa berlangsung selama berbulan-bulan dan bisa berakibat fatal misalnya meninggal dunia.

Penyakit ini biasanya menular di berbagai negara, terutama negara dengan sanitasi dan sumber air bersih yang buruk. Berdasarkan Riskesdas, prevalensi penderita penyakit hepatitis yang didasarkan diagnosis dokter meningkat sebanyak dua kali lipat ke angka 0,4 persen dalam kurun waktu 5 tahun dari 2013-2018.

KLB hepatitis A sempat melanda wilayah Pacitan, Jawa Timur pada Juni lalu. Dinas Kesehatan Pacitan mencatat 824 orang menderita penyakit ini. Wakil Bupati Pacitan, Yudi Sumbogo saat itu menjelaskan wabah ini salah satunya disebabkan oleh sulitnya akses air bersih.

Hal ini dikonfirmasi Dinas Kesehatan Pacitan. Saat meneliti sampel air di kawasan tersebut, mereka menemukan bakteri e. Coli. Namun, itu bukan satu-satunya penyebab. Masih ada faktor makanan, dan gaya hidup kurang bersih.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR