73 Narapidana kabur dari Rutan Lhoksukon di Aceh

Masyarakat berkumpul di depan Rutan Lhoksukon di Kabupaten Aceh Utara, pascakaburnya puluhan narapidana, Minggu (16/6/2019).
Masyarakat berkumpul di depan Rutan Lhoksukon di Kabupaten Aceh Utara, pascakaburnya puluhan narapidana, Minggu (16/6/2019). | Habil Razali /Beritagar.id

Untuk kedua kali pada Juni ini, rumah tahanan negara (rutan) di Aceh kembali menuai insiden. Minggu (16/6/2019) sekitar pukul 16.00 WIB, 73 narapidana Rutan Lhoksukon di Kabupaten Aceh Utara berhasil kabur setelah membobol pintu utama Rutan.

Dari 73 narapidana yang kabur dari rutan di wilayah Kampung Baru itu, aparat gabungan kepolisian dan TNI berhasil menangkap kembali 25 orang. Sisanya sedang dikejar.

Kepala Rutan Lhoksukon, Yusnal, menuturkan narapidana kabur saat pengambilan makan malam pukul 16.00 WIB. Sejumlah narapidana menerobos pintu utama rutan dengan menggunakan alat seadanya seperti kursi besi.

Sebelas petugas, terdiri 9 sipir dan 2 polisi, tidak mampu berbuat banyak melihat narapidana yang mulai rusuh. Yusnal mengatakan aksi para narapidana didalangi oleh Safrizal, terpidana seumur hidup usai membunuh seorang imum desa (kepala adat) di Kecamatan Sawang, Aceh Utara.

Safrizal yang masih buron mengajak narapidana lain untuk kabur. "Didalangi oleh seorang narapidana karena sudah direncanakan. Pemicunya tidak ada, mereka memang ada niat kabur,” kata Yusnal kepada para jurnalis, Senin (17/6).

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kanwil Kemenkumham) Aceh, Agus Toyib, pun mengatakan hal senada. Alasannya, tidak mungkin narapidana bisa kompak membobol pintu utama rutan secara spontan tanpa permasalahan dengan petugas penjara.

"Itu pasti sudah direncanakan, karena enggak mungkin menggalang massa secara spontan. Bahkan ada di antara mereka membawa alat tajam, itu sudah direncanakan.

"Alat tajam dari buatan sikat gigi yang ujungnya dibikin lancip. Itu kan berbahaya kalau ditusuk bisa tembus," kata Agus kepada Beritagar.id.

Petugas keamanan berhasil menangkap seorang narapidana yang kabur (tengah) dari Rutan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, Senin (17/6/2019).
Petugas keamanan berhasil menangkap seorang narapidana yang kabur (tengah) dari Rutan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, Senin (17/6/2019). | Habil Razali /Beritagar.id

Agus menyebut aksi pembobolan pintu dilakukan sekitar 15 menit usai Yusnal pulang ke rumah. Artinya, sebut dia, narapidana sudah menunggu momen yang tepat untuk kabur.

Rutan Lhoksukon memiliki kapasitas maksimal 70 narapidana, tapi saat ini sudah melebihi kapasitas karena memuat 499 narapidana. Adapun 70 persen narapidana yang mendekam di sana terjerat kasus narkoba.

"Jelas over kapasitas. Di sana hanya 70 orang yang diisi 499 orang. Bayangkan saja untuk 70 orang. Memang di Aceh ini ya begitu (kelebihan kapasitas). Beban kerja petugas di Aceh juga berat, karena dominan narapidana kasus narkoba," ujar Agus.

Ia mengingatkan petugas rutan untuk selalu meningkatkan kewaspadaan, sehingga setiap kegiatan warga binaan bisa terpantau.

Sementara Kepala Kepolisian Resort Aceh Utara, AKBP Ian Rizkian Milyardin, menuturkan aparat gabungan kepolisian, Brimob, dan TNI bergerak cepat mengejar narapidana yang masih kabur. Hingga pukul 04.00 WIB, Senin (17/6), 25 narapidana berhasil dikembalikan ke rutan.

"Sampai pukul 04.00 WIB tadi, ada 25 orang yang telah kita ringkus," kata Ian. Pihak keamanan menggelar razia di jalan dan perkampungan untuk memburu mereka.

Insiden di Lhokuson ini sedikit lebih baik dibanding kejadian di Sigli, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, Rabu (5/6). Rutan Sigli hangus terbakar menyusul kericuhan yang dibuat para narapidana.

Kebakaran menghanguskan bagian depan rutan yang juga kelebihan kapasitas ini, berisi 466 narapidana dari 150 orang yang seharusnya. Dari insiden yang disebabkan oleh penarikan fasilitas dispenser oleh para sipir, 7 narapidana berhasil kabur --bukan 34 orang yang disebutkan pada pemberitaan awal.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR