PEREDARAN NARKOBA

8 Narkoba baru belum diatur Kemenkes

Siswa Kelompok Bermain Dan Taman Kanak-Kanak (KBTK) An Nahl menunjukkan pesan moral untuk menjauhi narkoba dalam rangka Hari Anti Narkoba di Sepanjang, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (23/6/2019).
Siswa Kelompok Bermain Dan Taman Kanak-Kanak (KBTK) An Nahl menunjukkan pesan moral untuk menjauhi narkoba dalam rangka Hari Anti Narkoba di Sepanjang, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (23/6/2019). | Umarul Faruq /ANTARA FOTO

Saat ini, ada 803 narkoba jenis baru. Di Indonesia, 74 di antaranya telah ditemukan beredar. Namun, Badan Narkotika Nasional (BNN) menemui kesulitan dalam penindakan lantaran terganjal aturan.

"Berdasarkan data dari United Nation Office on Drugs and Crime (UNODC) tahun 2018, pada 2009-2017 telah terdeteksi 803 NPS (New Psychoactive Substances) beredar di dunia yang dilaporkan oleh 111 negara. Sedangkan 74 jenis NPS di antaranya beredar di Indonesia," papar Kepala BNN, Komjen Pol Heru Winarko. Hal ini disampaikannya usai peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) di Jakarta Selatan, Rabu (26/6).

Masalahnya, belum seluruh jenis narkoba tercantum dalam aturan penyalahgunaan obat-obatan. "Dari ke-74 NPS tersebut, yang telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No 20 tahun 2018 tanggal 3 Juli 2018 sebanyak 66 jenis dan yang belum diatur dalam peraturan menteri kesehatan sebanyak 8 jenis," Heru menerangkan dalam kesempatan lain.

Perwira tinggi Polri ini enggan mengungkap jenis narkoba yang dimaksud. Heru khawatir, informasi ini bisa disalahgunakan oknum.

Ia mendesak Kementerian Kesehatan untuk segera mengeluarkan keputusan mengenai aturan penggunaan kedelapan jenis NPS tersebut. "Kalau bisa dalam waktu misalnya tangkapan NPS yang baru itu sebelum 6 hari, sudah ada keputusan Menteri Kesehatan. Sehingga bisa kita jerat para pelaku pelaku pengguna atau pengedar narkoba ini," tandasnya.

Menurut perkiraan pengganti Budi Waseso ini, bukan tak mungkin jenis narkoba terus bertambah. Pasalnya, produsen narkoba juga mengembangkan produk sesuai permintaan pasar.

Apalagi, Heru menambahkan, peredaran narkotika jenis baru tersebut sifatnya tidak hanya perorangan. Pihaknya sudah menemukan adanya jaringan nasional dan internasional.

Deputi Penindakan dan Pemberantasan BNN, Irjen Pol Arman Depari mengungkap, narkoba jenis baru ini terdeteksi masuk ke tanah air sejak 2014. Wujudnya beragam, baik padat maupun cair.

Dua jenis yang penangkapannya terekam media adalah pil Diamond, dan ekstasi pink berlogo mahkota.

Februari 2019, Ditresnarkoba Polda Metro Jaya menyita 9 ribu butir pil Diamond atau pil MXE. Asalnya dari Malaysia.

Pil ini tidak mengandung zat metilenedioksi-metamfetamina (MDMA) atau methamphetamine. Pil cokelat muda tersebut mengandung tiga zat, methoxetamine atau MXE, kafein, dan ketamin.

"Efek jangka pendek penggunanya adalah bahagia dan euphoria, meningkatkan empati, perasaan damai dan tenang, halusinasi dan rasa daya tahan tubuh," jelas Anggota Puslabfor Polri, AKBP Jaswanto

Rabu (26/6), Polsek Kalideres, Jakarta Barat mengungkap tangkapan 19 ribu butir pil ekstasi jenis baru. "Menurut keterangan Lab Forensik bahwa terdapat zat baru tidak hanya mengandung afetamin tapi mengandung jenis XLR yang mana menimbulkan tingkat halusinasi yang lebih tinggi," ujar Kapolsek Kalideres, Jakarta Barat, AKP Indra Maulana Saputra, di Polres Metro Jakarta Barat, Rabu (26/6).

Kejahatan Penyalahgunaan dan Peredaran Narkoba adalah peristiwa yang mendapat perhatian khusus karena merebak di sejumlah desa atau kelurahan di seluruh provinsi di Indonesia. Persentase kisaran kejahatan ini mencapai 0,27 hingga 37,73 persen.

Provinsi dengan peristiwa kejahatan penyalahgunaan dan peredaran narkoba terbesar ada di Sumatera Barat yakni 37.73 persen. Kemudian disusul oleh provinsi Riau yakni 36,43 persen, dan DKI Jakarta yang mencapai 34,46 persen.

Heru pernah mengungkap data prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia. Pada 2017 angkanya sebesar 1,77 persen atau 3.7346.115 orang.

Sedangkan pada 2018, di kalangan pelajar dari 13 propinsi, prevalensinya mencapai angka 3,2 persen atau setara 2.297.492 orang. Dari kalangan pekerja sebesar 2,1 persen atau sekitar 1.514.037 orang.

Sepanjang 2018, BNN dan Polri mengungkap 40.553 kasus. Melibatkan 53,251 tersangka. Barang bukti yang disita termasuk 41,3 ton ganja, 8,2 ton shabu, dan 1,55 juta butir ekstasi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR